RADAR MALIOBORO - Warna ungu biasanya dianggap masyarakat Indonesia sebagai sebagai “warna janda”. Namun, tahukah kamu ternyata dahulu warna ungu sangatlah langka dan biasanya identik dengan kaum bangsawan.
Hal ini karena warna ungu pada saat itu dibuat melalui proses yang sangat panjang dan sulit untuk memdapatkan bahan baku utamanya. Warna yang sangat mahal ini dinamai dengan warna ungu tirani atau Tyrian Purple.
*Sejarah pembuatan warna ungu*
Warna ungu Pertama kali ditemukan oleh warga Sidon dan Tirus, dua kota di pesisir Phoenicia Kuno (sekarang Lebanon) pada abad ke-15 SM. Mereka memperoleh warna ungu ini dari ekstrak lendir siput laut jenis Bolinus Brandaris yang sangat langka dan hanya ditemukan di lautan Mediterania.
Pembuatan warna ungu ini adalah dengan mengambil kelenjar dari siput tersebut dengan memecahkan cangkangnya. Lalu kelenjar tersebut dimasukkan ke dalam wadah dengan campuran air basa untuk difermentasi hingga warna tersebut keluar. Setelah itu kelenjar dan larutan ungu tersebut dipisahkan dan dijemur dengan kain hingga tercipta bubuk pigmen ungu tersebut.
Baca Juga: Perbandingan Harga Pasar Guinea U-23 dengan Skuad Garuda Muda bikin Merinding
Tempat produksi pewarna ungu Tirus ini biasanya terletak jauh dari kota guna mengurangi bau yang menyengat karena prosesnya juga berlangsung lama, serta dibutuhkan sekitar 250.000 siput laut untuk membuat satu ons pewarna ungu.
Menurut pernyataan Julius Pollux, ahli tata bahasa Yunani dari abad kedua, menyatakan bahwa penemuan warna ungu ini ditemukan oleh Dewa Fenisia, yaitu Melqart.
Dikisahkan bahwa Melqart sedang berjalan-jalan di pantai bersama anjingnya dan nimfa Tyros. Saat anjingnya tak sengaja menggigit siput laut, mulutnya berubah menjadi ungu. Setelah itu, Melqart mewarnai gaun Tyros dengan pewarna yang diekstrak dari mulut anjingnya.
Tak hanya memproduksinya, Bangsa Fenisia juga yang pertama kali memperdagangkan pewarna ungu Tirus. Mereka memanfaatkan keahliannya di laut untuk menyebarkan pewarna yang didambakan ini ke seluruh Mediterania.
Mereka memiliki kuasa monopoli dalam produksi, yang berarti mereka adalah pemasok utama untuk Kekaisaran Romawi, di mana permintaan warna ungu oleh kaum kelas atas selalu meningkat.
Diduga, tren penggunaan warna ungu oleh bangsawan Romawi dimulai saat Julius Caesar memimpin kekaisaran. Penggunaan warna ungu kekaisaran Caesar bukan hanya sebuah mode tetapi juga ada maksud tindakan politik.
Baca Juga: Mengenal Khansa Tabina, Content Creator yang Menjadi Sorotan Gara-gara Film Siksa Kubur Joko Anwar
Namun, ketika Kaisar Caligula menjadi pemimpin, penggunaan warna ungu benar-benar berkembang. Ia meminta semua orang di istana mengenakan pakaian ungu.
Di Inggris sendiri selama era Elizabethan, semua orang di Inggris harus mematuhi hukum yang ketat yang mengatur warna, bahan, dan pakaian yang boleh dan tidak boleh dikenakan oleh berbagai kelas sosial di Inggris.
Undang-undang Sumptuary Ratu Elizabeth I menyatakan bahwa warna ungu mencerminkan kekayaan dan status keagungan pemakainya, dan melarang siapa pun kecuali kerabat dekat keluarga kerajaan untuk mengenakannya.
Baca Juga: Cuaca Panas ternyata Bisa Ganggu Kesehatan Kulit, Begini Solusinya Menurut Ahli
*Fakta warna ungu*
• Istilah “ungu” berasal dari bahasa Latin “purpura”, bahasa Inggris Kuno “purpul” dan bahasa Yunani “porphura”.
• Di Amerika Serikat, penghargaan tertinggi atas keberanian dalam dinas militer adalah medali hati ungu (purple heart medal), biasanya yang terluka atau terbunuh saat menjalani militer akan diberikan medali ini.
• Pada tahun 1856, William Henry Parkin menjadi seorang penemu warna ungu sintetis pertama di dunia.
Baca Juga: Belanja Produk Perawatan Kulit Pria? Berikut Rekomendasi Skincare Terbaik dan Mudah Ditemukan!
• Untuk menghormati mendiang seorang musisi bernama Prince, Pantone meluncurkan warna ungu karena dirinya sering menggunakan warna tersebut.
Nah itu tadi adalah sejarah awal bagaimana warna ungu yang sangat mahal pada masa itu bisa tercipta, beserta fakta-fakta menarik dari warna ungu. ***
Editor : Iwa Ikhwanudin