RADAR JOGJA – Dalam ikatan sosial manusia, pasti kita akan saling terhubung dan berkomunikasi satu sama lain. Kita akan bertemu banyak pribadi manusia yang berbeda-beda. Namun, pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang selalu saja mengeluh setiap kalian berinteraksi? Atau mungkin kamu sendiri yang sering mengeluh dengan keadaan yang sedang kamu hadapi?
Baca Juga: Microsoft Tengah Kembangkan AI Chatbot Xbox, Yuk Simak Bocoranya
Jangan biarkan kebiasaan mengeluh ini terus-menerus menimpa dirimu. Karena studi telah membuktikan jika terlalu sering mengeluh dan mendengarkan keluhan orang lain ternyata bisa sebabkan kerusakan otak.
Baca Juga: Atta Halilintar Tak Malu Akui Dirinya Sedang Ikuti Ujian Paket C Meski jadi Peserta Paling Tua
Lalu, pernahkah kamu merasa ingin menjauh dari orang lain ketika kamu sedang mendengarkan keluhannya? Itu merupakan sebuah sinyal dari otak untuk meminta menjauh dari orang tersebut agar tidak terjadi kerusakan fisik pada otak.
Baca Juga: Perusahaan Industri Game Ubisoft Kembali PHK Puluhan Karyawan Lagi, Ada Apa?
Artikel ini ditulis dengan mengutip dari video reels Instagram @/rizaputranto content creator yang membahas seputar sains.
Studi science 1996 dan kajian Trevor Blake menunjukkan bahwa 30 menit mendengarkan keluhan bisa merusak fisik otak. Mengeluh juga berpotensi untuk merusak otak sendiri.
Baca Juga: The First Omen Sudah Tayang di Bioskop, Siap-Siap Dibuat Merinding
Studi stress 1996 dan ADDADM 2020 membuktikan bahwa otak kita memproduksi hormon glucocorticoids (molekul yang memberikan sinyal penting untuk mengatur kemampuan otak beradaptasi terhadap stress). Namun, hormon ini berpotensi merusak jaringan neuron, seperti di hipokampus (bagian otak untuk pembentukan memori).
Baca Juga: Resep Kue Bawang Gunting Gurih Renyah, Cocok Jadi Cemilan Keluarga Hingga Hampers untuk Lebaran
Studi EJWOP 2017 juga menunjukkan kebiasaan mengeluh dan mendengarkan keluhan dapat membuat kita tidak bisa keluar dari kebiasaan ini.
Berita baiknya, otak kita mampu untuk memperbaiki dirinya sendiri ketika kita bisa mengurangi kebiasaan mengeluh dan mendengarkan keluhan ini.
Baca Juga: Green Team Universitas Sanata Dharma Belajar Lingkungan dari Bank Sampah
Namun, meski otak bisa menyembuhkan dirinya sendiri, kita juga perlu sadar untuk sebisa meungkin menjauhi kebiasaan tersebut. Karena mau sampai berapa lama kita membiasakan hal negative tersebut untuk kita konsumsi terus-menerus. Tubuh kita juga pasti akan memberikan sinyal ‘bahaya’ jika ada hal negativ yang masuk ke tubuh kita. ***
Editor : Iwa Ikhwanudin