RADAR MALIOBORO - Ungkapan ‘sebelum janur melengkung' tidak asing di telinga orang dewasa. Janur melengkung identik dengan mantenan atau pernikahan. Ternyata janur bukan sekadar daun muda, tapi maknanya sangat dalam.
Pelestari budaya asal Jogjakarta Dani Mukti SH mengatakan, janur kuning atau daun kelapa muda adalah simbol-simbol. Begitu juga dengan blarak (daun kelapa kering).
"Dalam masyarakat Jawa keduanya (janur kuning dan blarak) hampir selalu dihadirkan dalam kegiatan upacara-upacara adat,” kata
Dani Mukti pada Jumat (19/1).
Owner Wedding Organizer Pengantin Production Jogjakarta ini menjelaskan, janur kuning menyimpan kekuatan doa yang sangat mendalam. “Janur kuning. Janur itu asal kata dari janah yang berarti surga. Sementara nur itu adalah cahaya. Jadi janur itu cahaya surga, petunjuk dari Allah SWT,” ujarnya.
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) ini melanjutkan, 'kuning' asal kata dari kun fayakun. Kun ketekunan juga bisa, ning itu wening atau keheningan.
"Keingingan itu adalah laku prihatin yang banyak dilakukan oleh masyarakat untuk mencapai sesuatu yang diharapkan. Dengan ketekunan itu kemudian atas izin Tuhan, kunfayakun (yang terjadi terjadilah)," bebernya.
Pemain FTV dan sinetron itu kembali menyampaikan, cahaya surga yang dimaksud adalah segala sesuatu yang diupayakan.
Janur dimaknai jannah atau surga dan nur, ini petunjuk Allah.
Kemudian menjadi rangkaian kata janur kuning itulah yang memaknai. Semua doa perlambang yang diterapkan, dihadirkan dalam upacara upacara adat.
Baik itu digunakan sebagai uba rampe langsung di perangkat sajen, ataupun sebagai simbol di kembar mayang. Mungkin umbul umbul dan sebagainya.
“Dipercaya juga dalam masyarakat Jawa, masyarakat dulu saat orang membuat segala aneka dekorasi janur diiringi dengan doa," ungkapnya.
Misalnya, dalam setiap dekoratif bentuk janur itu sendiri, ada bentuk menyerupai walang- walangan, pecut, ada manuk-manukan (burung) dan yang lain.
"Itu setiap bentuk juga memberikan makna. Jadi benar benar para sesepuh dulu waktu membuat itu juga sudah dengan doa" ucapnya.
Itu di situ juga ada lengkungan janur kuning.
Di dalam pernikahan itu sendiri juga ada uba rampe upacara adat yang lain berupa kembar mayang, juga terbuat dari janur.
Ada juga bentuk kembar mayang dengan bentuk sama tetapi dengan penyebutan yang berbeda. Namanya gagar mayang. Bentuknya sama tapi digunakan untuk tetenger atau penanda saat seorang gadis atau perjaka, belum menikah meninggal dunia.
“Kalau kembar mayang digunakan pada saat pernikahan gadis dan perjaka. Lalu kembang mayang, itu pernikahan antara gadis dan duda," terangnya.
Di kembar mayang itulah terdapat banyak bentuk lipatan janur yang memaknai berbagai doa. "Tadi saya sebutkan ada bentuk manuk-manukan dimaknai hidup berdampingan. Walang-walangan perlambang semoga dijauhkan dari segala halangan, ada pecut lebih kepada simbol semangat," ungkapnya.
Lalu janur berbentuk payung, itu lebih kepada bentuk pengayoman sehingga surganya rumah tangga adalah keluarga. “Tadi saya sampaikan bahwa para pendahulu ketika membuat hiasan-hiasan janur, itu sudah dengan ritual doa," tambahnya.
Bahkan dalam simpul-simpul janur itu sendiri ada berbagai macam. Ada simpul janur bentuk tali wangsul. Artinya untuk menyadarkan kita bahwa hidup akan kembali kepada sang pencipta. "Kemudian simpul janur tali pati yakni berakhir pada kematian," ungkapnya.
Selanjutnya ada tali roso dan roso tali. Bentuk simpul janur lainnya tali rantai, menjadi simbol antara suami istri harus saling melengkapi.
Bentuk keris dimaknai sifat kandel atau hal yang bisa menahan marabahaya.
“Nah semua uba rampe ini bagi pengantin adalah perlambang doa dan harapan. Kalau pengantin tereduksi dengan simbol-simbol di antaranya janur ini, akan paham dan bisa memaknai sehingga kehadiran janur tidak hanya terlihat di mata namun masuk ke relung hati,” tegasnya. (gun/laz)
Berawal 1365 saat Ki Ageng
Jadikan Mantu Joko Tarub
Dalam budaya masyarakat Jawa, ketika acara atau resepsi pernikahan penggunaan janur sangat identik alias tidak dapat dipisahkan. Baik janur yang digunakan pada manten atau yang ditujukan untuk kembar mayang dan lain sebagainya. Itu sudah seperti kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun dari dulu hingga sekarang. Layaknya warisan nenek moyang yang terus dilestarikan menembus berbagai lintasan zaman. Penggunaan janur dalam pernikahan adat Jawa masih eksis hingga abad ini.
Pengamat budaya Jawa Prof Dr Suwarna Dwijonagoro M.Pd membeberkan, penggunaan janur manten di DIJ dalam resepsi pernikahan sampai kini masih bertahan, karena menurut sejarah DIJ adalah trah Mataram. Menurutnya, dilihat dari sejarahnya penggunaan janur dimulai ketika Ki Ageng Tarub menjadikan mantu Joko Tarub dari Dusun Tarub.
Ki Ageng Tarub itu putra Syekh Maulana Maghribi yang merupakan sahabat Kanjeng Sunan Kalijaga. Oleh karena itu, ketika mantu meminta Sunan Kalijaga membuatkan tarub. "Nah, tarub itu antara lain menggunakan janur. Janur adalah daun kelapa yang masih muda berwarna kuning. Dan setelah itu sampai sekarang," bebernya Jumat (19/1).
Dia mengungkapkan, walaupun tarub berada di sekitar tahun 1365 tetapi sampai sekarang masih ada. Artinya, janur tetap eksis selama kurang lebih 600 tahun. Suwarna menuturkan, karena memiliki makna simbolik kearifan lokal, sehingga sampai kini masih dipelihara dan dilaksanakan di upacara pengantin, khususnya daerah-daerah DIJ.
Menurutnya, itu terjadi karena dari Ki Ageng Tarub diteruskan turun-temurun hingga ke masa Kerajaan Mataram Islam yang menjadi cikal bakal DIJ. Upacara pengantin yang bermula menggunakan janur lestari sampai sekarang baik di desa maupun di kota. "Bahkan sekarang di tempat-tempat resepsi pernikahan di gedung di hotel, restoran, auditorium, atau balai desa menggunakan janur sebagai salah satu unsur dekorasi dan properti," tambahnya.
Dikatakan, orang Jawa itu penuh dengan simbol. Oleh karena itu orang Jawa ketika belum ada tradisi tulis seperti sekarang semua cita-citanya dilambangkan dalam bentuk barang. Simbolisme kebudayaan atau semantik kultural satu di antaranya terletak pada janur. Semantik kultural maksudnya makna semantik yang bermuatan budaya. Dalam hal ini bisa diambil dari bentuk dan dari katanya.
Suwarna menuturkan, kalau dari katanya, jan itu berarti sesungguhnya atau sejatinya. Sedangkan nur artinya cahaya. "Cahaya yang sejati itu cahaya yang muncul dari Allah SWT atau dari Tuhan. Artinya pencerahan yang sesungguhnya yang hakiki itu adalah dari Tuhan yang maha kuasa," tuturnya.
Sedangkan dari segi bentuk visual janur itu warnanya kuning yang melambangkan kejayaaan atau kemenangan. Menurutnya, itulah sebabnya ketika Serangan Oemoem (SO) 1 Maret di Jogja Presiden Soeharto dan bala tentaranya mengenakan kalung janur kuning.
