RADAR MALIOBORO - Dalam beberapa pekan terakhir, harga beberapa kebutuhan meningkat. Kementerian Perdagangan (Kemendag) tidak menampik situasi ini dan sedang menyelidiki alasannya.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan, selain beras, terlihat harga bahan pokok seperti cabai dan telur naik tajam.
”Nanti kita lihat apa sebabnya (harga telur naik, Red). Memang harga pakan jagung naik. Kalau itu terus berlanjut, seperti yang lalu, harga jagung disubsidi Rp 1.000 per kilogram sehingga ia bisa mendapat pakannya, sehingga bisa kembali lagi (normal) harganya,” ujar dia.
Terkait cabai, menurut Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Isy Karim, kenaikan harga tersebut disebabkan terhentinya produksi di beberapa daerah akibat perubahan iklim. Kenaikan harga tersebut diyakini disebabkan adanya gangguan produksi di beberapa wilayah sentra produksi, ujarnya.
Isy berharap gangguan produksi tidak berlangsung lama sehingga pasokan cabai akan kembali terpenuhi dan terkendali memasuki periode Ramadan hingga Lebaran 2024. ”Apabila tidak terjadi gangguan panen, diprediksi pasokan akan dapat terpenuhi dan harga dapat terkendali pada periode puasa sampai Lebaran,” bebernya.
Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan mengamini fluktuasi harga industri tersebut. Kenaikan harga komoditas tidak hanya berdampak pada bahan baku beras, tetapi juga cabai merah dan minyak goreng. Ia juga menyatakan, harga ayam ras mulai naik di beberapa daerah karena tingginya permintaan pasar. Hal ini sejalan dengan situasi di Indonesia yang akan segera memasuki bulan suci Ramadhan, ujarnya.
Reynaldi menambahkan, ketidakstabilan pasokan dan tingginya harga menyebabkan penurunan omzet pedagang. “Hitung kami, keuntungan pedagang turun 45-50 persen akibat kenaikan harga,” ujarnya.
Padahal, berdasarkan data Early Warning System (EWS) yang dikelola Direktorat Jenderal Hortikultura (Kementa) Kementerian Pertanian, ketersediaan aneka cabai pada Februari dinilai aman. Produksi utama cabai rawit di Kabupaten Malang diperkirakan mencapai 15.233 ton. Kemudian di Temanggung 7.200 ton dan di Garut 6.950 ton.
Kemudian Kabupaten Sleman 17.028 ton, Garut 9.466 ton, dan Bandung 3.795 ton menjadi penghasil utama cabai. Oleh karena itu, Dirjen Hortikultura meyakini cabai akan mencukupi hingga tahun 2024. Kali ini pasokannya juga aman menjelang hari raya keagamaan nasional (HBKN).
Andi Muhammad Idil Fitri, Direktur Sayuran dan Obat Kementerian Pertanian, mengatakan pihaknya bersama petani ulung memastikan keamanan pasokan cabai terutama menjelang Ramadhan. Menurut dia, masyarakat tidak perlu khawatir dengan ketersediaan cabai karena cabai di wilayah tengah semakin meningkat.
”Karena banyak petani yang sudah mulai menanam cabai, tentunya kebutuhan cabai di masa Ramadan dan Idul Fitri kita prediksi aman. Kami juga memiliki champion cabai yang selalu siap siaga dengan stok di lapangan dan tentunya siap terlibat aktif untuk penanganan stok cabai,” ujarnya. {}
Editor : Iwa Ikhwanudin