RADAR MALIOBORO-Drama Jepang tentu menyuguhkan banyak tema romantis. Tidak selalu berakhir sedih hningga membuat air mata keluar, ada beberapa drama Jepang romantis yang memiliki akhir yang memuaskan. Meskipun bertema romantis, drama Jepang juga menyisipkan nilai-nilai kehidupan yang relateable di kehidupan, salah satunya perempuan yang meraih mimpi.
Banyak drama Jepang yang mengangkat tokoh utama perempuan yang mengalami berbagai macam lika-liku dalam meraih mimpi. Kebimbangan memilih mimpi antara cinta, diremehkan, bahkan stigma yang melekat dalam masyarakat.
Berikut rekomendasi drama Jepang romantis yang mengangkat Tokoh utama perempuan meriah mimpi :
1. 18/40 Unbreakable Bond of Dreams (2023)
Drama ini menceritakan dua tokoh perempuan yang usia dan permasalahan yang berbeda. Tokoh pertama adalah Arisu Nakagawa yang berusia 18 tahun yang bercita-cita menjadi kurator seni sama sepertinya Ibunya yang meninggal ketika Ia berusia 11 tahun. Setelah lulus sekolah, ia mengetahui dirinya tengah hamil dan pacarnya dibantu keluarga dari pihak laki-laki melarikan diri keluar negeri. Arisu berusaha menjalani kuliah demi mengejar mimpi sambil mempertahankan kehamilannya. Saat mulai merasa pada titik rendah, ia bertemu dengan Toko Naruse.
Toko Naruse adalah wanita karier berusia 40 tahun. Selama menjalan karier yang berhubungan dengan seni dan bisnis, Toko belum pernah menjalani hubungan serius selama 10 tahun berkarier. Selain itu, rahimnya mengidap suatu penyakit sehingga sangat berisiko jika hamil. Toko pun yang sangat ingin memiliki anak merasa sangat kecewa dan frustasi. Didorong dengan keinginan memiliki anak, Toko pun membantu Arisu selama kehamilan dan mengurus anak.
Drama yang juga dikenal dengan judul _18/40: Futari Nara Yume mo Koi mo_ menceritakan bagaimana kedua tokoh perempuan menghadapi tantangan masing-masing baik dunia perkuliahan, pekerjaan, bahkan hubungan kekasih. Woman support woman juga ditekankan dalam drama ini bukan hanya hubungan Arisu dengan Toko, tapi dari tokoh wanita lain. Selain itu, drama ini juga menyisipkan pesan bagaimana orang tua memiliki peranan yang penting dalam perjalanan anak meskipun sang anak telah tumbuh dewasa.
2. Beni Sasu Life (2023)
Masato Hojo yang ingin membuat makeup dengan merek khusus pria. Ia bertemu dengan Yoriko Minamoto, mantan peneliti di universitas tempatnya berkuliah. Keduanya pun lambat-laun memutuskan bekerja sama untuk membangun merek makeup khusus pria.
Drama Beni Sasu Life menunjukkan keterbalikan dari pandangan gender pada kedua tokoh, yaitu Masato selalu bermakeup dalam kehidupan keseharian dan Yoriko lebih nyaman bare face, di mana makeup identik dengan perempuan. Yoriko sendiri pun mengalami ketidakadilan dalam dunia kerja di mana perempuan dianggap sebagai penambah suasana bukan karena kemampuannya. Belum lagi, dirinya dianggap aneh karena tidak memakai makeup layaknya perempuan.
Drama ini juga mengajarkan selama tidak menyerah ada kemauan untuk belajar pasti akan ada jalan dalam meraih keinganan atau mimpi seperti Yoriko yang tidak tahu apapun tentang makeup dan gagal berkali-kali ditolak lamaran kerja, ia tidak pernah menyerah dengan mempelajari makeup sedikit demi sedikit. Yoriko juga mengambil berbagai kesempatan demi tujuannya bersama Masato tercapai.
3. My Secound Aoharu (2023)
Sayako Shiratama sering mengalami kesialan dalam hidupnya. Bahkan ketika hendak mengikuti ujian masuk perguruan tinggi demi meraih mimpinya menjadi arsitektur, ia mengalami kecelakaan di jalan sehingga tidak dapat mengikuti ujian. Usianya yang sudah 30 tahun, Sayako bekerja yang bukan dari bidang yang diinginkan, bahkan tidak membuat keluar dari kemiskinan.
Sayako yang baru saja dikeluarkan dari pekerjaannya, bertemu dengan seorang mahasiswa arsitektur bernama Taku Ogarasawa dan menceritakan mimpinya menjadi arsitektur. Taku memberitahu bahwa belum terlambat untuk masuk ke universitas yang dahulu Sayako inginkan. Didorong dengan motivasi tersebut, Sayako memutuskan untuk kembali mengikuti ujian masuk universitas dan berhasil menjadi mahasiswa arsitektur di suatu universitas.
Drama ini memberi pesan tidak ada kata terlambat dan usia bukanlah halangan dalam meriah mimpi asal mau berusaha dan tidak menyerah terhadap tantangan. Drama ini juga menyisipkan kebimbangan perempuan dihadapi persoalan karier dan pernikahan karena usia yang semakin tua. Selain itu, terdapat pesan juga baik perempuan dan laki-laki harus bertanggung jawab dalam menjalani hubungan terutama dalam hal komunikasi.
Itulah rekomendasi drama Jepang yang mengangkat tokoh perempuan hebat dalam meraih mimpinya. Ketiga drama ini cocok ditonton untuk mencari motivasi meriah mimpi terutama para perempuan yang masih terjebak pranata sosial masyarakat turun-temurun.
(Anastasia Srinovanda Cahyaningrum; sumber: berbagai sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin