Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Pengertian Cerebral Palsy atau Lumpuh Otak: Gejala, Penyebab, dan Pencegahannya

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 29 November 2024 | 13:21 WIB
Ilustrasi Cerebral Palsy.
Ilustrasi Cerebral Palsy.

RADAR MALIOBORO - Cerebral Palsy atau lumpuh otak merupakan penyakit yang menjadi penyebab terjadi gangguan pada otot, gerak, dan koordinasi tubuh. Beberapa kasus, cerebral palsy juga dapat mempengaruhi penglihatan, pendengaran, dan sensasi.

Kondisi ini biasanya terjadi pada masa kehamilan dikarenakan otak anak yang belum sepenuhnya matang dan berkembang. Namun penyakit inipun juga dapat terjadi ketika proses persalinan atau tahun pertama setelah kelahiran.

Cerebral palsy menyebabkan gerakan mengalami gangguan terkait refleks yang berlebihan, kelenturan badan serta anggotanya. Tanda lainnya terlihat pada postur yang tidak biasa, gerakan yang tidak pengidapnya sengaja, berjalan tidak stabil, atau kombinasi dari semuanya sehingga kelumpuhan.

Beberapa pngidap memakai peralatan khusus untuk bisa melakukan aktivitas dalam kesehariannya, ada juga yang harus memerlukan perawatan seumur hidup.

Kerusakan otak pada cerebral palsy tidak dapat disembuhkan atau bersifat permanen. Akan tetapi, masih ada perawatan yang bisa dilakukan dalam membantu peningkatan fungsi saraf untuk mengatur pergerakan otot tubuh.

Kondisi ini dapat tidak bertambah buruk, namun beberapa gejalanya dapat berubah seiring waktu.

Dari banyaknya kasus, penyebab cerebral palsy tidak diketahui. Namun, berikut ini beberapa faktor penyebab masalah pada perkembangan otak, yaitu:

1. Mutasi gen yang menyebabkan gangguan genetik atau memengaruhi perkembangan otak.
2. Infeksi pada ibu yang berdampak pada janin selama masa pertumbuhan.
3. Stroke janin, yaitu gangguan aliran darah ke otak janin yang sedang berkembang.
4. Pendarahan di otak yang terjadi saat masih dalam kandungan atau setelah bayi lahir.
5. Infeksi pada bayi yang memicu peradangan di dalam atau di sekitar otak.
6. Cedera kepala serius pada bayi, seperti akibat kecelakaan kendaraan, terjatuh, atau kekerasan fisik.
7. Kekurangan oksigen di otak yang terkait dengan persalinan atau proses kelahiran yang sulit, meskipun asfiksia saat kelahiran lebih jarang menjadi penyebab dibandingkan dengan yang pernah diperkirakan.

Selain itu terdapat pula faktor yang dapat meningkatkan risiko bayi mengalami penyakit ini, di antaranya:

1. Kelahiran prematur (sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu).
2. Berat lahir rendah (kurang dari 2,5 kilogram).
3. Proses kelahiran sungsang, di mana bagian pantat atau kaki bayi lahir lebih dahulu.
4. Ketidakcocokan Rh, yaitu kondisi ketika golongan Rh darah ibu tidak sesuai dengan golongan Rh darah bayi.
5. Kebiasaan buruk ibu selama kehamilan, seperti merokok, konsumsi alkohol, atau penggunaan narkoba.
6. Kelahiran kembar dua atau lebih (triplet), terutama jika salah satu bayi meninggal saat kelahiran, sementara yang lain bertahan hidup.

Tanda serta gejala kondisi ini bervariasi anatara orang dengan orang lain sebab cerebral palsy dapat menjadi pengaruh ke seluruh tubuh atau terbatas, terlebih pada satu atau dua anggota tubuh, atau satu sisi tubuh. Hal ini juga termasuk gerakan dan koordinasi, bicara, dan makan, perkembangan, dan masalah lainnya.

Pada anak atau bayi dengan cerebral palsy, berbagai gejala dapat muncul, meliputi:

1. Pergerakan dan Koordinasi

a. Cenderung menggunakan satu sisi tubuh, misalnya menyeret salah satu kaki saat merangkak atau hanya menggunakan satu tangan untuk mengambil benda.
b. Kesulitan melakukan gerakan presisi, seperti saat mengambil sesuatu.
c. Gaya berjalan yang tidak normal, seperti berjinjit, berjalan menyilang seperti gunting, atau dengan tungkai terbuka lebar.
d. Otot yang terlalu kaku atau sangat lemas.
e. Sendi kaku yang sulit digerakkan sepenuhnya (kontraktur sendi).
f. Tremor di wajah, lengan, atau anggota tubuh lainnya
g. Gerakan tak terkendali seperti menggeliat.
h. Kemampuan Berbicara dan Makan

2. Kemampuan berbicara dan makan

a. Kesulitan berbicara (disartria).
b. Kesulitan menelan (disfagia).
c. Kesulitan mengisap dan mengunyah.
d. Air liur yang terus-menerus menetes.
e. Pertumbuhan dan Perkembangan.

3. Pertumbuhan dan perkembangan

a. Anggota tubuh yang tumbuh lebih kecil dari ukuran normal.
b. Keterlambatan perkembangan motorik, seperti duduk, berguling, atau merangkak.
c. Kesulitan belajar.
d. Gangguan kecerdasan.

4. Sistem Saraf

a. Kejang (epilepsi).
b. Gangguan penglihatan dan pendengaran.
c. Respons yang kurang terhadap sentuhan atau rasa nyeri.
d. Gangguan emosional dan perilaku.
e. Kesulitan menahan buang air kecil (inkontinensia urine).

Gejala cerebral palsy bisa berkisar dari ringan hingga berat, tergantung pada area otak yang terdampak. Biasanya, gejala muncul dalam dua tahun pertama kehidupan anak dan bersifat permanen. Jika menemukan tanda dan gejala penyakit ini, segera lakukan pemeriksaan agar dapat didiagnosis dan ditangani demi meningkatnya kualitas hidup anak. Dalam melakukan diagnosis, dokter memberi saran terkait pemeriksaan lanjut seperti:

1. Tes darah dilakukan untuk mengeliminasi kemungkinan bahwa gejala disebabkan oleh kondisi atau penyakit lain.
2. Pemindaian MRI, CT scan, dan USG digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan atau kelainan dalam perkembangan area otak.
3. Elektroensefalografi (EEG) dilakukan untuk memantau aktivitas listrik di otak dengan menggunakan perangkat khusus yang dipasang di kulit kepala.

Setelah diagnosis cerebral palsy ditegakkan, dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan untuk menilai gangguan pada kecerdasan, postur, dan keseimbangan. Pemeriksaan ini juga mencakup tes untuk mengidentifikasi masalah berbicara, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan gerak.

Namun hingga saat ini, belum ada obat yang ampuh dalam menyembuhkan cerebral palsy. Metode pengobatan dilakukan untuk mrningkatkan kemampuan penderita dalam melakukan aktivitas secara mandiri. Metode yang diberikan biasanya obat-obatan, terapi, dan operasi.

Meskipun penyakit ini tidak dapat terdeteksi penyebabnya secara penuh serta kurangnya upaya pencegahan, dalam mengurangi risiko gangguan pada perkembangan otak yang menjadi pemicu cerebral palsy masih dapat melakukan sejumlah upaya pencegahan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan sebelum dan selama kehamilan, serta pasca persalinan, di antaranya:

1. Merencana kehamilan secara keseluruhan, seperti rutin vaksinasi MMR dan meningkatkan penerapan gaya hidup sehat.
2. Periksa kehamilan secara berkala
3. Mengikuti aturan lalu lintas agar terhindar dari kecelakaan lalu lintas.
4. Hindari kebiasaan merokok dan konsumsi minimal beralkohol, terutama di masa kehamilan
5. Tidak menyalahgunakan NAPZA.

(Anastasia Srinovanda Cahyaningrum; berbagai sumber)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#penanganan #pencegahan #kelumpuhan #cerebral palsy #otak