RADAR MALIOBORO - Air hujan sering dianggap dapat menyebabkan demam dan sakit kepala, apalagi hujan yang terjadi pada saat langit cerah.
Terdapat mitos yang dipercaya masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, bahwa hujan di saat langit cerah atau disebut ‘hujan panas’ pertanda kabar buruk atau kesedihan orang yang meninggal.
Lantas, benarkah demikian?
Mari kita menjelajahi fakta, pertama-tama air hujan tidak secara langsung menyebabkan demam.
Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa demam disebabkan karena infeksi virus atau bakteri.
Demam adalah cara tubuh menyerang virus atau bakteri yang masuk ke dalam tubuh.
Karena ada banyak virus atau bakteri yang sensitif terhadap perubahan suhu tubuh.
Perubahan suhu yang tiba-tiba dapat membantu tubuh menjadi tempat yang tidak aman bagi virus atau bakteri.
Air hujan sendiri tidak mengandung virus atau bakteri, serta memiliki kandungan mineral yang sedikit karena tidak melewati bebatuan dan aliran sungai.
Air hujan berasal dari proses evaporasi, artinya air yang ada di bumi seperti laut, danau, sungai, dan sebagainya mengalami penguapan.
Maka kualitas air hujan ditentukan berdasarkan di mana proses ini terjadi, tempat-tempat yang telah terkontaminasi zat berbahaya membuat air hujan memiliki kandungan yang berbahaya pula.
Dapat ditarik kesimpulan demam yang terjadi setelah hujan sebenarnya dikarenakan adanya virus atau bakteri yang masuk ke dalam tubuh.
Baca Juga: 17 Anime Action Winter 2025 yang Siap Menemani Kamu! Jangan Lewatkan Keseruannya!
Kehujanan dapat menyebabkan terjadinya penurunan daya tahan tubuh akibat kedinginan, serta memungkinkan tubuh mengalami perubahan suhu secara mendadak sehingga tubuh akan melakukan penyesuaian ekstrem.
Akhirnya tubuh dalam kondisi lemah dan lebih rentan untuk terinfeksi virus atau bakteri
Perubahan suhu tubuh akibat hujan memungkinkan terjadinya demam, sehingga sangat disarankan untuk segera mengganti pakaian yang basah akibat hujan supaya tidak kedinginan dan menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Hujan pada saat cuaca cerah atau ‘hujan panas’ diyakini sebagai tanda orang meninggal, tidak ada penjelasan ilmiah yang dapat membuktikan hal tersebut.
Jika melihat dari budaya, mitos ini merupakan cara masyarakat zaman dulu dalam berinteraksi dengan alam, mereka menganggap bahwa hujan panas adalah media dari dunia roh untuk memberikan pesan.
Kedua dasar pemahaman ini memang berjalan beriringan dalam kehidupan sebagai warisan budaya.
Hujan panas dapat terjadi karena awan hujan berukuran tidak terlalu besar sehingga masih memberikan ruang untuk matahari menyinari suatu wilayah.
Adapun sebab lainnya adalah awan hujan tidak stabil dan memiliki lubang atau celah yang memberi ruang untuk sinar matahari.
Hujan sebagai fenomena alam yang berdampingan dengan kehidupan manusia, selama beraktivitas ada kalanya kita akan terguyur atau kehujanan.
Ternyata kita dapat menikmati fenomena ini dengan bermain di bawahnya atau hujan-hujanan.
1. Hujan-hujanan menjadi alternatif untuk menghilangkan stres,
2. Mengusir racun dalam tubuh,
3. Menyegarkan tubuh dan pikiran,
4. Meningkatkan sirkulasi darah dan sistem kekebalan tubuh,
5. Membantu meningkatkan kualitas tidur dan membantu mengurangi gangguan tidur, dan
6. Membantu mencegah penuaan dini.
Manfaat ini dapat diperoleh apabila dilakukan dengan benar dan aman.
Jangan hujan-hujanan terlalu lama, pastikan tubuh sedang dalam kondisi fit, dan perhatikan tempat hujan-hujanan (jangan di kawasan berpolusi atau di bawah atap rumah).
(Marina Juliana; Berbagai Sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin