RADAR MALIOBORO - Seperti yang diketahui, istilah Deflasi merupakan priode dimana harga barang turun dan nilai uang bertambah. Dan dampak dari Deflasi yang berlebihan akan merugikan produsen karena hanya bisa memperoleh penghasilan yang rendah saat menjual barang atau jasanya dipasar. Sekilas deflasi tampak menguntungkan bagi orang karena harga-harga barang dan jasa jadi lebih terjangkau oleh konsumen. Tapi deflasi yang terjadi saat ini bisa jauh lebih berbahaya. Sebab deflasi beruntun ini menjadi indikator bahwa ”pendapatan atau uang di Masyarakat sudah semakin langka didapatkan.
Banyak para pedagang mengeluhkan hal tersebut karena penjualan yang semakin sepi dan berakibat pada penurunan omzet. Pedagang juga berharap agar pemerintah cepat tanggap dalam mengatasi masalah tersebut agar cepat kondusif. Pedagang menyampaikan bahwa Penuruan omzet bahkan mencapai 70% . hal ini tentu saja berdampak buruk bagi perekonomian masyarakat.
Deflasi yang terjadi selama lima bulan berturut-turut sejak mei hingga sepetember 2024 mengakibatkan masyarakat kelas pekerja sudah tidak dapat berbelanja karena tidak memiliki uang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mngalami deflasi 0,12% pada september 2024. Ini merupakan deflasi kelima dan menjadi yang terparah dalam lima tahun terakhir pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Deflasi berturut-turut selama 2024 pertama kali terjadi pada bulan mei, sebesar 0,03% bulan ke bulan. Lalu semakin dalam di juni yang menyentuh 0.08% dan makin meningkat lagi pada bulan juli yaitu 0,18%.
BPS kemudian mencatat deflasi membaik pada agustus yakni kembali ke tingkat 0,03% secara bulanan. Namun tingkat deflasi di Indonesia kian memburuk.
Defllasi terdalam 0,92% month to month terjadi di Papua Barat. Sementara itu inflasi tertinggi terjadi di Maluku Utara sebesar 0,56% bulan ke bulan.
Dengan adanya berita ini, pemerintah diharapkan memberikan solusi dan menghentikan dampak deflasi yang semakin merugikan masyarakat. (Dia Daiyanti)
Sumber : berbagai sumber
Editor : Iwa Ikhwanudin