Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Bukan Sekadar Catatan Kronologis... Diluncurkan, Dua Buku Persembahan 80 Tahun Sri Sultan HB X

Winda Atika Ira Puspita • Sabtu, 16 Desember 2023 | 18:50 WIB

 

DUA BUKU SEKALIGUS: Sekda Provinsi DIJ Beny Suharsono menyerahkan dua buku bertajuk Mendengar Suara Merawat Semesta dan Berdaulat untuk Kesejahteraan Rakyat kepada Sri Sultan HB X.
DUA BUKU SEKALIGUS: Sekda Provinsi DIJ Beny Suharsono menyerahkan dua buku bertajuk Mendengar Suara Merawat Semesta dan Berdaulat untuk Kesejahteraan Rakyat kepada Sri Sultan HB X.

RADAR MALIOBORO - Pemprov DIJ meluncurkan dua buku "Bunga Rampai Aspirasi 80 Tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X" di Pagelaran Keraton Jogja, tadi malam (15/12).  Peluncuran ini untuk memperingati 80 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam penanggalan Jawa.  

Dua buku tersebut bertajuk "Mendengar Suara Merawat Semesta dan Berdaulat untuk Kesejahteraan Rakyat. Kedua buku itu masing-masing berisi testimoni para tokoh tentang kepemimpinan Sultan HB X dan juga tema lainnya.  

Gubernur DIJ HB X mengatakan, buku ini bukan sekadar catatan kronologis dari peristiwa-peristiwa dalam hidup dirinya. Melainkan sebuah warisan budaya, sebuah bunga rampai yang merefleksikan nilai-nilai, pengalaman hidup, dan pengabdian. 

Kedua buku ini juga menggambarkan ekspresi masyarakat, selayaknya opini dan pendapat yang terpancar dari pemikiran para narasumber. "Sengaja saya tidak melimitasi opini dan ekspresi itu, karena seperti yang dikatakan oleh Carl Sagan, buku adalah jendela dunia. Sehingga tak bijak rasanya, apabila saya membatasi berbagai pemikiran, karena sama saja dengan menghalangi sinar matahari menghidupi semesta dan bumi," katanya dalam sambutan di sela peluncuran. 

Raja Keraton itu memilih buku sebagai monumen kehidupan yang telah mencapai usia delapan dasawarsa, karena buku memiliki kekuatan untuk melewati batas ruang dan waktu. Bahkan, Ngarsa Dalem itu memandang buku sebagai pilar kebijaksanaan dan pengetahuan yang lebih berdaya, dibandingkan dengan candi atau arca. 

Sebab, dalam hitungan detik, buku dapat membuka portal pemikiran, jendela pengetahuan, dan memperluas wawasan tanpa harus berkelana ke sebuah tempat yang jauh di sana," ujarnya. 

HB X menilai sangat menarik untuk mencermati berbagai opini narasumber dalam kedua buku ini. Tema kepemimpinan misalnya, baginya pribadi sejatinya cukup sederhana saja yakni keberpihakan kepada rakyatlah yang menjadi kuncinya, sebagai sebuah panggilan sosial dan tanggung jawab moral. 

"Dalam dualitas peran saya, sebagai pemimpin institusi budaya, dan pemimpin entitas pemerintahan saya harus membentuk jati diri untuk tumbuh dan mengembangkan wawasan, dengan keberpihakan sebagai suatu kewajiban yang harus dilakukan," jelasnya. 

Tak lain dan tak bukan, hal itu agar kawula dan masyarakat juga mengetahui setiap gerak langkahnya, di mana rakyat memperoleh kesempatan untuk melihat benar atau tidak, mampu atau tidak, sependapat atau tidak, dan sebagainya atas semua tindakannya. 

Dalam hal ini, HB X mengambil contoh dinamika Reformasi 1998 bagaimana peran Jogjakarta dalam reformasi itu. Ketika gelombang demonstrasi mahasiswa semakin membesar, maka HB X  menegaskan sikap. "Saya siap turun ke jalan, karena Jogja harus menjadi pelopor gerakan reformasi secara damai, tanpa kekerasan. Apa yang saya lakukan itu, sejatinya merupakan sebuah rangkaian laku kultural, yang pada akhirnya mencapai puncaknya, melalui Pisowanan Ageng sebagai follow up atas Aksi Reformasi Damai," terangnya. 

Sekprov DIJ Beny Suharsono mengatakan, buku ini merefleksikan berbagai testimoni tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, budayawan, hingga masyarakat awam. Testimoni tersebut dibingkai dalam beberapa tema, baik yang menekankan peran Ngarsa Dalem sebagai raja Jogjakarta, maupun peran beliau selaku gubernur DIJ. 

Setiap halamannya menggambarkan berbagai episode perjalanan, bagaimana Sultan Hamengku Buwono X memimpin dan membangun Jogjakarta.  "Harapan kami, buku ini menjadi diorama kehidupan sosok Sultan Hamengku Buwono X dengan segala kontribusinya. Tak hanya untuk Jogjakarta, tetapi juga untuk Republik Indonesia," katanya. 

Perwakilan editor Bambang Sigap Sumantri mengatakan, buku ini merupakan kumpulan esai atau makalah. Juga kumpulan cerita pribadi tokoh nasional dan internasional dari berbagai latar belakang akademisi, budaya, dan sosial sebagai dedikasi kepada Sultan HB X.  

Ada 8 tema yang dipilih dalam bukunya yaitu Kepemimpinan Sri Sultan, Suksesi dan Keraton, Keistimewaan Jogjakarta dan Pemerintahan Provinsi di Indonesia, Global dan Pluralisme, Tradisi Budaya dan Lingkungan hidup, Sri Sultan dalam Reformasi Tahun 1998, Ekonomi Kreatif DIJ, dan terakhir adalah Perempuan dan Keadilan Gender.  

Tulisan-tulisan yang terkumpul ini adalah bentuk perayaan dari momen istimewa ulang tahun Sultan HB X ke-80 dalam hitungan Jawa. Sultan lahir 2 April 1946 Masehi. Sedangkan nomor dasa windu Sultan berasal dari perhitungan kalender Jawa 1877 yang apabila dikonversi pada tahun ini menunjukan 1957.   

Buku ini diberi kata pengantar oleh Presiden Joko Widodo, sambutan pembuka buku oleh Sultan HB X dan ditutup dengan karangan dari Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Prof Mahfud MD. 

Perayaan ini dihitung berdasarkan kalender Jawa, bukan tanpa alasan. Sultan bukan hanya sekadar menjadi pemerhati kepentingan budaya, tetapi juga seorang pelaku dan pejuang budaya budaya itu sendiri. Hal itu menjadi tolak ukur untuk Sultan melaksanakan perjuangan budaya Jawa.  

"Jokowi memberi kata pengantar yang berisi perhatian dan apresiasi kepada Sultan dan Keraton Jogja. Bersama dengan tokoh-tokoh lain Sultan berperan penting dan aktif dalam mendorong reformasi politik tahun 1998," katanya. 

Di era demokrasi dan globalisasi Sultan bersama Keraton Jogja berkontribusi besar memprtahankan dan mengembangkan filosofi serta nilai-nilai budaya asli Indonesia.  Jogjakarta mampu menjadi kota budaya yang semakin dikenal luas secara nasional dan internasional.  (wia/laz)

 

 

Editor : Satria Pradika
#pemprov dij #sri sultan hamengku buwono