RADAR MALIOBORO - Mungkin nama uveitis terdengar asing di telinga, kondisi ini emamng bukan kondisi serius.
Namun, bila tidak segera ditangani dapat menyebabkan berbagai komplikasi bahkan kehilangan penglihatan.
Penyakit ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia bahkan dalam kondisi sehat sekalipun.
Uveitis merupakan peradangan pada lapisan tengah mata atau uvea.
Uvea sendiri terletak di antara sklera (bagian putih mata) dan bagian belakang mata yang menangkap cahaya (retina).
Unea terdiri dari iris (selaput pelangi mata), koroid (pembuluh darah mata), dan jaringan ikat antara iris dan koroid (badan siliar).
Gejala peradangan ini dapat terjadi secara bertahap dan ada pula yang tiba-tiba. Gejala yang ditandai dengan rasa nyeri dan kemerahan pada satu atau kedua mata disertai penglihatan mengabur bahkan menurun.
Kemerahan tersebut biasanya disebabkan suplai darah dari uvea.
Selain itu, karakteristik kondisi ini adalah sensitivitas cahaya serta bintik-bintik gelap dan mengambang di bidang penglihatan (floaters).
Uveitis memiliki beberapa jenis berdasarkan titik peradangan, yaitu :
1. Uveitis anterior atau iritis (depan mata)
Jenis ini paling umum dialami oleh orang sehat dan terjadi pada iris mata.
Baca Juga: Kenali 5 Tips Ampuh Ini Agar Baju Cepat Kering di Musim Hujan
2. Uveitis intermedia atau cyclitis (tengah mata)
Jenis uveitis ini sebut juga iridosiklitis. Peradangan ini juga terjadi pada orang sehat namun berkaitan dengan penyakit autoimun seperti multiple sclerosis.
3. Uveitis Posterior (belakang mata)
Dikarenakan mempengaruhi korid, kondisi peradangan ini juga dikenal dengan koroiditis.
Hal ini disebabakan jaringan dan pembuluh darah koroid mengalirkan darah ke bagian belakang mata.
Uveitis diderita pada orang yang memiliki riwayat atau mengalami infeksi virus, parasite, atau jamur dan orang yang memiliki penyakit autoimun.
Kondisi dapat menyebabkan jaringan parut pada retina sehingga jauh lebih serius.
4. Pan-uveitis (semua bagian mata)
Kondisi jenis ini terjadi apabila peradangan mempengaruhi mata yang melibatkan kombinasi gejala dari ketiga jenis uveitis sebelumnya.
Jika berdasarkan lama atau jangka waktu peradangan mata diderita, jenis uveitis terbagi menjadi:
1. Uveitis akut: jenis peradangan yang berkembangan dengan cepat dan pulih dalam waktu kurang lebih 3 bulan.
2. Uveitis kronis: Peradangan terjadi lebih daeri 3 bulan
Penyebab uveitis di beberapa kasus tidak dapat diketahui secara pasti, terlebih sering dialami oleh orang sehat.
Baca Juga: Viral Petugas Lapas Dimutasi karena Unggahan Video
Namun penyebab peradangan yang disebabkan oleh gangguan autoimun yang memang mempengaruhi bagian tubuh lainnya, seperti sarkoidosis, lupus eritematosus sistemik, atau penyakit Crohn.
Bila diakibatkan peradangan oleh infeksi virus dan bakteri, penyebabnya adalah herpes, tuberculosis, toksoplasmosis, sifilis, HIV/AIDS, dan histoplasmosis.
Selain itu, beberapa faktor yang dapat menyebabkan uveitis adalah pernah melakukan operasi mata, terkena paparan racun atau zat kimia di mata, pernah mengalami cedera ataupun kanker mata seperti limfoma.
Uveitis bila tidak segera ditangani dan diobati dapat menyebabkan sejumlah komplikasi seperti katarak (lensa mata keruh sehingga penglihatan kabur), glaukoma (saraf yang menjadi penghubung antara mata dan otak mengalami kerusakan sehingga berisiko kebutaan), ablasi retina (kondisi di mana retina terlepas dari lapisan pembuluh darah yang berperan menyalurkan oksigen dan nutrisi), edema makula (pembengkakan di retina), sinekia posterior (terjadi peradangan yang membuat iris melekat pada lensa mata).
Bila mengalami gejala yang dijelaskan sebelumnya, perlu segera periksa ke dokter spesalis mata.
Dalam mengdiagnosis, dokter akan melakukan sejumlah tanya jawab keluhan pasien yang kemudian melakukan pemeriksaan lanjutan, berupa:
1. Tes Penglihatan sebagai peninjuan ketajaman penglihatan dan respons pupil terhadap cahaya.
2. Mengukur tekanan bola mata atau Tonometri
3. Pemeriksaan slit-lamp untuk mengecek tanda sel-sel peradangan di bagian depan mata.
4. Funduskopi, pemeriksaan bagian belakang mata
5. Tes darah untuk bahan deteksi tanda peradangan di iris dan badan siliriasis mata
6. Pemindaian dengan CT scan atau MRI untuk mencari lokasi atau menilai seberapa parah peradangan
7. Analisis cairan mata sebagai penilaian tingkat keparahan perandangan
8. Angiografi mata untuk mengecek sistem pembuluh darah mata apakah terdapat sel-sel peradangan
9. Optical coherence tomography, pengukuran terhadap ketebalan dan deteksi sel-sel peradangan pada retina dan koroid.
Berikut beberapa obat yang diresepkan dokter untuk mengobati kondisi peradangan ini, yaitu :
1. Obat Sikloplegik
Obat ini membantu mengurangi nyeri akibat uveitis dengan cara melemaskan otot yang mengontrol pupil. Contoh obat sikloplegik meliputi cyclopentolate, tropicamide, dan atropin dalam bentuk tetes mata.
2. Kortikosteroid
Kortikosteroid digunakan untuk mengurangi peradangan sekaligus mencegah terjadinya perlengketan pada mata. Contoh kortikosteroid yang sering diresepkan adalah fluorometholone dan prednisolone dalam bentuk tetes mata.
3. Antibiotik atau Antivirus
Jika uveitis disebabkan oleh infeksi, dokter akan meresepkan antibiotik atau antivirus untuk mengatasi penyebab infeksinya.
4. Obat Imunosupresif
Obat ini diberikan jika uveitis menyerang kedua mata, tidak merespons kortikosteroid, atau kondisinya memburuk hingga mengancam risiko kebutaan.
Namun, bila uveiris telah sampai pada tingkat parah dan obat yang diresepkan dokter tidak efektif, makan dilakukan operasi dengan prosedur seperti vitrektomi (operasi membedah mata untuk melakukan pengambilan vitreus di mata) dan penanaman alat pelepas obat (operasi dengan cara menanam suatu alat khusus yang memiliki fungsi sebagai penyaluran obat kortikosteroid secara perlahan ke mata).
(Anastasia Srinovanda Cahyaningrum; berbagai sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin