Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Kuliner Purworejo Sop Pak Giyo Kondang Roso: Ada sejak 1981, Tetap Pakai Daging Sapi

Jihan Aron Vahera • Jumat, 1 Desember 2023 - 20:01 WIB

LARIS: Suasana warung Sop Pak Giyo Kondang Roso di Jalan Urip Sumoharjo Gang Brengkelan, Kelurahan Purworejo, Kecamatan/Kabupaten Purworejo. (JIHAN ARON VAHERA/RADAR JOGJA)
LARIS: Suasana warung Sop Pak Giyo Kondang Roso di Jalan Urip Sumoharjo Gang Brengkelan, Kelurahan Purworejo, Kecamatan/Kabupaten Purworejo. (JIHAN ARON VAHERA/RADAR JOGJA)

 

PURWOREJO - Sop Pak Giyo Kondang Roso terkenal lezat. Apalagi, disantap saat turun hujan seperti yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.


Warung yang dimiliki oleh Amat Wagiyo ini punya kekhasan sendiri. Salah satunya adalah kuahnya bening dan gurih.

Dalam sop terdapat sejumlah baga. Ada bihun, wortel, kubis, tomat, daun bawang, dan seledri. Tak ketinggalan, taburan bawang goreng.


Ada pula tambahan pelengkapnya. Ada gorengan seperti tempe, perkedel, dan bakwan.

Baca Juga: Sepanjang 2023 Ada 217 Kasus Kekerasan, DP3AP2KB Kota Jogja: Korbannya Mayoritas Perempuan

Sop Pak Giyo Kondang Roso terletak di Jalan Urip Sumoharjo, Gang Brengkelan, Kelurahan Purworejo, Kecamatan/Kabupaten Purworejo. Warung tersebut buka setiap hari dari pukul 08.00 sampai sekitar 21.00.

 

"Yang jadi pembeda, kuah sop saya bening. Kalau yang lain, tidak (bening)," kata Giyo, sapaan akrab Wagiyo.

 

Lelaki kelahiran 1954 itu mengaku membuka warung sop tersebut sejak 1981.

Baca Juga: Pemprov DIY Beri Penghargaan 27 Atlet yang Mengukir Prestasi SEA GAMES ke-31, ASEAN Paralympic Games ke-9 dan PON ke-25 


"Dulu harganya Rp 150 per porsi. Apa-apa dulu masih murah. Kalau sekarang, per porsi Rp 15 ribu. Kalau dipisah Rp 23 ribu," katanya Rabu (29/11) malam.

 

Rupanya, dari awal berdiri hingga saat ini, Giyo konsisten menjual sop daging sapi. Menurutnya, itu sudah menjadi pilihan dan sudah melekat di hatinya.


Termasuk, konsisten terhadap rasa sop yang membuat pelanggannya ingin datang lagi.

 

"Tidak ada bedanya dulu sama sekarang. Bedanya cuma perkembangan zaman. Perekonomian berubah," ungkapnya.

Baca Juga: Tidak Punya STTP, Bubarkan Kampanye

Dia menjelaskan, dalam berusaha tentu mengalami pasang surut. Utamanya, saat pandemi Covid-19 lalu.

 

"Dulu penghasilan per hari bisa Rp 5 juta sampai Rp 6 juta. Sekarang paling Rp 700 ribu sampai Rp 800 ribu per hari," imbuh dia.

 

Kini, dia juga memiliki cabang yang dikelola oleh anaknya. Lokasinya berada di Jalan Juanda, Tegalsari, Kecamatan/Kabupaten Purworejo. Menunya sama. (han)

 

 

 
Editor : Amin Surachmad
#purworejo #sop