RADAR MALIOBORO - Banyak film horor Indonesia yang ditayangkan di bioskop seringkali menggunakan ekspresi dan simbol keagamaan, khususnya Islam. Namun film-film tersebut bisa dirilis secara luas.
Banyak pihak yang keberatan dengan film tersebut hanya ketika film horor religi Indonesia Kiblat dirilis dan dipromosikan melalui trailer dan poster. Mulai dari tokoh agama hingga netizen. Mereka bahkan meminta pelarangan peredaran film kiblat di Indonesia.
Baca Juga: Teh atau Jus, Mana yang Lebih Baik Diminum Pada Pagi Hari? Begini Penjelasan Ahli
Tentangan dari berbagai kalangan tersebut karena materi promosi dan judul film Kiblat dianggap melenceng dari syariat Islam.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Kabupaten Jombang KH Abdul Hakim Mahfudz turut angkat suara terkait polemik film Kiblat tersebut. Ulama yang juga menjabat sebagai Pj Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu menilai film horor saat ini masih banyak yang minim dari segi edukasi.
Baca Juga: Bagaimana Hukum Mengerjakan Sholat Tarawih Tapi Belum Sholat Isya? Simak Penjelasannya!
”Film horor ini menurut saya dari sisi pendidikan kurang. Anak-anak harus menguasai dan memahami keilmuan, sehingga bisa memilih film yang punya misi pendidikan,” kata KH Abdul.
Dia menambahkan, para sineas horor saat ini banyak yang kurang mempertimbangkan faktor pendidikan saat membuat film.
Baca Juga: Rekomendasi Tempat Bukber di Yogyakarta Cocok untuk Reuni dan Keluarga, Harga Relatif Terjangkau
”Sekarang ini banyak film yang lebih mengutamakan kepentingan komersial dan mengabaikan sisi pendidikan,” kata Gus Kikin.
Ia berharap film yang dibuat dan dibagikan kepada masyarakat, termasuk film horor, dapat memperkuat jati diri bangsa dan juga memperkuat landasan keilmuan. Gus Ikin menanggapi poster film Kiblat yang menampilkan gambar sujud namun menghadap ke atas, dan mengaku tidak mengerti maksud pembuatnya.
Baca Juga: Godzilla x Kong The New Empire Akan Segera Tayang, Ini Sinopsis Filmnya
”Kami tidak tahu dasarnya membuat adegan itu apa. Mungkin bercanda atau apa. Tapi jika betul melecehkan harus ditindak,” tegas KH Abdul Hakim Mahfudz.
Sementara itu, Leo Pictures yang memproduksi film Kiblat meminta maaf atas kontroversi yang ditimbulkan dalam pembuatan film horor tersebut. Permintaan maaf itu disampaikan setelah pihak Leo Pictures melakukan pertemuan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk membahas film Kiblat.
Selain meminta maaf, Leo Pictures juga akan mengganti judul dan poster film arahan sutradara Bobby Prasetyo, agar layak diedarkan dan tidak menimbulkan polemik. ***
Editor : Iwa Ikhwanudin