RADAR JOGJA – Indonesia Kita Bersama Bakti Budaya Djarum Foundation menampilkan pertunjukan yang ke-41dengan membawakan tema mengenai perebutan kekuasaan antara dua pihak yang sebelumnya bersahabat.
Pertunjukan tersebut bertajuk yaitu Musuh Bebuyutan. Digelar di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki.
Musuh Bebuyutan mengisahkan hubungan seorang pemuda dan seorang perempuan yang bertetangga dan berteman baik.
Namun, sebuah peristiwa menjadikan keduanya berseteru dan berbeda pilihan politik.
"Permusuhan keduanya merembet ke mana-mana, membuat situasi kampung menjadi penuh kasak kusuk,” jelas Agus Noor selaku penulis dan Direktur Artistik Indonesia Kita, dalam siaran pers yang diterima JawaPos.com, Minggu (3/12/2023).
Ia juga menjelaskan, dalam perseteruan tersebut terbentuk dua kubu yang mendukung si pemuda dan si perempuan.
Ini membuat situasi semakin memanas ketika lurah lama akan habis masa jabatannya. Pemilihan lurah baru akan dilangsungkan.
Agus menyampaikan, penampilan tersebut terinspirasi pada kesenian lenong yang menaburkan unsur kejenakaan dan kehebohan.
Peristiwa yang perseteruan dikemas dengan gaya humor dengan sindiran isu-isu politik yang dikemas secara apik.
Lenong adalah seni pemanggungan yang akrab. Di pertunjukan-pertunjukan lenong tradisional, para penonton bahkan bisa memberikan komentar dan berkomunikasi langsung dengan para pemain.
Celetukan-celetukan spontan antara pemain dan penonton yang terjadi di pementasan lenong inilah yang membuat seni lenong bisa dikatakan sangat demokratis.
"Inilah yang ingin kita tampilkan di pertunjukan ini. Judulnya memang terkesan tegang ya, musuh bebuyutan. Namun, inilah inti pertunjukan kali ini. Kami berharap, perbedaan pendapat itu tidak harus dijadikan permusuhan,” kata Agus Noor.
"Jadi, pertunjukan ini bisa dikatakan persiapan dan upaya mengingatkan penonton Indonesia Kita, supaya perbedaan pilihan yang akan terjadi di tahun depan nanti, harus tetap dijalani dengan situasi santai, seru, guyon, dan jangan terlalu serius,” ujarnya.
Butet Kartaredjasa sependapat dengan Agus Noor. Ia berharap melalui pertunjukan seni, masyarakat Indonesia dapat dengan santai menghadapi tahun politik ini.
Negara ini, menuturnya, tak ubahnya perkampungan dalam pertunjukan lenong. Ada yang tampil di atas panggung, menyajikan sandiwara, dan penonton bisa mengomentari penampilan mereka.
Namun seperti biasa, apapun komentar penonton, para pemain terus melanjutkan peran-perannya.
"Saya berharap pertunjukan Indonesia Kita kali ini, bisa mengingatkan masyarakat bahwa proses demokrasi kita seperti pertunjukan lenong. Publik bisa memberikan pendapat, namun tetap saja para actor di atas panggung akan mengikuti jalannya scenario. Untuk itu, kita tidak perlu sampai harus berseteru, bermusuhan, dan saling benci bahkan dengan saudara sendiri hanya karena perbedaan politik,” jelas Butet Kartaredjasa.
Editor : Amin Surachmad