RADAR MALIOBORO - Wayang Golek berbentuk boneka dan diberi pakaian persis sebagaimana manusia.
Tangan, kaki, dan kepala dapat digerakkan dengan jari-jemari sang dalang.
Wayang golek biasa dijumpai di Jawa Barat (Sunda).
Narasi atau dialognya menggunakan bahasa Sunda. Badan, kepala, dan tangan wayang golek dibuat dari kayu.
Gagang penggerak (tuding) dibuat dari bambu, seperti gagang penyangga (sogo).
Penyangga ini menembus badan hingga kepala dan berfungsi sebagai pegangan.
Menurut Serat Centhini (awal abad 19) dan Serat Sastramiruda (awal abad 20), wayang golek di Jawa telah dikenal pada tahun Jawa 1506 (1548 M).
Sementara wayang golek Sunda baru mulai digelar pada awal abad 19.
Wayang golek dibedakan berdasarkan jenis cerita yang dipentaskan, yaitu wayang golek purwa yang mengambil cerita Ramayana dan Mahabharata.
Wayang golek menak yang mengangkat kisah dari Serat Menak yang bernapaskan Islam.
Wayang golek babad yang mengangkat legenda Majapahit (Jawa Timur) atau Pajajaran (Jawa Barat).
Pergelaran wayang golek biasanya berhubungan dengan upacara ritual tertentu.
Seperti hajatan, bersih desa, atau peringatan kenegaraan.
Pertunjukan diselenggarakan mulai pukul 21.00 sampai pukul 04.00 menjelang subuh dini hari.
Wayang golek tidak menggunakan kelir, namun peralatan lainnya nyaris sama dengan wayang kulit.
Permainan wayang golek terkesan lebih atraktif dan hidup, karena kepala dan tangan wayang dapat digerakkan oleh dalang.
Seperti gerakan menyembah, memukul, menari, hingga pertempuran dengan jurus bela diri tertentu.
(berbagai sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin