RADAR MALIOBORO - Paylater menjadi metode belanja yang gemar digunakan warga Indonesia saat ini, tercatat pinjaman pada layanan Buy Now Pay Later (BNPL) sampai setengah tahun 2024 telah menyentuh angka Rp 26,47 triliun.
Hal ini didukung dengan aktivitas belanja online yang mampu memberikan banyak pilihan kepada orang-orang, misalnya mereka yang tidak ingin keluar rumah dapat berbelanja via internet.
PayLater juga memiliki cara kerja yang mudah sehingga cukup banyak digandrungi untuk mendukung pemenuhan kebutuhan atau keinginan.
Kebiasaan ini akhirnya memicu perilaku konsumtif.
Pay Later merupakan produk perusahaan keuangan dengan sistem pembayaran nanti untuk belanja dan pengeluaran lainnya secara online atau offline dengan jumlah limit tertentu.
Cara kerja Pay Later dengan mengisi data anda saat ingin checkout pembelian, kemudian tunggu sebentar sampai mendapatkan persetujuan atau penolakan.
Sistem ini mungkin akan berbeda pada setiap platform.
Fasilitas pay later bersifat fleksibel dan praktis, serta terindikasi aman karena diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Produk ini adalah bentuk perkembangan teknologi, aspek kehidupan menjadi praktis, misalnya dalam memenuhi kebutuhan keuangan yang dapat dilakukan melalui e-banking.
Adapun hal-hal lainnya yang mendukung penggunaan paylater, sebagai berikut:
1. Memenuhi Kebutuhan Insidental
Terdapat kemungkinan setiap orang memiliki kebutuhan tidak terduga, jenis kebutuhan yang bisa datang tanpa pertimbangan atau perhitungan waktu, kebutuhan darurat tanpa pola pasti.
Kebutuhan ini misalnya darurat kesehatan, dan peralatan yang rusak yang cenderung tidak ada dalam daftar kebutuhan bulanan.
Kebutuhan ini mendorong untuk menggunakan dana tabungan yang sifatnya darurat.
Paylater menawarkan penggunaan yang fleksibel untuk memenuhi kebutuhan terdesak di saat dana belum tercukupi, karena sistemnya yang cukup mudah dan singkat.
2. Kepastian Angka Cicilan
Paylater memberikan total pembelian yang dipecah menjadi beberapa pembayaran yang sama, sistem menghutang dengan jumlah yang pasti setiap bulannya dan kapan tenggat melunasi.
Adapun sistem pelunasan bersifat fleksibel, menawarkan berbagai pilihan tenggat (tenor), serta ada juga platform dengan pinjaman tanpa bunga selama tenggat waktu tertentu.
Konsumen dapat membayar barang yang dibeli dengan cicilan jangka pendek yang biasanya tidak akan memberikan pengaruh kepada pengeluaran bulanan, tergantung bagaimana pengelolaan keuangannya.
3. Promo Menggiurkan
Promo lahir sebagai upaya dari pelaku usaha untuk menarik minat konsumen, karena masifnya perusahaan yang menyediakan berbagai sistem pembayaran.
Promo ini bisa berupa diskon dan cashback atau promo lainnya.
Penawaran menarik ini tentunya menimbulkan minat konsumen untuk melakukan pembelian, keinginan tersebut mendesak untuk menggunakan paylater.
Misalnya supaya tidak ketinggalan promo.
Lantas apakah hal-hal ini dapat dijadikan alasan untuk mendukung kita menggunakan pay later?
Sederhananya pay later adalah mengutang.
Meski pendapatan bulanan dapat membantu pembayaran utang, tetap saja akan mengganggu keuangan.
Berikut penjelasan kerugian menggunakan pay later dalam berbelanja:
1. Mengganggu Keuangan Pribadi
Cicilan yang harus dibayar meski memiliki tenggat dan jumlah yang pasti, namun hal ini akan menambah pengeluaran bulanan.
Biasanya setiap orang memiliki kebutuhan darurat yang harus dipenuhi dan akhirnya menghambat pembayaran cicilan bulanan yang telah disepakati.
Kebutuhan darurat itu tidak dapat diperhitungkan, tapi ada cara supaya lebih siap menghadapinya.
Tentunya dengan menabung, menyimpan uang tabungan dalam bentuk cash atau dalam rekening, serta perlu membangun dana darurat dalam jumlah lebih besar untuk masa-masa yang tidak pasti.
Tabungan ini dapat menjaga kebutuhan tetap terpenuhi ataupun kebutuhan darurat.
Dalam perencanaan keuangan, sebaiknya melakukan peninjauan kembali dan membuat rencana keuangan uang yang dapat menyesuaikan kebutuhan, tabungan, dan investasi.
2. Melahirkan Perilaku Konsumtif
Konsumerisme adalah perilaku berbelanja secara berlebihan atau tanpa pertimbangan matang untuk memenuhi gaya hidup.
Sistem Buy Now Pay Later (BNPL) bagaikan pisau bermata dua yang membantu berbelanja kebutuhan, serta membangun kebiasaan konsumtif karena sifatnya yang praktis dalam berbelanja dan memenuhi keinginan.
Fasilitas BNPL juga tidak jarang didukung dengan adanya promo menjadi penawaran yang menggiurkan.
Fasilitas ini cenderung lebih dekat dan dapat menjangkau kalangan muda, karena mereka menjadi bagian dari objek perkembangan teknologi.
Sehingga sebagian besar anak muda terpengaruh untuk menggunakan fasilitas yang bisa berdampak pada kebiasaan tidak dapat membedakan kebutuhan dan keinginan.
Situasi ini sebaiknya dibarengi dengan literasi keuangan.
Anak muda perlu memiliki kesadaran pengelolaan keuangan.
Berdasarkan framework dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengungkapkan literasi keuangan menjadi tiga tolok ukur, yaitu knowledge, behaviour, dan attitude.
Tiga komponen ini dibutuhkan dalam diri seseorang selama membuat keputusan dengan tujuan mencapai kesejahteraan individu.
(Marina Juliana; berbagai sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin