Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Meriahkan Festival Pramuka Jogja (FPJ) 2024, 5 Kwarcab Menampilkan Tari Khas Daerahnya

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 30 Juli 2024 | 07:06 WIB
Penampilan Tari dari Kwarcab dalam Rangkaian Acara Festival Pramuka Jogja (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis/Rumyanah Irvadia)
Penampilan Tari dari Kwarcab dalam Rangkaian Acara Festival Pramuka Jogja (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis/Rumyanah Irvadia)

RADAR MALIOBORO – Pekan kreativitas pramuka yang diadakan rutin setiap tahun di Yogyakarta yaitu Festival Pramuka Jogja kembali dengan mengusung tema “Kreativitas Jogja : Tumbuh dan Berbudaya”, Festival Pramuka Jogja 2024 inj berharap dapat mewadahi segala bentuk kreativitas masyarakat Yogyakarta agar dapat terus menerus dikembangkan dan tidak melupakan unsur budaya agar unsur tersebut selalu lestari.

Untuk Pelaksanaan Festival Pramuka Jogja bertempat di Kompleks Bumi Perkemahan Taman Tunas Wiguna Babarsari. Yang diadakan pada rentang waktu dari tanggal 27 sampai dengan 28 Juli 2024.

Ketua Panitia FPJ Tahun ini adalah Kak GKR Hayu, beliau mengatakan bahwa ragam agenda yang ada dalam rangkaian acara FPJ 2024 dapat menjadi magnet untuk menumbuhkan kreativitas dan sensitivitas berbudaya. Tentunya, tidak hanya bagi anggota Pramuka saja, namun juga masyarakat secara luas.

“Acara ini dikemas dengan tujuan Pramuka bisa dekat dengan masyarakat, bermanfaat untuk masyarakat, serta tentunya dapat ikut serta membangun masyarakat,” tutur Kak GKR Hayu.

Sedangkan Ketua Kwarda Gerakan Pramuka DIY, Kak GKR Mangkubumi mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk dukungan atas berbagai inovasi yang diperlukan untuk bisa mewujudkan kemandirian dalam berbagai aspek. Inovasi harus dilakukan oleh anggota Gerakan Pramuka sebagai bentik aktualissi diri dan organisasi. Menurut GKR Mangkubumi setiap anggota Pramuka perlu menjadi pribadi yang mandiri.

“Kita harus mencetak pemuda yang mandiri, bukan yang instan,” ujar GKR Mangkubumi

Dari sekian banyaknya jenis kegiatan yang di helat oleh festival ini, pada Sabtu 27 Juli terdapat pementasan seni yang salah satunya adalah pertunjukkan tari yang dilakukan oleh masing-masing kwarcab yang hadir, yang mana ada 5 kwarcab, yaitu kwarcab Sleman, kwarcab Gunung Kidul, kwarcab Bantul, kwarcab Kulon Progo, dan kwarcab Kota Yogyakarta.

1. Kwarcab Sleman (Tari Sasmita Manunggal)

Kwarcab Sleman menampilkan pementasan tari Sasmita Manunggal dengan sangat apik dan terharmonisasi dengan baik. Gerakan-gerakan dalam tarian ini mencerminkan kehalusan, kesopanan, dan keharmonisan yang merupakan ciri khas dari tari-tarian Jawa. Gerakan yang digunakan juga representasi alam seperti aliran air, hembusan angin, atau gerakan tumbuhan. Kostum yang digunakan dalam tari ini juga mencerminkan busana tradisional Jawa, dengan kain batik dan aksesoris khas.

Nama "Sasmita Manunggal" sendiri menunjukkan pentingnya persatuan dan keharmonisan. Tarian ini menggambarkan bagaimana manusia harus hidup dalam keharmonisan dengan sesama manusia dan alam. Gerakan-gerakannya yang lembut dan sinkron mencerminkan kerjasama dan persatuan. "Sasmita" yang berarti isyarat atau tanda menunjukkan bahwa tarian ini menggunakan gerakan sebagai alat komunikasi. Ini mengajarkan bahwa tidak semua komunikasi harus verbal, gerakan tubuh dan ekspresi dapat menyampaikan pesan yang mendalam dan bermakna.

