Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Manajemen Emosi: Marah Adalah Emosi yang Mengerahkan Banyak Energi, Cobalah untuk Berdiam Diri Sebelum Melampiaskannya

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 26 Desember 2024 | 19:24 WIB
Ilustrasi seseorang yang sedang emosi.
Ilustrasi seseorang yang sedang emosi.

RADAR MALIOBORO - Pernah merasa lebih mudah mengekspresikan perasaan bila dengan orang terdekat?

Misalnya lebih mudah marah kepada orang yang sudah memiliki hubungan dekat dengan kita, padahal sebenarnya topik yang digunakan untuk marah terbilang cukup sepele.

Misalnya marah karena sedang bicara, lawan bicara sibuk dengan ponsel mereka.

Hal ini mungkin terdengar sepele, namun akan jadi masalah besar bila berhadapan dengan orang terdekat.

Selayaknya mencoba memahami sebuah emosi, marah merupakan emosi yang rumit untuk dipahami.

Karena lagi-lagi kita perlu melihat dengan siapa emosi tersebut dihadapkan.

Artinya sebuah emosi dapat muncul tanpa koordinat khusus, menyesuaikan kebutuhan setiap orang.

Marah merupakan salah satu bentuk emosi yang dapat mudah muncul saat berinteraksi dengan orang terdekat.

Marah sebenarnya dapat memberikan dampak dalam hubungan interpersonal, entah itu sebuah kerekatan atau merenggang.

Berdasarkan perspektif psikologis cara menyalurkan kemarahan dapat menentukan kualitas hubungan dengan si target emosi tersebut.

Dalam hubungan interpersonal, amarah lebih mudah muncul karena hubungan yang dekat membuat kita menaruh mudah menaruh ekspektasi.

Muncul sebuah anggapan dalam diri bahwa orang terdekat harus memenuhi kebutuhan berupa dukungan, mengerti dan perhatian. Apabila ekspektasi tersebut tidak terpenuhi kita cenderung merasa kecewa dan frustasi.

Baca Juga: Memahami Arti dari Perasaan untuk Membuat Batasan Interaksi Supaya Tidak Gampang Baper

Situasi ini dapat digambarkan seperti kita merasa tidak diperlakukan secara adil, dan merasa tidak memiliki kendali atas situasi atau memiliki bagian penting dalam hubungan.

Akhirnya melahirkan keinginan untuk marah, sekaligus menjadi alternatif mendapatkan kembali kontrol atas situasi.

Tentang usaha mengambil kontrol ini, perlu dipahami bahwa marah merupakan emosi negatif, yang kemunculannya sering kali lebih besar secara energi.

Ada baiknya kita melakukan manajemen emosi supaya dalam membina hubungan dapat meminimalisir keretakan:

1. Tenangkan Diri

Cara paling awal apabila merasa marah adalah tenangkan diri, bisa dilakukan dengan duduklah dan mengatur pernafasan.

Tarik nafas secara perlahan dan tahan selama 3 detik, lalu hembuskan dan lakukan secara berulang sampai merasa pikiran lebih tenang.

Langkah ini dapat membimbing anda supaya mengambil keputusan lebih bijak.

2. Pertimbangkan Dampak

Sebelum memutuskan untuk marah, pertimbangkanlah dampak yang akan didapatkan setelah membiarkan amarah menguasai.

Dampak dari sebuah arah tentunya hubungan akan menjadi tegang yang pada akhirnya membuat retakan.

Ketika menemukan sesuatu yang dapat memicu amarah, maka cobalah mengambil jarak untuk menenangkan diri supaya dapat melihat pemicu tersebut dari sisi yang lebih positif.

3. Jangan Berlebihan

Marah memang emosi negatif yang menghabiskan energi lebih besar, maka sadarilah bahwa apabila anda merasa perlu marah, sebaiknya kendalikan emosi itu supaya tidak dilampiaskan secara berlebihan.

Menahan emosi terlalu lama memang tidak baik bagi tubuh dan psikis, tapi membiarkannya meluap berlebihan juga dapat memberikan dampak yang merugikan.

Ungkapkan emosi dengan menyesuaikan pada permasalahan yang terjadi.

4. Spiritual

Langkah selanjutnya yang dapat dicoba untuk meredakan emosi marah adalah dengan menarik hubungan spiritual dalam keputusan, lakukan doa sesuai dengan kepercayaan agar dapat menenangkan pikiran.

Manusia sejatinya perlu dibimbing, maka berdoa kepada tuhan merupakan awalan positif untuk mendapatkan bimbingan.

5. Perhatikan Waktu

Tidak serta merta sebuah emosi dapat diungkapkan, apalagi marah.

Perlu mempertimbangkan waktu yang digunakan untuk mengekspresikan emosi ini.

Melampiaskan emosi sesaat pada akhirnya dapat memberikan penyesalan dikemudian hari.

Ambillah keputusan dan berbicaralah saat perasaan dalam keadaan netral, jangan mengambil keputusan dikala bahagia, apalagi sedang marah.

(Marina Juliana)
Sumber: Universitas Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

Editor : Iwa Ikhwanudin
#amarah #keputusan #marah #perasaan #atur #Pernapasan