RADAR MALIOBORO – Kabar gembira, harga beras di Bali dikabarkan sudah mulai mengalami penurunan.
Kabar baiknya, harga beras di Bali dikabarkan mulai turun. Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra mengakui membanjirnya beras impor disebabkan permasalahan beras yang terus menurun akibat lambatnya panen.
Hal tersebut menyebabkan harga beras, baik yang medium maupun premium meroket. Dewa Made Indra sendiri memastikan bahwa harga beras di Bali mengalami penurunan. Menurut dia, penurunan sudah terjadi beberapa hari ini.
"Dalam seminggu terakhir sudah mulai menurun. Sekarang sudah mulai turun, beras medium sudah mulai turun, premium turun dan beras super turun sedikit," kata Dewa Indra.
"Kenapa mulai turun? Karena sudah mulai panen," sambungnya seperti dikutip dari Radar Bali (Jawa Pos Group) pada Senin (4/3).
Selain impor, Dewa Indra mengatakan bahwa Bali akan mulai panen di bulan Maret hingga April ini. Dirinya menghitung yang tercatat akan panen pada Maret, di lahan 15 ribu hektar.
Lebih lanjut Dewa Indra merinci, jika 7 ton per hektar dikalikan 15 ribu, perkiraan hasil panennya menjadi 105.000 ton."Setelah itu baru bulan Maret, kalau begitu panen akan dilanjutkan di beberapa tempat di Tabanan dan Buleleng gak percaya datang saja ke sawah,” ujarnya.
Dia mengklaim harga beras kini rata-rata turun Rp1.000. Bahkan, dia yakin harga beras akan turun.
Namun saat ditanya mengenai beras yang diimpor dari Thailand, dia tidak menampik adanya impor beras tersebut, karena kebijakan pemerintah pusat sudah termasuk penyediaan beras, dan Bulog akan melakukan hal itu."Saat panen raya dimulai, kami berkomitmen untuk Bulog, lebih memilih beras, gabah, beras itu produk lokal.
Kenapa kemarin impor datang karena suplai kita sedang berkurang? Kami kelelahan. Kenapa turun karena panennya lambat,” tegasnya.Pejabat Buleleng ini menegaskan, harga beras turun karena panen mulai Maret hingga April. {}
Editor : Iwa Ikhwanudin