RADAR MALIOBORO - Sisi menarik dari pertunjukan wayang purwa adalah adanya pesan moral, etika, dan sikap hidup (budi pekerti) yang terdapat dalam setiap lakon yang digelar.
Selain itu, aspek kemampuan dalang serta adegan goro-goro yang menampilkan humor punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) juga merupakan salah satu kekuatan wayang purwa, untuk meraih simpati masyarakat yang terus berubah dari zaman ke zaman.
Wayang kulit juga dapat dijumpai di Bali.
Di Pulau Dewata, wayang kulit disebut wayang parwa.
Jika di Jawa sumber cerita wayang purwa adalah dari kisah Arjunasasra, Ramayana, dan Mahabharata, maka di Bali lebih beragam lagi.
Di samping Ramayana dan Mahabharata, sumber cerita wayang parwa juga diambil dari cerita Panji, Cupak Calonarang, dan Tantri Kamandaka.
Ritual pergelaran hampir sama dengan wayang purwa di Jawa.
Meski begitu, ada hal spesifik yang membedakan.
Misalnya, sebelum pergelaran, dalang mempersiapkan suaranya terlebih dulu.
Sang dalang kemudian mengadakan upacara ritual untuk meminta izin kepada dewa, agar pementasan berhasil dengan baik.
Terakhir, ia memberikan latar belakang cerita yang dimulai dengan penciptaan, lalu mengatur keadaan dasar pementasan dengan bahasa Kawi.
Dimulainya pergelaran adalah ketika dalang memainkan kayon (gunungan) yang melambangkan penciptaan jagat raya dari ketiadaan, karena seluruh cerita dimulai dari latar belakang filosofi ini.
Kemudian dilanjutkan dengan menata wayang pada gedebog (batang pisang).
Penataannya, tokoh baik di sebelah kanan, sedangkan tokoh jahat di sebelah kiri.
Sementara itu, tokoh yang berada di tengah adalah Yang Mulia Acintya, lambang pimpinan dewa yang memimpin seluruh cerita yang digelar.
Di sini, dalang berperan sebagai penghibur, pendidik, filsuf, sekaligus pendeta yang harus mumpuni dalam menghidupkan banyak karakter tokoh wayang melalui gerak, perubahan suara, tembang, dan cakapan (ujaran).
(berbagai sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin