Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Drama Politik antara Presiden dan Wakil Presiden Filipina hingga Berujung Ancaman Pembunuhan

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 29 November 2024 | 13:06 WIB
Wakil Presiden Filipina, Sarah Duterte mengancam pembunuhan kepada Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr   (Instagram/ @indaysaraduterte)
Wakil Presiden Filipina, Sarah Duterte mengancam pembunuhan kepada Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr (Instagram/ @indaysaraduterte)

RADAR MALIOBORO - Konflik antara Presiden dan wakil presiden Filipina semakin memanas. Wakil Presiden, Sara Duterte-Carpio mengatakan secara terang-terangan telah menghubungi seorang pembunuh untuk mdmbunuh Presidan Ferdinand Marco Jr pada hari Sabtu, 23 Novmeber 2024. Bukan hanya Marco Jr yang mendapat ancaman penghabisan nyawa tetapi juga istrinya, Liza Aeanetaa, dan Ketua DPR Filipina, jika ia dibunuh.

Hal ini dilakukan Sara sebagai tuduhan kepada presiden Marcos Jr sebagai pecandu narkoba dan istrinya melakukan tindakan korupsi. Sementara Ketua DPR Romualdez yang juga merupakan sepupu Marco Jr sendiri dituduh melakukan pengambilan dana dari kantor wakil presiden dan kementrian Pendidikan untuk persiapan kampanye 2028.

Selain itu, dari pihak Sara Duterte sendiri menyatakan dirinya berada dalam wilayah musuh ketiak di dalam ruang bawah tanah Kongres bersama kepala Staf. Akan tetapi, Sara Duterte tak memberikan keterangan secara pasti terkait keberadaan dugaan ancaman terhadap dirinya.

Menanggapi ancaman pembunuhan dari Sarah Duterte, Komando Keamanan Presiden menyatakan secara tegas bahwa ancaman wakil presiden tersebut sebagai masalah keamanan nasional sehingga perlunya kemanan yang semakin ketat untuk keselamatan presiden. Pasukan keamanan menambahkan telah diadakan koordinasi dengan lembaga penegak hukum untuk ,melacak dan memperkuat pertahanan presiden dan keluarganya dari segala ancaman.

Seperti yang telah diketahui Sara Duterte ialah putri dari Rodrigo Duterte, presiden Filipina pada periode 2016-2022 sedangkan Bongbong Marcos Jr merupakan putra dari Ferdinand Marcos Sr dan Imelda Romualdez-Marcos, dictator Filipina di 1970-an. Keluarga dari kedua belah pihak sejatinya adalah musuh dalam dunia politik.

Namun, ketika Pemilihan Umum 2022 digelar, kedua keluarga pun memutuskan beralinasi dengan melakukan “perjodohan politik”. Rodrogo Duterte sendiri memasangkan Sara Duterte, putrinya untuk maju mendampingi Bombong Marcos sebagai calon presiden dan wakil presiden selanjutnya. Hal ini dilakukan supaya keluarga Duterte tetap berada dalam kekuasaan Filipna dengan aman.

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, warganet di media sosial Filipina seolah telah terbiasa dengan drama politik antara dua keluarga Marcos Jr dan Sara Duterte sehingga tidak terlalu ambil pusing. Bahkan menurut warganet dari sebuah komentar, keluarga dari Sarah Duterte sendiri memang memiliki kecendrungan bicara dengan meledak-ledak dan terbawa emosi dalam menyampaikan ancaman tersebut.

Di waktu yang sama, Rodrigo sendiri dilindungi oleh Marco Jr dari gugatan Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) tentang keputusan yang dibuat olehnya untuk menembak mati orang-orang yang diduga sebagai pengedar narkoba. Dahulu, operasi tersebut dilakukan tanpa adanya prses pengadilan.

Pertama kali konflik tersulut ketika Sarah Duterte memilih mundur dari kabinet sebagai menteri pendidikan saat masih menjabat pula sebagao wakil presiden pada Juni 2022. Romualdez, Ketua DPR pun kemudian memangkas anggaran kantor wakil presiden sempai menyentuh dua pertiga sehingga Sara semakin dibuat murka.

Dalam sistem politik Filipina sendiri terkait pemilihan presiden dan wakil presiden diadakan masing-masing sehingga wakil presiden juga memiliki dukungan yang jelas bukan menjadi pasangan presiden saja. Wakil presiden pun tidak memiliki tugas resmi. Oldeh karena itu, dalam menjalankan perannya, banyak wakil presiden melakukan kegiatan pembangunan sosial atau menjabat di kabinet.

Selama menjalankan jabatan sebagai pemimpin negara, baik Marco Jr dan Sara Duterte berbeda pandangan dalam cara memimpim negara. Mengutip dari Reuters, hal ini dapat dilihat dari salah satu isu terkiat kebijakan luar negeri di Laut china Selatan di mana keduanya berbeda pendapat. Marco Jr memilih condong berpihak kepada Amerika Serikat dengan mengaktifkan banyak perjanjian dengan Washington sedangkan Sara Duterte tidak menyetujui dan memilih berdiskusi dengan China.

Sarah sendiripun masih dalam menyelidikan terkait tuduhan penyalahgunaan anggaran kerja wakil presiden serta diduga melakukan penyelewangan dana rahasia Departemen sejumlah 625 juta peso atau sekitar 168 miliar rupiah. Pemimpin Mayoritas DPR Filipina, Manuel Jose “Mannix” Dalipe menganggap bahwa tindakan ancaman yang dilakukan oleh wakil presiden tersbeut hanya sebagai pengalihan kasus yang menimpanya.

Di lain sisi, sekutu keluarga Duterte yang mendirikan gereja Kingdom of Jesus Christ (KOJC) Apollo Quiboloy selama puluhan tahun tertangkap terkait tuduhan perdagangan manusia.

Ketegangan semakin intens saat Sara secara terbuka mengklaim presiden Marcos Jr sebagai pemimpin yang tidak kompoten atau tidak tahu bagaimana menjadi presiden dalam orasi Oktober lalu. Sara juga menambahkan Marcos menjalankan kepimpinan dalam pemerintahan tanpa adanya rencana.

(Anastasia Srinovanda Cahyaningrum; berbagai sumber)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#wakil presiden #pembunuhan #Filipina #ancaman #presiden