RADAR MALIOBORO - Istilah lavender marriage mungkin terdengar asing, tetapi fenomena ini sudah lama terjadi, terutama di dunia selebritas atau masyarakat dengan tekanan sosial tinggi.
Lavender marriage merujuk pada pernikahan yang dilakukan tanpa dasar cinta romantis, tetapi lebih karena alasan sosial, budaya, atau karier.
Biasanya, pernikahan seperti ini terjadi ketika salah satu atau kedua pihak ingin menutupi orientasi seksual yang dianggap tidak sesuai dengan norma masyarakat. Dengan menikah, tekanan sosial terhadap individu tersebut dapat berkurang, sehingga privasi mereka lebih terjaga.
Istilah lavender marriage mulai populer di Amerika Serikat pada awal abad ke-20. Kala itu, banyak artis Hollywood memilih menikah demi menjaga citra di depan publik. Di zaman itu, hubungan sesama jenis sering dianggap tabu, sehingga mereka merasa perlu menyembunyikan identitas asli mereka.
Namun, lavender marriage bukan hanya tentang tekanan sosial. Kadang, pernikahan semacam ini dilakukan untuk kepentingan karier, warisan, atau kesepakatan bisnis. Meski tidak didasari cinta, hubungan dalam lavender marriage sering diwarnai kerja sama yang saling menguntungkan.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa pernikahan bisa memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang. Meski begitu, penting untuk menghargai keputusan setiap individu, terlepas dari alasan di baliknya.
Apakah fenomena ini masih relevan? Di beberapa tempat, mungkin iya, terutama di masyarakat yang belum sepenuhnya menerima keragaman. Namun, dengan meningkatnya kesadaran tentang hak asasi manusia, banyak orang kini memilih untuk hidup sesuai jati diri mereka, tanpa harus berpura-pura.
Lavender marriage adalah potret dari bagaimana tekanan sosial dapat memengaruhi pilihan hidup seseorang. Dengan memahami fenomena ini, kita diajak untuk lebih terbuka dan menghormati perjalanan hidup orang lain. ***
(Ndayu Fulandari) berbagai sumber
Editor : Iwa Ikhwanudin