RADAR MALIOBORO - Berawal dari pembatasan aktivitas saat pandemi Covid-19, warga Kampung Tegalrejo menyibukkan diri dengan menanam pohon anggur. Kini keterusan hingga menjadi kampung tematik Tegal Anggur yang secara swadaya mampu memproduksi puluhan olahan makanan berbahan dasar dari pohon merambat ini.
"Nyoba-nyoba aja, awalnya memang tidak bagus hasilnya. Tapi karena telaten, sehingga di pertengahan 2019 sudah terlihat bagusnya," ungkap Ketua Asosiasi Tabulampot Kota Jogja Eka Yulianta saat ditemui di Kampung Tegalrejo, Jogja, kemarin (16/1).
Melihat hal itu, Eka yang juga penyuluh swadaya pertanian Kota Jogja ini lalu mengembangkan potensi kampung tersebut menjadi kampung tematik anggur. "Jadi tidak hanya dibudidayakan, tetapi juga sampai pada proses pengolahan dan pemasarannya," tuturnya.
Dari proses pengolahan dengan bahan dasar anggur itu, Kampung Tegal Anggur mampu menghasilkan berbagai macam produk olahan makanan. Dari buah hingga daun dan bijinya, bisa diolah menjadi makanan.
"Ada beberapa produk di antaranya dodol, sirup, bakso goreng, mi dan bakso basahnya. Kurang lebih ada 21 jenis turunan dari produk ini," bebernya.
Uniknya, biji anggur yang kecil itu jika dikumpulkan lalu di roasting bisa menjadi kopi biji anggur. Produk tersebut tidak banyak diproduksi karena beberapa kendala. "Tapi agak sulit karena kalau pas panen kurang bagus, otomatis bijinya juga tidak banyak," tandasnya.
Selain bijinya, daun pada pohon anggur bisa dibuat menjadi buntil daun anggur. Bakso goreng juga menggunakan daun anggur sebagai bahan tambahan pembuatannya.
"Banyak hal yang bisa diolah dari pohon anggur. Bahkan mi kering rasa anggur ini, kami sedang merancang kemasan instannya," ujarnya.
Pengembangan inovasi produk tersebut dinilai bisa meningkatkan nilai ekonominya. Kalau hanya mentok di tahap pembudidayaan, tidak akan ada nilai tambahnya.
"Jadi antara on farm dan off farm- ya itu biasanya yang paling banyak hasilnya di off farm. Bahkan kalau kita boleh mengedarkan wine,itu, kita juga bisa produksi wine," kelakarnya.
Anggota di Kampung Tegal Anggur belum banyak. Untuk bapak-bapak kurang lebih ada tujuh orang yang mengurusi dalam hal perawatan.
"Yang paling banyak itu ibu-ibu karena tugasnya di produk olahan. Kita sementara mengolah sembilan jenis produk olahan. Kalau satu produk itu ada dua orang, maka kurang lebih ada 18 ibu-ibu," jelasnya.
Jumlah pohon anggur yang ditanam di Kampung Tegalrejo sekitar 90 pohon. Ia menilai semakin tua pohon anggur maka semakin bagus asal pemupukan dan perawatannya baik.
"Jenis anggur yang kami tanam ada Nilnel, Trans, Diksen, Julian, Tamaki, Nadesda, Silver Rusia, Black Beauty, Basanti, dan masih banyak lagi. Kurang-lebih ada 40-50an jenis pohon anggur di sini," ujarnya.
Ketua Kelompok Tani Tegal Anggur Puji Waluyo menyampaikan, dalam perawatan tanaman anggur dibutuhkan usaha yang ekstra. Hal itu karena pohon anggur rentan terhadap hama dan kerusakan pada buah.
"Kami melakukan penyemprotan seminggu sekali untuk mencegah hama. Terutama jika tanaman tidak ada penutup plastik UV-nya," tuturnya.
Untuk obat penghilang hama itu, mereka memakai obat yang dijual di pasaran. Tetapi terkadang warga juga membuat obat penghilang hama secara mandiri dengan bahan yang ada di lingkungan sekitar.
"Kita kadang mengumpulkan puntung rokok atau tembakau untuk bahan semprot penghilang hama tanaman," bebernya.
Terdapat cara khusus dalam pemupukan. Hal itu tergantung kemauan petani, ingin memperbanyak buah atau memperbagus kualitas buah. "Untuk pupuk kita campur pupuk organik dan anorganik secara berdampingan," ujarnya.
Puji menyampaikan kurangnya perawatan dan pemupukan bisa dipastikan akan mengalami gagal panen. Antisipasi penyakit pada pohon anggur lebih baik dicegah daripada mengobati. (cr5/laz)
Editor : Satria Pradika