Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Media Sosial Mengikis Empati Manusia Demi Vitalitas, Benarkah Demikian?

Iwa Ikhwanudin • Minggu, 17 November 2024 | 11:30 WIB
(ilustrasi notifikasi medsos, pinterest)
(ilustrasi notifikasi medsos, pinterest)

RADAR MALIOBORO - Viral merupakan fenomena di mana sesuatu menjadi perbincangan hangat di media, khususnya media sosial.

Sekarang kita tidak sedikit menemukan banyak kejadian mengenaskan yang menjadi topik hangat, orang-orang sengaja mem-publikasi ke media sosial mereka dengan tujuan yang berbeda-beda.

Mulai dari mengajak orang lain untuk turut berempati sampai sekadar mendapatkan viewers.

Media sosial memungkinkan kita untuk dapat terkoneksi dengan orang-orang dari seluruh dunia menjadi lebih muda dan lebih baik.

Kemudahan koneksi ini dibarengi dengan harapan dapat membuat banyak orang memiliki pemahaman yang lebih baik tentang satu sama lain, tapi hasil sebenarnya justru berbanding terbalik.

Kejadian yang dibuat viral dapat dikatakan sebagai contoh media sosial mengurangi empati banyak orang.

Kurangnya empati pada diri seseorang akibat media sosial dikarenakan kemampuan otak dalam penerimaan tekanan.

Misalnya terdapat tragedi mengenaskan yang ditonton secara berulang-ulang sehingga menimbulkan kelelahan belas kasih.

Otak memiliki penerimaan tekanan yang terbatas, jadi melihat tragedi memilukan secara berulang-ulang sama saja memberikan trauma.

Alhasil otak memilih untuk mengabaikannya dan perlahan kita mulai kehilangan kemampuan untuk merasakan empati.

Tidak jarang media sosial digunakan sebagai lahan untuk berbagi kejadian tidak nyaman atau merugikan yang sedang dialami seseorang dan sifatnya yang dapat terkoneksi secara luas membuat orang lain bisa merasakan tekanan yang sama.

Media sosial juga menjadi salah satu alasan rendah atau tingginya harga diri seseorang.

Melalui media sosial siapa saja dapat melakukan filter terhadap kehidupan yang ingin mereka unggah menjadi sesuatu yang sempurna dan dapat menyiratkan bahwa mereka lebih baik daripada yang kita lakukan.

Baik sadar maupun tidak sadar, media sosial sebenarnya mampu menciptakan kesenjangan realitas dalam kehidupan.

Hal ini juga dipengaruhi oleh sifat manusia yang cenderung melakukan perbandingan.

Akhirnya timbul rasa tidak nyaman dengan kegagalan dan ketidaksempurnaan yang dianggap telah terjadi padanya.

Media sosial digunakan sebagai tameng untuk mentransfer energi negatif kepada orang lain dan banyak orang.

Seseorang dapat muncul ke publik dengan identitas palsu dan bebas berekspresi tanpa takut dirinya di dunia nyata mengalami kerugian, didukung oleh kemudahan akses yang menyebabkan hal ini marak terjadi.

Misalnya menghujat postiingan seseorang, padahal dia hanya memposting foto selfie atau mengunggah hobi. Kita dapat mengenal fenomena ini sebagai cyberbullying.

Saat ini media sosial seperti buku panduan masyarakat untuk menetapkan norma sosial.

Dengan media sosial semakin memudahkan orang untuk menerapkan perilaku menghakimi.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa menghakimi orang lain merupakan respons yang tidak disengaja.

Karakteristik media sosial yang dapat menyembunyikan identitas asli seseorang mendukung sikap ini, karena mereka tidak ragu untuk menyuarakan isi hati.

Misalnya Banyak unggahan yang bersifat menghibur, tapi sebenarnya menunjukan muatan negatif, seperti memposting situasi mengenaskan atau melelahkan yang sedang dialami seseorang sebagai hiburan dan cara untuk bersyukur.

Fenomenal vitalitas sangat akrab dengan media sosial.

Oleh orang-orang yang memilih untuk mentransfer energi negatif, fenomena ini dimanfaatkan secara tidak bijak dengan mengunggah peristiwa apa saja di sekitar mereka tanpa memfilter kebutuhan privasi dari objek atau dirinya sendiri.

(Marina Juliana; berbagai sumber)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#empati #sosial #media #vitalitas