Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Surya Adhi Nugraha Berhasil Manfaatkan Minyak Kelapa Hasil Blondo, Bisa Produksi 250 Liter Sehari

Marsa Andiny Putri • Rabu, 24 April 2024 | 21:55 WIB
INOVATIF: Surya Adhi Nugraha menunjukkan minyak kelapa hasil blondo bernama Tropicoco. Hal ini ditekuninya sejak lulus kuliah 2015.
INOVATIF: Surya Adhi Nugraha menunjukkan minyak kelapa hasil blondo bernama Tropicoco. Hal ini ditekuninya sejak lulus kuliah 2015.

RADAR MALIOBORO  - Banyaknya produsen gudeg di Jogjakarta membuat Surya Adhi Nugraha berpikir untuk memanfaatkan minyak kelapa hasil blondo. Sebab salah satu bahan baku gudeg adalah blondo, yakni santan kelapa yang diendapkan. Surya pun menciptakan ide untuk meningkatkan kualitas minyak kelapa hasil blondo yakni minyak klentik.

Baca Juga: Tak Perlu Laser Mata, Ini Dia 3 Manfaat Daun Kelor untuk Kesehatan Mata yang Wajib untuk Dicoba

Sejak lulus kuliah pada 2015, Surya langsung menguji coba cara untuk membuat pemurnian minyak kelapa dari rumahnya yang berada di Padukuhan Mayangan, Kalurahan Trihanggo, Gamping, Sleman. Hal itu melihat kebutuhan minyak kelapa di masyarakat naik karena komunitas organik semakin berkembang. “Seiring berjalannya waktu kesadaran manusia terhadap makanan sehat semakin naik, otomatis permintaan minyak kelapa semakin naik,” ujarnya saat ditemui Radar Jogja di rumahnya.

Baca Juga: Developer Alone in the Dark PHK Karyawan, Apa Penyebabnya? Yuk Simak

Namun di satu sisi, produsen bahan baku minyak kelapa turun karena generasi muda tidak mau melanjutkan usaha yang dirintis oleh generasi di atasnya. Karena minyak klentik melimpah di Jogjakarta. Maka Surya berpikir bagaimana caranya supaya minyak klentik tetap lestari. “Dengan cara mengakomodir produsen minyak mentah atau klentik untuk kemudian dimurnikan supaya lebih awet,” katanya.

Baca Juga: EA Kecewa Stellar Blade Lulus Sensor di Jepang sedangkan Dead Space Tidak

Hal itu ia lakukan karena minyak mentah yang berbahan baku selain kelapa tidak awet. Hanya bertahan satu bulan dan sudah berbau tengik. Dia proses supaya menjadi produk yang lebih tahan lama. Akhirnya terciptalah produk minyak kelapa yang ia beri nama ‘Tropicoco’.

Baca Juga: Pemeran Lucy Serial TV Fallout Mainkan Gamenya Walau Produser Tidak Mewajibkan

“Supaya naik kelas karena kalau minyak klentik belum bisa disebut minyak makan, masih mentah. Nah gimana caranya minyak klentik yang manfaatnya bagus itu bisa dilestarikan dan naik kelas,” ungkap lulusan jurusan Farmasi Universitas Sanata Dharma ini.

Baca Juga: HP Anda Hilang? Ini Tips Amankan Mobile Banking Agar Saldo Aman Versi BRI

Hingga kini, Surya memproduksi pemurnian minyak kelapa tersebut dengan sistem rumahan. Meskipun diakuinya, pemurnian memang identik dengan pabrik-pabrik berskala besar, mahal, dan efisien. Maka dia pun berpikir bagaimana caranya agar rakyat kecil bisa melakukannya. Yakni dengan memegang prinsip kerja ala pabrik. “Prosesnya sama namun skalanya diturunkan. Prinsipnya sama dengan pabrik besar, tapi skalanya yang dikurangi karena budget-nya memang terkendala di situ,” jelasnya.

Baca Juga: Embracer Group Pecah Menjadi 3 Perusahaan, Awal Permulaan Baru?

Di awal merintis usaha ini, kendala yang dialami adalah edukasi ke masyarakat. Sebab imaji minyak kelapa di masyarakat dikenal mahal. Sedangkan minyak yang lazim digunakan seperti berbahan sawit jauh lebih murah. Berada di kisaran Rp 14 ribu sampai Rp 17 ribu per liter. “Otomatis masyarakat melihat dari harganya saja sudah mikir kan, tapi sebenarnya dari segi manfaat justru lebih irit minyak kelapa. Itu yang saya edukasi,” ucap Surya. ***

Editor : Iwa Ikhwanudin
#pemurnian air #minyak kelapa #minyak