RADAR MALIOBORO -Hipotermia merupakan kondisi medis serius yang terjadi ketika suhu tubuh menurun di bawah 35°C. Hal ini sering dialami oleh pendaki gunung, terutama di daerah dengan suhu dingin dan angin kencang.
Hipotermia dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Berikut ini beberapa cara untuk menangani hipotermia saat mendaki gunung.
1.Pahami Gejala Hipotermia.
Menangani hipotermia secara efektif dimulai dengan mengenali gejalanya. Ada tiga tahapan hipotermia yang perlu diwaspadai:
Tahap Ringan (34–35°C) : Ditandai dengan menggigil, kulit pucat, rasa dingin, serta kesulitan berbicara dan bergerak.
Tahap Sedang (32–34°C) : Menggigil makin hebat, pernapasan dan detak jantung melambat, disorientasi, dan kebingungan.
Tahap Berat (di bawah 32°C) : Menggigil berhenti, kulit kebiruan, penurunan kesadaran, bahkan kehilangan kesadaran total.
Penting untuk segera bertindak jika tanda-tanda hipotermia ringan mulai muncul, agar kondisi tidak memburuk.
2.Segera Lindungi Diri Dari Paparan Cuaca.
Langkah pertama saat menghadapi hipotermia adalah mengurangi paparan terhadap kondisi lingkungan yang dingin. Segera lakukan tindakan berikut:
Cari tempat berlindung : Jika memungkinkan, carilah tempat yang terlindung dari angin, seperti di balik batu besar atau mendirikan tenda. Angin dingin bisa mempercepat penurunan suhu tubuh.
4.Lakukan Tindakan Medis Sederhana.
Jika kondisi terus memburuk atau penderita tidak menunjukkan perbaikan, lakukan langkah-langkah berikut:
Jangan terlalu banyak bergerak : Gerakan berlebihan dapat memompa darah dingin dari ekstremitas kembali ke jantung, yang justru dapat memperburuk kondisi penderita.
Berikan CPR (resusitasi jantung paru) : Jika penderita tidak bernapas atau detak jantung sangat lemah, lakukan CPR. Ingat bahwa pada penderita hipotermia berat, detak jantung bisa sangat lambat sehingga sulit dideteksi.
Hipotermia merupakan ancaman nyata bagi pendaki gunung, terutama di lingkungan bersuhu rendah. Namun, dengan mengenali gejala awal, bertindak cepat untuk melindungi diri, dan memberikan perawatan yang tepat, risiko tersebut dapat diminimalkan.
Persiapan yang matang, termasuk membawa perlengkapan yang sesuai dan memahami teknik penanganan hipotermia, adalah kunci keselamatan saat mendaki di lingkungan ekstrem.
Raka Meda
Dari berbagai sumber.