Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Memahami Arti dari Perasaan untuk Membuat Batasan Interaksi Supaya Tidak Gampang Baper

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 26 Desember 2024 | 16:18 WIB
(ilustrasi emosional, Canva)
(ilustrasi emosional, Canva)

RADAR MALIOBORO - Perasaan adalah sesuatu yang bergejolak entah riak atau gemericik di dalam diri manusia sebagai bentuk respons atas situasi dihadapinya.

Komponen di dalam diri manusia yang membentuk sikap, hasil dari pengalaman atau persepsi.

Komponen ini bersifat subjektif dan kompleks.

Kacamata psikologi menjelaskan perasaan sebagai persepsi kejadian dalam tubuh yang berhubungan erat dengan emosi.

Adapun perasaan tidak hanya dimaknai sebagai keadaan internal individu melainkan sebuah efek atas keadaan menyenangkan dan tidak menyenangkan.

Memahami pendefinisian perasaan mengantarkan kita pada kajian yang bersifat internal dan subjektif.

Berkaitan dengan perasaan, keadaan yang dekat dengan muda dan mudi akhir-akhir ini adalah baper atau bawa perasaan.

Menilik dari pemahaman perasaan sebagai hasil dari persepsi, maka melihat perasaan sebagai sifat internal individu dapat ditelaah bagaimana sebuah peristiwa dipersepsikan dan apa peristiwa yang dipersepsikan.

Untuk menghasilkan persepsi, tubuh dilengkapi dengan reseptor yang dapat menangkap sinyal eksternal.

Tubuh manusia memiliki reseptor yang tersebar luas dan bersifat heterogen, tapi reseptor yang dapat kita pahami terlebih dahulu adalah pengindraan untuk melihat, mendengar, mengecap, dan membaui.

Adapun reseptor yang berbentuk sentuhan, dapat merasakan hangat dan dingin.

Ketika reseptor-reseptor tersebut berinteraksi dengan keadaan eksternal, mereka membawa sinyal yang direspons oleh sensor perasaan paling dasar, yaitu sistem otonom.

Sistem otonom adalah sistem saraf yang mengatur aktivitas tubuh di alam bawa sadar atau mereka bekerja dengan sendirinya untuk memastikan tubuh tetap aktif, artinya mengatur tekanan darah, detak jantung, hingga suhu tubuh.

Di dalam sistem ini terdapat dua cabang saraf emosi, yaitu saraf sempatik dan saraf parasimpatik.

Kedua saraf ini bekerja seperti pedal di mobil saat merespons emosi, sistem saraf bekerja seperti pedal gas yang bertanggung jawab atas terjadinya perubahan dalam tubuh.

Seperti tekanan darah, denyut jantung, otot yang menegang, serta menekan nafsu makan.

Sebagai penyeimbang kerja saraf simpatik, hadirlah saraf parasimpatik yang bekerja seperti rem untuk mengembalikan keadaan normal sistem otonom setelah emosi merendah.

Memahami sebuah perasaan tidak bisa lepas dari emosi.

Bentuk emosi menunjukkan perasaan tertentu, misalnya perasaan senang akan menghantarkan pada emosi positif yang juga akan memacu kerja saraf otonom.

Keadaan emosi yang netral menunjukkan sistem saraf ini bekerja dalam keadaan normal, gejolak emosi yang riak atau meninggi atau memanas.

Akan mengaktifkan sistem saraf simpatik untuk meningkatkan laju aktivitas internal tubuh.

Begitu pula sebaliknya dalam keadaan emosi yang positif atau senang.

Penjelasan ini akan serupa pada keadaan emosi lainnya, yang dapat kita pahami bahwa kategori emosi bersifat heterogen.

Mekanisme ini membuktikan dengan adanya interaksi gairah fisiologis dan kognisi dalam menentukan ekspresi emosional, melahirkan sebuah perasaan.

Keadaan emosi akan menunjukkan bagian yang terkoneksi bisa berupa sinyal positif atau negatif yang didapatkan dari reseptor.

Sistem emosi ini selanjutnya dapat kita sebut sebagai perasaan yang muncul atas interaksi tubuh dengan peristiwa eksternal yang terjadi.

Mengambil contoh fenomena “Baper” yang akrab di telinga akhir-akhir ini, baper atau bawa perasaan adalah istilah yang digunakan untuk menyebut individu yang menyertakan perasaan secara khusus atau mendalam selama berinteraksi dalam relasi baik kelompok maupun personal.

Bila selama interaksi reseptor menangkap sinyal baik, maka ekspresi emosi akan menunjukan kesenadaan, begitu pula sebaliknya.

Akan tetapi, mekanisme ini tidak dapat dipahami secara sederhana, karena persepsi yang diberikan oleh emosi akan berbeda pada setiap orang dan hal tersebut dilatarbelakangi oleh pengalaman mereka.

Perasaan lahir melalui kompleksitas fisiologis dan kognisi.

Baper dapat terjadi karena perasaan lebih dominan digunakan daripada logika saat berada dalam interaksi.

Saat hal ini terjadi individu akan memberi reaksi berdasarkan kemampuan perasaannya dan tidak menelaah lebih lanjut berdasarkan pemikiran yang terstruktur dan kebenaran yang masuk akal.

Misalnya baper kepada lawan jenis yang sedang berinteraksi sebagai teman, mengalami ketertarikan perasaan, mengalami detak jantung yang berdebar-debar akibat merasa senang, hal ini akan menjadi rancu apabila perasaan serupa terjadi dalam konteks yang lebih khusus atau intens.

Mengambil penjelasan tentang reseptor, contoh ini menjelaskan bagaimana reseptor bekerja memberikan sensasi tertentu pada internal individu sehingga melahirkan pendefinisian baru melalui perasaan.

Oleh sebab itu dalam sebuah interaksi individu perlu membuat batasan untuk menjaga reaksi serupa dari reseptor hingga pembiasaan yang menyebabkan rancu-nya sebuah hubungan.

Membuat batasan dimulai dari diri sendiri merupakan langkah awal yang tepat, karena di sini kita telah memahami seberapa jauh batas kemampuan perasaan yang dimiliki.

(Marina Juliana; Berbagai Sumber)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#interpersonal #kognisi #hubungan #manusia #antar #Individu #reaksi