Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa 11 Maret, Haedar: Jika Ada Perbedaan, Sikapi secara Bijak dan Toleran

Fahmi Fahriza • Minggu, 21 Januari 2024 | 14:00 WIB
HISAP WUJUDUL HILAL: Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (kedua dari kiri) saat memberikan keterangan pers terkait penetapan Ramadan 1445 H di Kantor PP Muhammadiyah Jogja, kemarin (20/1).
HISAP WUJUDUL HILAL: Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (kedua dari kiri) saat memberikan keterangan pers terkait penetapan Ramadan 1445 H di Kantor PP Muhammadiyah Jogja, kemarin (20/1).

RADAR MALIOBORO - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah secara resmi telah menetapkan awal Ramadan 1445 Hijriah yang ditandai puasa pertama pada 11 Maret 2024. Penetapan diperoleh melalui hasil hisab hakiki wujudul hilal yang turut serta dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

"Dari hasil itu maka Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1445 jatuh pada hari Senin, 11 Maret 2024," tandas Sekretaris PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti dalam konferensi pers di kantor PP Muhammadiyah Jogja, kemarin (20/1).

Dengan penetapan itu, maka selanjutnya Idul Fitri 1 Syawal 1445 Hijriah disebutnya jatuh pada 10 April 2024. Dalam kesempatan itu selain maklumat penetapan awal Ramadan dan Syawal, PP Muhammadiyah juga menetapkan awal Dzulhijah 1445 H yang mana hal ini juga menetapkan Hari Raya Idul Adha 2024.

Sayuti menerangkan, untuk wilayah Indonesia tanggal 1 Dzulhijah 1445 H jatuh pada hari Sabtu Legi, 8 Juni 2024. Dari situ dapat disimpulkan Hari Arafah (9 Dzulhijah 1445 H) jatuh pada hari Ahad Wage atau 16 Juni 2024. "Sementara Idul Adha (10 Dzulhijah 1445 H) jatuh pada hari Senin, 17 Juni 2024," terangnya.

Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menuturkan, maklumat itu disampaikan sebagai panduan bagi umat muslim, terutama Muhamadiyah agar bisa melaksanakan ibadah puasa sebagaimana yang telah dimaklumatkan. "Kami sangat menghargai jika ada perbedaan metode hisab. Kita juga sudah terbiasa dengan perbedaan itu," lontarnya.

Lebih lanjut Haedar turut berpesan kepada seluruh kaum muslimin untuk bisa menyikapi perbedaan itu secara bijak dan toleran. Dikatakan, boleh jadi akan ada perbedaan awal mula puasa, misalnya di kelompok-kelompok kecil. Maka persamaan atau perbedaan itu harus menjadikan semua pihak terbiasa untuk toleran, termasuk dalam memulai bulan puasa.

"Ini akan memperkuat niat kita beribadah. Selama ada perbedaan dalam metode, maka selalu ada perbedaan dalam penentuan awal Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha," jelasnya.

Ia berharap perbedaan itu tidak perlu sampai ribut yang membuat nilai ibadah justru berkurang. Ia meyakini semuanya punya niatan baik untuk memperkaya relasi hubungan sosial yang damai dan membawa umat serta bangsa semakin berkemajuan.

"Ada persamaan atau perbedaan, tidak kalah pentingnya memaknai ibadah untuk mengamalkan keislaman yang lebih baik,"  tandas guru besar UMY ini. (iza/laz)

Editor : Satria Pradika
#1 ramadan #muhammadiyah