RADAR MALIOBORO - Media sosial terutama X seringkali menjadi tempat bagi banyak orang untuk mengungkapkan keluh kesah yang mereka alami. Dengan menyampaikan keluh kesah di X, seseorang mungkin merasa bebannya terangkat karena telah lama memendam permasalahannya, terlebih bila ada tanggapan berupa kesamaan ataupun dukungan sampai solusi. Keluh kesah yang dibagikan tidak jauh-jauh tentang permasalahan keluarga, asmara, pendidikan, dan lain-lain. Salah satu keluh kesah yang disampaikan yang sempat menjadi populer adalah permasalahan yang dirasakan oleh anak perempuan pertama.
Topik anak perempuan pertama menjadi menarik dibahas sebab banyak orang yang merasa kesamaan beban yang ditanggung dengan panggilan atau labelling tersebut. Hal ini mereka dibebankan berbagai stigma sebagai perempuan dengan tanggung jawab dalam pengasuhan di lingkungan keluarga maupun masyarakat sekaligus mengemban tanggung jawab sebagai anak sulung yang selalu dianggap harapan dan contoh keluarga.
Singkatnya mereka, para anak perempuan pertama merasa telah mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mengasuh, mengurus rumah tangga, mengurus emosi, sampai pada menanggung biaya keluarga. Bahkan beberapa anak perempuan pertama tak jarang mengalami pendewasan sejak dini karena pola asuh orang tua yang menuntut tanggung jawab yang besar yang belum sesuai dengan kemampuan perkembangan mereka. Mereka pun ada perasaan seakan menjadi sasaran kesalahan atau kambing hitam dalam keluarganya, seperti dianggap kakak yang kejam ketika menyuruh adik-adiknya ataupun menjadi tameng ketika berhadapan dengan kesalahan dari orang tua jika apa yang telah terjadi tidak sesuai dengan rencana.
Fenomena ini juga dikenal sebagai _eldest daughter syndrome_ . Meskipun memiliki penyebutan _syndrome_ atau sindrom, nyatanya _eldest daughter syndrome_ atau sindrom anak perempuan pertama tidak diakui dalam _Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder_ . Hal ini disebabkan sindrom ini berbentuk pola yang disadari banyak orang. Mengutip dari laman _Health_ , seorang psikolog, Morton menyatakan bahwa anak sulung perempuan cenderung merasa bertanggung jawab sebagai orang tua ketiga terkait pengasuhan emosional seluruh keluarga, serta dituntut agar memenuhi standar yang lebih dari saudara kandungnya sehingga memiliki sifat seperti berikut:
1. merasa punya tanggung jawab yang kuat
2. semangat tinggi dan selalu ingin menoreh prestasi yang membanggakan
3. sering merasa cemas hingga dapat berujung depresi
4. sulit menetapkan batasan
5. sering berpura-pura kuat atau menyenangkan di depan orang lain
6. merasa kesal dengan saudara kandung
7. ketika menjalani hubungan asmara ketika dewasa sering mengalami kesulitan
8. cenderung perfeksionis
9. mendahulukan orang lain ketimbang diri sendiri
Meskipun sindrom ini tidak diakui secara resmi dampak yang diberikan cukup besar, terutama di mana mereka telah terbiasa mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri sehingga mempengaruhi kesehatan fisik dan mental. Hal yang pertama yang dilakukan adalah lebih memprioritaskan diri sendiri, dengan lebih banyak menghabiskan waktu berharga untuk diri sendiri serta afeksi berupa penghargaan terhadap diri sendiri bahwa setidaknya telah berhasil bertahan hingga saat ini. Selanjutnya perlunya menjaga kesehatan fisik dan mental dengan penerapan pola hidup sehat seperti tidur yang cukup, memperhatikan konsumsi makanan sehat, olahraga, serta mengikuti kegiatan yang membuat diri sendiri bahagia dan lega.
Mulailah untuk terbiasa menetapkan batasan diri yang jelas terutama yang berkaitan dengan kebutuhan dan keinginan pribadi. Hal ini dapat diawali dengan belajar untuk katakan “tidak” kepada orang lain jika memang tidak berkenan dan usahakan perlahan-lahan untuk tidak sering menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. Membaur dengan orang lain yang mengalami permasalahan serupa pun disarankan. Selain untuk berbagi cerita, bergabung dengan orang yang memiliki pengalaman sama dapat membuat perasaan lebih baik karena didukung dan belajar dari pengalaman oran lain.
Apabila telah berada ditahap memerlukan penanganan lebih, segeralah mencari bantuan profesional. Hal ini dimaksud agar trauma atau tekanan yang dialami tidak berkepanjangan. Biasanya akan diarahkan terapi seperti Terapi Perilaku Kognitif (CBT), Terapi Fokus Trauma (TF-CBT), dan Terapi Desensitisasi dan Pemrosesan Ulang Gerakan Mata (EMDR) agar membantu dalam pengenalan dan atasi distorsi kognitif serta berkembangnya keterampilan relaksasi dan mengatur emosi.
Jikalau orang di sekitar atau dikenal mengalami _eldest daughter syndrome,_ hal yang harus dilakukan adalah dengarkan cerita mereka tentang perasaan dengan empati atau tanpa memberikan penilaian. Berilah mereka dukungan agar merasa dimengerti dan percaya mereka tidak sendirian. Selain itu, apresiasi atas pencapaian mereka apapun itu agar merasa dihargai dan diakui.
Mengajak mereka untuk lebih memperhatikan diri sendiri dan membantu dalam belajar terkait penetapan batasan pun perlu ditekankan agar mereka semakin lebih memprioritas diri sendiri bukan hanya orang lain. Apabila kesulitan yang dihadapi berat, doronglah mereka untuk datang ke bantuan profesional agar tidak semakin melebar hingga mengganggu aktivitas mereka.
(Anastasia Srinovanda Cahyaningrum; berbagai sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin