Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Beberapa Benda Pusaka Kraton Yogyakarta yang Sebaiknya Kamu Tahu, Ada yang Dibuat Ratusan Tahun yang Lalu

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 6 September 2024 | 20:17 WIB

Benda Pusaka Kraton Yogyakarta https://images.app.goo.gl/gveof1MtrsKtyNV56
Benda Pusaka Kraton Yogyakarta https://images.app.goo.gl/gveof1MtrsKtyNV56

RADAR MALIOBORO-Di setiap daerah di Indonesia memiliki beraneka ragam budaya yang berbeda-beda, tentu mereka juga memiliki kepercayaan yang berbeda pula. Banyak peninggalan benda-benda bersejarah yang sampai saat ini masih di simpan dengan baik. Di Jawa khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta yang masih memiliki adat yang kental, banyak terdapat benda-benda pusaka yang diyakini oleh masyarakat Yogyakarta. Banyak orang yang belum mengetahui mengenai beberapa benda pusaka di Kraton Yogyakarta. Berikut ini merupakan benda pusaka Kraton Yogyakarta.

Baca Juga: Lepaskan Genggaman Ponsel: Tips Mengurangi Waktu Layar, Mengistirahatkan Mata

1.Keris.
Di antara keris-keris pusaka Keraton Yogyakarta yang menduduki tempat terpenting adalah Kanjeng Kiai Ageng Kopek. Keris ini hanya boleh dikenakan oleh sultan sendiri, yang dianggap sebagai pemimpin spiritual dan duniawi. Menurut tradisi keris ini dibuat pada masa Kerajaan Demak, dan pernah dimiliki oleh Sunan Kalijaga. Selain itu, ada keris Kanjeng Kiai Joko Piturun yang hanya boleh dikenakan oleh putra mahkota, sedangkan Kanjeng Kiai Toyatinaban adalah keris yang dikenakan oleh Gusti Pangeran Harya Hangabehi, putra lelak tertua sultan. Keris Kanjeng Kiai Purboniat hanya boleh dikenakan oleh Patih Danureja.

Baca Juga: Rekomendasi Tempat Wisata dekat Malioboro, Nomor Empat Cocok untuk Belajar Siswa Sekolah

2.Tombak.
Di Keraton Yogyakarta diketahui ada banyak tombak yang bentuk mata tombaknya bervariasi. Ada yang bercabang tiga, ada yang seperti kudi, ada yang seperti cakra, dan ada pula yang berbentuk konvensional. Di antara tombak-tombak pusaka kagungan dalem yang dipandang istimewa adalah Kanjeng Kiai Ageng Plered. Tombak tersebut sudah ada di lingkungan Keraton Mataram-Islam sejak pemerintahan Panembahan Senopati.

Baca Juga: Menabung atau Menunda? Ini Alasan Mengapa Menabung Sejak Muda Itu Penting, hingga Tips untuk Memulainya

3.Panji-Panji.
Keraton Yogyakarta memiliki pusaka berujud panji-panji yang disebut Kanjeng Kiai Tunggul Wulung, karena warnanya wulung, yaitu biru tua. Disebutkan kain untuk panji-panji ini adalah potongan dari kiswah Kakbah. Di bagian tengah tulisan terdapat Arab berisi kutipan Surah Al Kautsar, Asma'ul Husna, dan Syahadat. Dahulu bila terjadi wabah penyakit, maka Kanjeng Kiai Tunggul Wulung dikeluarkan dari keraton dan dibawa dalam suatu prosesi berkeliling kota diiringi doa, serta di perempatan-perempatan tertentu diserukan adzan. Maksudnya adalah memohon kesembuhan bagi seluruh rakyat yang terkena wabah tersebut.

Baca Juga: Tidak Hanya Menghibur, Ini 3 Rekomendasi Film Penuh Inspirasi

4.Gamelan.
Ada 18 perangkat gamelan pusaka di Keraton Yogyakarta, dengan demikian setiap perangkat memiliki sebutan kehormatan. Di antara perangkat-perangkat gamelan itu ada tiga yang umurnya paling tua, yaitu: Kanjeng Kiai Gunturlaut, Kanjeng Kiai Maesaganggang, dan Kanjeng Kiai Gunturmadu. Menurut tradisi Kanjeng Kiai Gunturlaut berasal dari Keraton Majapahit yang diwariskan secara turun temurun melalui Kesultanan Demak, Pajang, Mataram Islam, dan akhirnya ke Yogyakarta. Sedangkan Kanjeng Kiai Gunturmadu adalah satu dari dua perangkat gamelan sekati. Satu perangkat lainnya, yaitu Kanjeng Kiai Nagawilaga dibuat pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I. Gamelan sekati inilah yang pada upacara Sekaten dibawa keluar dari keraton, kemudian ditempatkan di Pagongan di halaman Masjid Agung, dan dibunyikan mulai tanggal 6 sampai tanggal 11 bulan Maulud, atau sampai berakhirnya upacara Sekaten. Gamelan pusaka lain di antaranya adalah: Kanjeng Kiai Gunturlaut, Kanjeng Kiai Keboganggang, Kanjeng Kiai Surak, Kanjeng Kiai Kancil Belik, Kanjeng Kiai Guntursari, dan Kanjeng Kiai Bremara.

Baca Juga: Jalan-Jalan ke Solo: Menguak Koleksi Museum Keraton Kasunanan Surakarta

5.Pelana Kuda.
Di lingkungan Keraton Yogyakarta ada pusaka berupa pelana kuda yang dinamai Kanjeng Kiai Cekathak. Bila disertakan dalam prosesi, Kanjeng Kiai Cekathak dipasang di punggung kuda, namun tidak ada penunggangnya.

6.Bahasa Naskah.
Di Gedung Widya Budaya, perpustakaan Keraton Yogyakarta, disimpan dua naskah yang tergolong dalam pusaka keraton. Naskah kedua itu adalah Kanjeng Kiai Alquran dan Kanjeng Kiai Bharatayuda. Selain itu masih ada naskah pusaka lain yakni Kanjeng Kiai Suryaraja yang disimpan di Prabayeksa. Naskah-naskah tersebut ditulis dalam tulisan tangan yang indah, serta didekorasi dengan ragam hias tumbuhan dan geometri yang diterakan dengan cat air serta prada.

Baca Juga: Menjelajahi Situs Manusia Purba Sangiran: Warisan Dunia UNESCO yang Ungkap Evolusi Manusia

7.Encah.
Enceh atau kong adalah tempayan stoneware berukuran besar yang ditempatkan di halaman makam Sultan Agung di Imagiri. Ada empat enceh di tempat tersebut, masing-masing diberi nama: Nyai Siyem, Kiai Mendhung, Kiai Danumaya, dan Nyai Danumurti. Sekali dalam setahun, yaitu pada bulan Sura, air di keempat tempayan itu dikuras, diganti dengan air yang baru.

8.Kereta Kerajaan.
Keraton Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman mempunyai kereta-kereta yang sekarang disimpan di Museum Ratawijayan untuk kereta Kasultanan, dan di Museum Pura Paku Alaman untuk kereta Paku Alaman. Museum Ratawijayan Dahulu adalah garasi dan bengkel kereta keraton, sedangkan bangunan di sekelilingnya dahulu adalah gedhogan atau istal. Di museum ini sekarang disimpan sekitar 20 kereta. Sedangkan di Museum Paku Alaman terdapat empat buah kereta yang berasal dari masa pemerintahan Paku Alam I atau sekitar tahun 1812-1829

Baca Juga: BYD Luncurkan Minivan Terbaru Xia, Siap Tantang Toyota Alphard dengan Harga Mulai Rp 600 Jutaan

Beberapa pusaka keraton tersebut diyakini bersifat sakral, dan memiliki kekuatan supranatural. Dan biasanya dibersihkan secara intensif sekali dalam setahun, yaitu pada bulan sura dalam kalender Jawa. Dengan begitu kalian dapat lebih mengenal dengan benda-benda pusaka Kraton Yogyakarta.

Raka Meda
Dari berbagai sumber

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Pusaka #Keraton #Kraton Jogja #Pusaka Kraton