Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Bukan Sekadar Pilihan, Istikharah untuk Menetapkan Hati

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 18 Oktober 2024 | 21:38 WIB

 

Ilustrasi Seorang Muslim Sedang Sholat Istikharah.  (AI/Freepik.com)
Ilustrasi Seorang Muslim Sedang Sholat Istikharah. (AI/Freepik.com)

RADAR MALIOBORO - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada berbagai pilihan yang membutuhkan pertimbangan matang. Pilihan-pilihan ini mungkin terkait dengan pekerjaan, pasangan hidup, pendidikan, atau keputusan penting lainnya.

Sering kali, pikiran kita bimbang dan hati merasa tidak tenang dalam menentukan pilihan. Di sinilah pentingnya shalat istikharah, sebuah cara yang diajarkan dalam agama Islam untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT dalam menetapkan hati.

Apa Itu Shalat Istikharah?
Istikharah adalah sarana untuk menetapkan hati agar merasa yakin dan tenang dalam mengambil keputusan. Istikharah mengajarkan kita untuk berserah kepada Allah SWT, meminta petunjuk dan ketetapan hati-Nya, serta memohon agar dijauhkan dari pilihan yang tidak baik bagi kita.

Makna mendalam dari istikharah adalah bahwa kita menyadari keterbatasan diri sebagai manusia. Shalat istikharah memberikan ketenangan batin, bukan melalui "jawaban" langsung. Tetapi melalui proses spiritual yang membuat hati kita yakin dan mantap dengan apa pun yang menjadi keputusan akhir.

Tata Cara Sholat Istikharah

1. Niat: Sebelum memulai shalat, niatkan dalam hati bahwa kita akan melaksanakan shalat istikharah untuk meminta petunjuk dari Allah SWT mengenai perkara yang sedang dihadapi.

2. Shalat Dua Rakaat: Shalat istikharah dilakukan sebanyak dua rakaat. Tidak ada surah khusus yang harus dibaca setelah Al-Fatihah, tetapi disarankan membaca surah Al-Kafirun di rakaat pertama dan surah Al-Ikhlas di rakaat kedua.

3. Setelah Shalat Istigfar 100x (Semampunya)
4. Sholawat "Allahumma sholli'Ala Sayyidina Muhammad" 1000x (semampunya)
5. Doa Istikharah:

“Allahumma inni astakhii-ruka bi ‘ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika, wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amra*) khairan lii fii ‘aajili amrii wa aajilih faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amra *) syarrun lii fii ‘aajili amrii wa aajilih, fash-rifhu ‘annii was-rifnii ‘anhu, waqdur lial khaira haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih.

“Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini *) baik untukku di waktu dekat atau di masa nanti, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagiku dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini *) buruk untukku, di waktu dekat atau di masa nanti, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan di mana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan”.

Doa tersebut bersumber dari hadits Jabir r.a. yang diriwayatkan oleh sl-Bukhari dalam kitab Shahihnya.

Dengan beristikharah, kita belajar untuk menyeimbangkan antara usaha dan doa. Kita menjalankan ikhtiar kita dengan sebaik-baiknya, tetapi pada saat yang sama kita juga menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT. Sikap tawakal ini mendatangkan ketenangan, karena kita percaya bahwa Allah SWT akan memilihkan yang terbaik bagi kita. **

(Windu Fitri Yansi: Berbagai sumber).

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Sholat Istikharah #Bukan #hati #sekadar janji #menetapkan