RADAR MALIOBORO - Buruh gendong di Pasar Beringharjo jadi cerminan atau lambang perempuan-perempuan tangguh pejuang keluarga. Apa jadinya jika buruh gendong yang biasanya memikul sayur atau barang milik pembeli pasar, berlenggak-lenggok dalam fashion show?
Pasar Beringharjo sisi timur lebih ramai pada Rabu (20/12) pagi. Pasalnya sekitar 30 perempuan buruh gendong dilibatkan dalam fashion show dan pentas angklung. Untuk memperingati Hari Ibu. Sejak pagi mereka tetap pakai kebaya, tapi lebih rapi dan didandani dengan make up.
Salah satunya adalah Suyatni. Sudah menjadi buruh gendong di Pasar Beringharjo sejak 1988 hingga saat ini. Ia memaknai peringatan hari ibu tersebut dengan mengajak untuk selalu mengingat jasa ibu yang sangat berharga untuk anak dan keluarganya.
"Saya sehari-hari jadi buruh gendong di pasar Beringharjo untuk mencari nafkah dari 1988 hingga sekarang," tuturnya di sela acara.
Baca Juga: Sering Dipertanyakan! Tidak Boleh Keramas Saat Menstruasi Mitos atau Fakta?
Dalam gelaran acara tersebut semua ibu-ibu yang terlibat akan memakai kebaya yang dipadankan dengan kain batik. Untuk motif kain batiknya adalah 'Mbok Jum' yang terinspirasi dari Ibu Buruh Gendong.
"Kebaya dan kain itu identik dengan perempuan dan kelembutan, cinta dan ketulusan juga semangat yang besar," kata Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia Margaretha Tinuk Suhartini. "Mereka merupakan cerminan atau lambang dari perempuan-perempuan tangguh pejuang keluarga.”
Pilihan mengadakan fashion show, kata dia, karena melihat para ibu sudah jarang memakai kebaya.”Kami berencana mempromosikan kebaya itu melalui fashion show ini," tandasnya.
Margaretha menyampaikan, untuk persiapan hanya memanfaatkan waktu selama dua minggu. Untuk latihan angklung di pendopo komplek Kepatihan. Itupun tidak bisa lama karena buruh gendong harus tetap bekerja. “Jadi cukup susah untuk mengumpulkan ibu-ibu latihan karena terkendala waktu," ujarnya.
Penasihat Paguyuban Buruh Gendong Pasar Beringharjo, Suyatni menambahkan, ibu-ibu buruh gendong pada awalnya merasa minder. Karena belum pernah diajak untuk main angklung apalagi mementaskannya.
Baca Juga: Disdikpora DIY Imbau Siswa Jalankan Program KBS saat Libur Nataru
"Ya beginilah, buruh gendong itu kalau diajak kaya gitu kemungkinan pasti minder," tuturnya
Para perempuan buruh gendong tersebut mayoritas tidak bisa bermain angklung. Tapi setelah melakukan latihan beberapa kali akhirnya mereka mulai bisa. "Kami selalu disemangati, kami pun jadi semangat untuk latihan," ujarnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo