RADAR MALIOBORO - Tulungagung merupakan sebuah kabupaten di Jawa Timur, yang dikenal dengan berbagai cerita mistis yang masih dipercaya oleh sebagian warganya.
Pesugihan yang masih dipercaya ada hingga saat ini adalah pesugihan monyet atau dalam bahasa jawanya ketek.
Terdapat tempat khusus untuk ritual pesugihan, salah satunya di daerah Ngujang Tulungagung, yang berada di kompleks pemakaman umum sebelah Sungai Brantas. Apa itu Pesugihan Monyet?
Pesugihan secara umum merujuk pada praktik supranatural yang dilakukan untuk mendapatkan kekayaan secara instan, yang biasanya melalui bantuan makhluk ghaib.
Ada beberapa versi tentang asal-usul monyet yang ada di Ngunjang ini.
Menurut juru kunci dari makan umum Ngunjang bahwa monyet liar abu-abu di kawasan itu merupakan "santri" yang nakal dan dikutuk oleh Sunan Kalijaga.
Namun versi dari masyarakat Tulungagung, mereka percaya monyet-monyet yang berada di Kawasan itu merupakan jelmaan dari para pencari pesugihan yang sudah meninggal dunia.
Nama Ngunjang berasal dari kata Ngu yang artinya suara kera dan Jang artinya wejangan. Yang diyakini oleh masyarakat sekitar, bahwa pada saat Sunan Kalijaga memberikan wejangan, ada suara kera ngak nguk.
Ritual pesugihan monyet konon dilakukan di tempat-tempat keramat dengan syarat salah satunya berupa tumbal atau pengorbanan manusia.
Orang percaya bahwa pesugihan ini akan memberi mereka kekayaan. Tetapi itu juga membawa konsekuensi yang mengerikan. setelah mereka meninggal, arwah mereka dipercaya akan menjadi monyet dan tinggal di pemakaman tersebut.
Pelaku yang melakukan ritual pesugihan itu harus memenuhi syarat dengan memelihara monyet yang diberi oleh kuncen (penjaga makam) sebagai tanda ikatan perjanjian ghaib.
Ritual ini biasanya dilakukan pada saat malam satu Suro, yang dimana pelaku pesugihan datang ke makam dan melakukan ritual.
Meskipun ritual ini sudah ada sejak lama hingga kini, masih ada orang-orang yang melakukan pesugihan monyet di wilayah tersebut.
Meskipun ritual ini sering dilakukan oleh pelaku, masyarakat sekitar tidak merasa terganggu dengan adanya ritual pesugihan ini. Tak sedikit yang menganggap bahwa ini bagian dari budaya turun-temurun dan kepercayaan lokal.
Meskipun masih banyak yang menganggap bahwa ritual pesugihan di Ngunjang sebagai mitos, masih menjadi bagian dari kehidupan spiritual masyarakat di Tulungagung.
Misteri pesugihan monyet akan terus menjadi bagian cerita untuk generasi selanjutnya. Serta menjadi pengingat bagi kita semua bahwa cara-cara instan untuk meraih kesuksesan selalu datang dengan risiko yang besar.
(Windu Fitri Yansi; Berbagai sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin