Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Pengamat Sebut Perwakilan Bank Dunia Campuri Politik Indonesia

Marsa Andiny Putri • Jumat, 1 Maret 2024 | 20:48 WIB
Dosen Komunikasi Universitas Binus Putro Mas Gunawan.
Dosen Komunikasi Universitas Binus Putro Mas Gunawan.

RADAR MALIOBORO - Dosen Komunikasi Universitas Binus Putro Mas Gunawan menilai pernyataan Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Satu Kahkonen terkait program makan siang dan susu gratis, telah menyalahi tupoksi. Putro memandang ucapan Satu yang tiba-tiba mengomentari rencana program pasangan Prabowo-Gibran adalah bentuk cewe-cawe pada isu domestik Indonesia.

Baca Juga: Wahana Alam Parung Destinasi Wisata Pergerakan Ekonomi Masyarakat

“Dalam konteks tersebut, perkataan Satu bisa kita maknai secara politis, khususnya dari posisi Satu sebagai perwakilan Bank Dunia. Maka fakta-fakta yang perlu dikomentari mengenai hal tersebut masih tetap dalam kerangka politik dalam negeri Indonesia. “Sebenarnya program ini masih sebatas program kampanye salah satu calon yang masih maju pada pemilu 2024,” tulis Putro, Kamis (29/2) dalam keterangannya.

Baca Juga: Pemkab Gunungkidul Raih Piagam Penghargaan Atas Pelayanan Publik yang Berkualitas

Meski unggul mutlak dalam penghitungan sementara, namun menurut Putro, KPU belum secara resmi menetapkan pasangan calon sebagai pemenang. Ia juga menanyakan mengapa perwakilan Bank Dunia ikut campur dalam masalah politik.

Baca Juga: Berburu Kuliner Ekstrem Kaya Protein? Belalang Goreng Ini Wajib Kamu Coba Bisa Jadi Oleh-oleh Khas Gunungkidul Yogyakarta

”Ucapan Satu jelas keluar dari batasan tupoksinya sebagai wakil Bank dunia. Mengomentari program kampanye salah satu capres yang secara resmi masih berkontestasi, adalah sebuah bentuk arogansi. Satu secara gegabah telah mencampuri urusan politik di Indonesia," ujar Putro Mas Gunawan.

Baca Juga: Airlangga Hartarto Menggelar Simulasi Makan Siang Gratis Program Prabowo Gibran di Tanggerang

Menurut dosen yang mengajar di STAN itu, ucapan Satu mencerminkan arogansi yang kerap ditunjukkan Barat terhadap negara berkembang. Ia kemudian mengutip artikel Profesor Jason Hickel dari Institut Ilmu dan Teknologi Lingkungan (ICTA-UAB). Dalam artikelnya, Hickel menjelaskan paradoks institusi perbankan dunia.

Baca Juga: Resep Cumi Sambal Mercon yang Nagih dan Enak

Lembaga yang disebutkan Putro justru menjadi hegemoni negara-negara Barat seperti Amerika dan Eropa. Putro mencontohkan, Amerika Serikat berhak memveto setiap keputusan besar bank-bank dunia. Sebaliknya, negara-negara Eropa mempunyai setengah suara dari bank-bank dunia. Sebaliknya, sebagian besar negara berkembang, yang mencakup 85 persen populasi dunia, hanya mempunyai suara minoritas.

”Jelas fakta ini merupakan sebuah lelucon bagi dunia yang katanya semakin inklusif. Meski bank dunia kerap menunjuk pejabatnya dari negara dunia ketiga, macam Sri Mulyani dari Indonesia, hal itu tak sekadar kamuflase atau proxy atas kepentingan belaka. Sebab secara prinsip, bank dunia dibangun atas fondasi yang semakin melahirkan ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi di dunia,” papar Putro Mas Gunawan.

Walhasil, lanjut Putro, suara dari bank dunia tak selamanya mencerminkan kepentingan bersama. Ucapan bank dunia lebih sering menjadi representasi kepentingan barat, utamanya Amerika dan Eropa. Prinsip itu yang menurut Putro bisa jadi dilekatkan pada konteks ucapan Satu Kahkonen soal program makan siang dan susu gratis.

”Agaknya bank dunia dan pemerintah Indonesia mesti bersikap tegas pada tindakan Satu Kahkonen. Kesalahan fatal Satu mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia mesti dikompensasi dengan ditariknya sang perwakilan bank dunia itu dari Indonesia,” ucap Putro Mas Gunawan. {}

Editor : Iwa Ikhwanudin
#politik #timor leste