RADAR MALIOBORO - Kesenian Dongkrek yang berasal dari Desa Mejayan, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, ternyata memiliki sejarah unik yang penuh nilai-nilai budaya.
Seni ini muncul sekitar tahun 1910, pada saat itu masyarakat Desa Mejayan tengah dilanda wabah penyakit mematikan yang disebut pageblug mayangkoro.
Wabah ini begitu mengerikan karena menyebabkan kematian secara mendadak dengan gejala sakit di pagi hari dan meninggal di malam hari atau sebaliknya.
Kondisi ini membuat kepala desa saat itu, Raden Ngabei Lo Prawirodipuro, sangat khawatir akan nasib warganya.
Setelah melakukan meditasi, beliau mendapat wangsit untuk melakukan ritual guna mengusir pageblug yang diyakini disebabkan oleh makhluk halus. Dari sinilah, kesenian Dongkrek lahir.
Nama "Dongkrek" sendiri berasal dari suara alat musik yang digunakan dalam pertunjukan.
"Dung" adalah suara dari beduk atau kendang, sementara "krek" berasal dari suara alat korek, yaitu alat musik berbentuk kayu persegi dengan tangkai bergerigi yang menghasilkan bunyi "krek" saat digesek.
Gabungan suara "dung" dan "krek" inilah yang menjadi asal mula nama kesenian Dongkrek.
Dongkrek merupakan perpaduan seni tari, musik, topeng, dan drama yang biasanya dipentaskan dalam bentuk arak-arakan keliling kampung.
Cerita dalam pertunjukannya menggambarkan upaya mengusir roh-roh halus yang menjadi penyebab wabah.
Dalam satu babak pertunjukan, terdapat barisan butha yang melambangkan makhluk halus raksasa, bersama dengan dua perempuan paruh baya yang menggambarkan kondisi masyarakat yang lemah.
Namun, sebelum butha berhasil mencelakai perempuan-perempuan ini, muncul seorang lelaki tua sakti yang dengan tongkatnya berhasil mengusir para roh halus tersebut.
Baca Juga: Belanja Sepatu? 4 Pilihan Sneakers Favorit 2024
Kemudian terjadilah pertempuran sengit antara lelaki sakti dan para butha yang akhirnya dimenangkan oleh si lelaki tua.
Para butha yang kalah akhirnya tunduk dan digiring keluar dari Desa Mejayan, sehingga wabah pageblug pun berakhir.
Namun, Dongkrek bukan sekadar pertunjukan seni biasa. Lebih dari itu, Dongkrek menjadi simbol kearifan lokal dan nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia, seperti semangat religius dan gotong royong.
Kesenian ini menjadi pengingat pentingnya peran Tuhan dalam setiap usaha manusia, serta mendorong kerjasama dan persatuan di antara masyarakat.
Editor : Winda Atika Ira Puspita