Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Merinding, Ternyata Pigmen Warna Ini Terbuat Dari Mumi Asli Mesir! Cek Kisahnya Berikut ini...

Nadiva Aiszhabella • Jumat, 10 Mei 2024 - 22:19 WIB
kiri: mumi mesir, kanan: warna pigmen mummy brown
kiri: mumi mesir, kanan: warna pigmen mummy brown

RADAR MALIOBORO – Bagi beberapa orang, mendengar kata “mumi” mungkin bisa membuat merinding. Namun bagaimana jika bagian dari mumi tersebut diekspresikan melalui sebuah karya, yaitu lukisan. Terdengar tidak masuk akal dan mengerikan memang, tetapi ternyata benar adanya pigmen cat lukis yang terbuat dari bagian tubuh mumi ini. Pigmen ini biasa disebut dengan Mummy Brown atau Caput Mortuum.

Mengutip dari nationalgeographic.grid.id, berikut adalah kisah dari pigmen cat 

Apa Itu Caput Mortuum?

Caput Mortuum merupakan istilah dari Bahasa latin yang artinya adalah “kepala mati” atau “sisa-sisa dari (bagian) yang tidak berharga”. Cat ini memiliki nama lain Mummy Brown, Mommia, atau Momie. 

Mumi Mesir adalah bahan utama pembuatan bubuk cat ini. Pitch putih dan mur dicampur dengan bubuk ini untuk menghasilkan warna cokelat yang beragam. Biasanya warna dari pigmen ini adalah coklat tanah keunguan.

Lukisan Martin drolling
Lukisan Martin drolling

Pigmen ini pertama kali digunakan pada abad ke-16, dan digunakan oleh pelukis Pra-Raphael pada pertengahan abad ke-19.

Penggunaan Cat Caput Mortuum Dalam Lukisan

• Tercatat bahwa Sir William Beechey, seorang pelukis potret Inggris, menyimpan stok pigmen Mummy Brown. 

• Martin Drölling, seorang seniman Prancis, juga konon menggunakan Mummy Brown, yang dibuat dari sisa-sisa raja Prancis yang dipisahkan dari biara kerajaan St. Denis di Paris. Salah satu contoh penggunaan pigmen adalah lukisan L'interieur d'une cuisine-nya.

Lukisan burne jones
Lukisan burne jones

• Lukisan menakjubkan Edward Burne-Jones “The Last Sleep of Arthur in Avalon”, yang juga diyakini menggunakan pigmen coklat mumi.

Cerita Kepunahan Cat Caput Mortuum

Memasuki awal abad ke-20, penggunaan cat ini menjadi kurang populer. Beberapa penyebab diantaranya adalah adanya "kesadaran" bahwa cat itu sebenarnya terbuat dari mumi Mesir asli dan peningkatan kesadaran akan pentingnya penelitian ilmiah, arkeologi, antropologis, dan budaya tentang mumi. 

Menurunnya jumlah mumi yang tersedia juga pada akhirnya mengakibatkan penurunan penggunaan cat Mummy Brown ini.

Sebagai contoh, ketika seniman Edward Burne-Jones menemukan fakta apa yang sebenarnya terbuat dari Mummy Brown, dia pergi ke studionya, mengambil tabung Mummy Brown-nya, dan memberinya penguburan yang layak. 

Salah satgu perusahaan London yang memproduksi dan memasok bahan seni rupa, C. Roberson & Co., mengumumkan pada tahun 1964 bahwa mereka "kehabisan" mumi untuk membuat cat Mummy Brown.

Fakta Mengejutkan Dari Bubuk Mumi

• Orang Yunani Kuno mempercayai bahwa mumi mengandung bitumen yang mampu untuk mengobati penyakit.

• Mumi Mesir diekspor ke Eropa, digiling, dan dijual di apotek seluruh benua karena kepercayaan mereka yang bisa menyembuhkan penyakit tersebut.

Baca Juga: Film Vina Tembus 335.812 Penonton di Hari Pertama Tayang, Kembali Menuai Pro dan Kontra di Jagat Media Sosial

• Hingga abad ke-18 orang Eropa mengonsumsi bubuk mumi ini, karena beberapa mengklaim mumi memiliki kekuatan hidup misterius dan bisa ditransfer ke siapa saja yang menelannya.

• Permintaan yang tinggi pada mumi Mesir menjadikan beberapa pelaku bisnis memalsukannya. Hal tersebut dilakukan dengan menggunakan mayat penjahat atau budak yang dieksekusi dan dibaluri dengan bitumen dan dijemur agar tampak seperti mumi asli.

Itulah kisah dari asal muasal terciptanya warna cat Caput Mortuum beserta beberapa fakta dibaliknya. Di era modern ini, cat Caput Mortuum tidak lagi menggunakan bahan dasar mumi untuk pembuatannya. ***

Editor : Iwa Ikhwanudin
#mumi Mesir #warna #pigmen