RADAR MALIOBORO - Direktur Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) dr. Hasto menekankan pentingnya informasi yang akurat, penguatan kemitraan, penurunan angka kematian ibu dan anak, serta usia ideal hamil dan melahirkan. Sekaligus tentang pentingnya pembangunan perempuan pada masa bonus demografi menghadapi “penuaan populasi” pada tahun 2035.
Baca Juga: Kasus Pembunuhan Vina Belum Tuntas Setelah 8 Tahun, Polisi Ngaku Terkendala Identitas
“Hari ini jajaran TNI sudah punya pilot project untuk kemudian membuat dapur-dapur umum juga untuk nanti melayani stunting. Saya kira ini strategi yang luar biasa. Saya melihat bahwa rekan-rekan Babinsa banyak yang membantu mengantar makanan dari rumah ke rumah,” ujar dokter Hasto saat memberikan sambutan pada Rapat Koordinasi Teknis Kemitraan, di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (14/05).
Baca Juga: Sempat Mangkir, Sekjen DPR Indra Iskandar Akhirnya Penuhi Panggilan Pemeriksaan KPK
Ia juga menjelaskan, angka stunting masih menunggu hasil dari sistem elektonik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) karena masih terjadi perbedaan yang signifikan dengan hasil Survey Kesehatan Indonesia (SKI).
Baca Juga: Potret Sandra Dewi saat Jalani Pemeriksaan Kasus Korupsi di Kejagung
“Hasil survey itu hanya turun 0,1 tetapi laporan dari para Gubernur, Bupati dan Walikota yang didukung laporan oleh para Dandim, Kapolres dan jajarannya itu mendapatkan hasil-hasil dari posyandu angkanya cukup rendah Bahkan ada yang di bawah 10," tambahnya.
Baca Juga: Ruang Penyimpanan iPhone Anda Penuh? Tenang, Lakukan 5 Cara Ini Untuk Menghemat Ruang
Menurutnya, EPPGBM adalah catatan berbasis masyarakat dan akan direview di Mei dan Juni 2024, diukur ulang tinggi dan berat badan bayi. Sehingga pada Juni akhir nanti hasilnya bisa dipaparkan kembali dan bisa diketahui angka-angka yang ada.
Karena itu, target zero angka kematian ibu dan bayi harus diwujudkan. Saat ini di Indonesia Angka Kematian Ibu (AKI) tercatat 189 per 100 ribu kelahiran. NTT, Papua dan Maluku merupakan provinsi dengan AKI yang masih tinggi.
Baca Juga: Mengenal Sosok Nayla Purnama, Pemeran “Vina” di Film Vina: Sebelum 7 Hari
“Cita-citanya harus sama dengan para suami, menyamakan visi jangan sampai ada yang meninggal (saat melahirkan). Sebab kematian bayi relatif lebih sukses dan ini sangat dipengaruhi oleh jarak anak, jumlah anak, usia hamil yang tidak terlalu tua dan terlalu muda,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menjelaskan struktur penduduk Indonesia yang cantik di mana penduduk yang bekerja jauh lebih melimpah daripada yang tidak bekerja (yang masih di bawah 15 tahun dan yang sudah di atas 65 tahun). Dependency ratio antara yang bekerja dengan yang bekerja di tahun 2020 bisa mencapai angka 44,33, yang berarti setiap 100 orang bekerja hanya memberi makan 44 orang.
Baca Juga: Soal Film Vina: Sebelum 7 Hari, Polda Jabar Sebut Tidak Semuanya Sesuai Fakta Hukum
Sebab, beban pembangunan akan ada pada ageing population. Dan populasi yang mengisi ageing population ini adalah orang-orang tua yang tidak produktif. Rata-rata pendidikannya 9 tahun di tahun 2035, ekonomi menengah ke bawah, populasi perempuan lebih banyak dari laki-laki karena usia harapan hidup perempuan lebih lama dari laki-laki.
"Ini fenomena sehingga kemiskinan ekstrim berdasarkan pengalaman saya selalu diwarnai oleh janda-janda tua dan fakir miskin. Ini yang menjadi perhatian kita karena pendidikan rendah dan ekonominya juga rendah," ujarnya.
Sementara Wakil Aster Kasad, Brigadir Jenderal TNI Terry Tresna Purnama, yang ditemui setelah acara pembukaan selesai menyatakan bahwa TNI AD sangat mendukung kegiatan BKKBN, terutama untuk di lapangan.
Baca Juga: Inilah Resep Mudah Smoothie Pepaya yang Bergizi dan Sehat, Cobalah dan Rasakan Manis dan Manfaatnya
"Ini hal yang sangat bagus di mana dalam kegiatan stunting kita membantu masyarakat dan masyarakat sangat antusias dan mendukung kegiatan ini,” jelas Wakil Aster Kasad.
Ia menuturkan, para anggota TNI bahkan banyak yang menjadi motivator vasektomi di lapangan. ***
Editor : Iwa Ikhwanudin