Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Desa Hulosobo Miliki Potensi Durian Basarvit dan Kambing Etawa

Jihan Aron Vahera • Minggu, 17 Desember 2023 | 15:00 WIB
Kades Hulosobo Bangun Tri Utomo tengah menikmati durian hasil dari petani Desa Hulosobo, Jumat (15/12). 
Kades Hulosobo Bangun Tri Utomo tengah menikmati durian hasil dari petani Desa Hulosobo, Jumat (15/12). 

RADAR MALIOBORO - Kabupaten Purworejo tengah memasuki musim durian. Banyak wilayah penghasil durian di kabupaten berirama itu, salah satunya Desa Hulosobo, Kecamatan Kaligesing, Purworejo.

Kades Hulosobo Bangun Tri Utomo menyampaikan, desanya memiliki banyak potensi. Namun, potensi yang paling menonjol yaitu buah durian dan kambing etawa. "Durian di sini sebenarnya kualitasnya bagus, tapi masih kalah terkenal dari Desa Somongari, Kaligono, dan Kaliharjo," ungkapnya Jumat (15/12).

Untuk itu, dia tengah berupaya agar durian di Desa Hulosobo dapat dikenal masyarakat luas menjadi durian khas Hulosobo. Yaitu, dengan cara mensertifikatkan durian. "Saat ini tengah diproses di Balai Proteksi Tanaman Pertanian (BPTP)," kata dia.

Durian-durian yang akan disertifikatkan telah dipantau oleh BPTP. Bangun berharap, setelah disertifikatkan, durian Desa Hulosobo bisa menjadi indukan semua durian khususnya di Kabupaten Purworejo. Salah satu jenis durian khas Desa Hulosobo dan sedang diproses sertifikatnya yaitu durian basarvit.

Dia mencirikan, durian basarvit memiliki daging yang tebal. Kulitnya juga tebal, awet dan tidak mudah pecah. "Selain itu, juga ada durian timbul. Ciri-cirinya, juringnya ada enam," katanya.

Diungkapkan, setiap musim panen, para petani di Desa Hulosobo bisa panen ribuan buah durian lokal. Petani-petani durian banyak diserbu pembeli. Bukan hanya pedagang yang akan kulakkan saja, melainkan juga pembeli yang datang langsung dari luar kota seperti Magelang, Jogja, hingga Tegal. "Kalau mau beli durian bisa langsung ke petani saja," pesannya.

Selain durian, Desa Hulosobo juga kaya akan kambing etawa. Diceritakan, pada 1926 lalu, pemerintah Hindia Belanda membawa kambing India pejantan dibawa ke Hulosobo. Setelah itu, dikawinkan dengan kambing lokal sehingga jadilah etawa.

Saat ini sudah banyak warga di Desa Hulosobo yang beternak kambing. Karena kualitas bagus, kambing-kambing Hulosobo dibeli dengan harga lebih mahal. "Rekor paling mahal milik Mbah Basar harganya sampai Rp 25 juta satu ekor," sebutnya.

Mereka beternak kambing bukan untuk diproduksi susunya, melainkan hanya untuk breeding. Sekarang setiap pedukuhan, kata Bangun, diberikan pejantan kualitas bagus untuk perbaikan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Hulosobo. Dari situ akhirnya membuahkan hasil yang sangat signifikan sejak 2019. "Sebelumnya, para peternak banyak beli pejantan sendiri sehingga kualitasnya belum tentu terjamin," imbuh dia.

Salah satu warga Desa Hulosobo pemilik durian basarvit yang juga peternak kambing yaitu Basar, 78. Menurutnya, kambing menjadi penopang ekonominya. Bahkan, dia bisa menyekolahkan anak dan menghidupi keluarga salah satunya dari hasil beternak kambing.

Di samping itu, dia memiliki penghasilan tambahan lain kala musim durian. Karena, dia memiliki banyak pohon durian. Disebutkan, ada satu pohon yang menurutnya memiliki cita rasa enak. "Setiap berbuah ada 50-an butir durian," ungkapnya.

Buah durian dari pohon tersebut biasanya tebal dan rasanya manis pahit. Warna buahnya cenderung ke hijau. "Bakul suka datang ke sini, kulakkan dari tempat saya," ujar warga Dusun Ngentak RT 1/RW 1, Desa Hulosobo, Kaligesing itu. (han/pra)

Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Satria Pradika
#Hulosobo #durian #Kambing Etawa