2. Kwarcab Gunung Kidul (Tari Sesonderan)

Dari Kwarcab Gunung Kidul menampilkan Tari Sesonderan. Tarian ini sering dipertunjukkan dalam acara-acara adat, perayaan, dan festival budaya untuk merayakan panen atau peristiwa penting lainnya. Tari Sesonderan dikenal dengan gerakannya yang lemah gemulai dan anggun, mencerminkan kelembutan dan kehalusan budaya Jawa. Tarian ini menekankan gerakan tangan yang halus dan ekspresif, yang dikombinasikan dengan langkah kaki yang teratur dan harmonis.

3. Kwarcab Bantul (Tari Jingkrak)

Tari Jingkrak menggambarkan luapan kebahagiaan dan semangat hidup masyarakat Bantul, menampilkan sisi positif dan optimisme dalam kehidupan sehari-hari. Tari ini menggunakan properti gabah dan tampah dengan menampilkan tarian yang enerjik. Tarian ini mengajarkan nilai kebersamaan dan gotong royong, di mana penari bergerak secara harmonis dan saling berinteraksi, melambangkan kerukunan dan solidaritas sosial. Dengan melestarikan dan menampilkan Tari Jingkrak, masyarakat Bantul menunjukkan penghormatan terhadap tradisi dan budaya leluhur mereka, menjaga warisan budaya tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.

4. Kwarcab Kulon Progo (Tari Angguk Kita)

Salah satu ciri khas Tari Angguk adalah gerakan kepala yang mengangguk-angguk, sesuai dengan namanya. Gerakan ini dilakukan dengan ritme tertentu dan menjadi inti dari tarian ini. Tarian ini juga ditandai dengan gerakan yang dinamis dan energik, melibatkan seluruh tubuh, termasuk tangan, kaki, dan badan. Penari yang menarikan tarian ini menunjukkan ekspresi yang ceria dan semangat, mencerminkan kegembiraan dan kesenangan, biasanya mengenakan kostum tradisional dengan warna-warna cerah dan motif khas Yogyakarta, dilengkapi dengan ikat kepala atau topi.

Gerakan mengangguk dalam tarian ini melambangkan penghormatan dan kepatuhan kepada Tuhan dan ajaran agama. Ini juga mencerminkan sikap hormat kepada orang tua dan sesama. Menekankan pentingnya kebersamaan dan kerjasama. Para penari bergerak secara harmonis dan terkoordinasi, mencerminkan nilai gotong royong dan solidaritas dalam masyarakat.

5. Kwarcab Kota Yogyakarta ( Tari Bambangan Cakil)

Tari yang di pentaskan oleh kwarcab kota Yogyakarta adalah tari bambangan cakil, Tari Bambangan Cakil ini melambangkan pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Ksatria Pandawa melambangkan kebenaran dan keadilan, sedangkan Cakil melambangkan kejahatan dan ketidakadilan. Tarian ini mengajarkan pentingnya pengendalian diri, kebijaksanaan, dan keberanian dalam menghadapi tantangan dan godaan yang jahat. Ksatria tidak hanya menggunakan kekuatan fisik, tetapi juga kecerdasan dan ketenangan untuk mengalahkan musuhnya. Meskipun terdapat konflik dalam tarian ini, pada akhirnya menunjukkan bahwa keseimbangan dan harmoni dapat dicapai ketika kebenaran dan kebaikan menang atas kejahatan. Dimana kejahatan diwakilkan oleh Buto Cakil dan kebaikan diwakilkan oleh Ksatria Arjuna dengan panahnya. ***

(Rumyanah Irvadia)
Sumber:
-https://jogjaprov.go.id/
-Reportase langsung penulis

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Pramuka Jogja #Tari #FPJ 2024