Suwarna mengakui, pergeseran penggunaan janur pada manten sekarang memang terjadi, tetapi tidak begitu frontal dan revolutif. Dia mencontohkan, dahulu janur digunakan untuk dekorasi di pelaminan, pajegan, ornamen-ornamen. Tetapi sekarang dekorasi sudah berkembang menjadi lebih modern.
Dekorasi modern lebih didominasi oleh bunga-bunga. Tetapi, fungsi janur masih tetap ada seperti untuk kembar mayang, pasang bleketepe di rumah atau penjor untuk di rumah. "Pergeseran-pergeseran itu karena adanya pengaruh perkembangan format bentuk upacara pengantin," tuturnya.
Penggunaan janur yang berkurang sekarang bisa terjadi karena adanya model pernikahan nasional ataupun internasional. Namun yang sifatnya tradisional masih jelas dipakai janur dalam resepsi pernikahan.
Kalau di gedung bisa saja mereduksi janur dalam dekorasinya atau terjadi pengurangan penggunaan janur. Upacara pernikahan di rumah seperti pembuatan kembar mayang pajegan dan lain sebagainya, pasti akan menggunakan janur untuk mendukungnya.
Suwarna mengungkapkan wedding organizer (WO) akan memberikan pemberitahuan kepada yang menggelar resepsi pernikahan dalam hal upacara yang lengkap versi Jawa. Menurutnya, peran WO sangat besar dalam penggunaan budaya Jawa yang akhirnya banyak menggunakan janur.
Tetapi, ada juga WO yang internasional atau nasional dan tentunya lebih mengesampingkan rentetan upacara pernikahan adat Jawa. "Kalau dekorasinya Jawa, janur tetap berperan walaupun tidak maksimal. Tetapi kalau dekorasinya modern, nasional atau internasional, tentu hampir tidak akan menggunakan janur," ungkapnya. Menurutnya, penggunaan janur dalam pernikahan sangat tergantung dari jenis upacara yang digunakan. (rul/laz)
Tidak Seramai Dulu, Perajin pun Berkurang
Dulunya kerajinan janur menjadi salah satu hiasan wajib untuk upacara pernikahan adat Jawa. Namun kini permintaannya sudah berkurang. Itu seiring berkembangnya tren upacara pernikahan dengan konsep modern.
Salah satu perajin janur di Banyurejo, Tempel, Susilo Joko Pramono mengatakan, modernisasi menjadi salah satu hal yang membuat dekorasi janur manten ditinggalkan. Sebab, mayoritas konsep pernikahan modern tidak menonjolkan janur untuk dekorasinya.
Dia mengaku permintaan janur manten untuk saat ini pun juga tidak terlalu banyak. Bahkan tidak pasti ada masyarakat yang memesan. Kalaupun ada, mungkin hanya satu dua orang saja yang pernikahannya masih menggunakan upacara adat Jawa.
"Untuk sekarang WO (wedding organizer) itu sudah inovatif. Sehingga yang pakai pakem adat Jawa itu sudah mulai jarang," ujar Susilo kepada Radar Jogja Jumat (19/1).
Selain dikarenakan modernisasi, dia menyebut, kalau penggunaan janur untuk dekorasi pernikahan juga mulai hilang karena susahnya regenerasi perajin. Sebagaimana diketahui, dalam pembuatan janur pernikahan untuk penjor dan bleketepe memang dibutuhkan keahlian khusus.
Susilo mengungkap, perajin janur yang dia ketahui pun sekarang mayoritas sudah berusia tua atau sepuh-sepuh. Bahkan dirinya sendiri juga mulai meninggalkan profesi pembuatan janur untuk acara pernikahan.
"Sekarang saya lebih membuat janur untuk dekorasi kegiatan, pameran, dan sebagainya. Selain itu juga mengajarkan anak-anak untuk membuat kerajinan janur," terang pria 40 tahunan ini. (inu/laz)
Editor : Satria Pradika