Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Perayaan Menyambut Natal di Jerman dengan Memerankan Sosok Kramus Melalui Festival Klaasohm

Iwa Ikhwanudin • Minggu, 5 Januari 2025 | 17:34 WIB
(ilustrasi perayaan Klaasohm yang menggunakan tanduk sapi)
(ilustrasi perayaan Klaasohm yang menggunakan tanduk sapi)

RADAR MALIOBORO - Klaasohm merupakan festival menyambut natal yang dilakukan dengan cara berperan sebagai sosok jahat Krampus, teman dari Santo Nikolas atau di Indonesia dikenal sebagai Sinterklas.

Kramus digambarkan sebagai setan berbulu, biasanya memiliki nama yang berbeda-beda pada setiap daerah.

Festival ini termasuk dalam perayaan mengerikan, karena melibatkan proses dan kostum menyeramkan.

Festival Klaasohm juga dapat disebut sebagai perayaan Santo Nikolas atau Sinterklas.

Festival ini sebagai bagian dari perayaan eksklusif yang dilakukan di Jerman, lebih tepatnya di Pulau Borkum yang dilakukan setiap malam di tanggal 5 Desember.

Pada perayaan ini para pria berdandan untuk menyerupai sosok Krampus dengan menggunakan kostum kulit domba dan sayap besar yang terbuat dari banyak bulu burung.

Para pria yang telah siap akan pergi ke seluruh pulau untuk berburu, mereka memburu wanita dan menakut-nakuti penduduk.

Kemudian berkumpul di pusat desa dan mulai berusaha terbang seakan-akan melarikan diri yang disimbolkan dengan melompat dari ketinggian kecil menuju kerumunan yang berkumpul.

Perayaan ini dilakukan secara eksklusif, diperuntukan hanya untuk penduduk pulau Borkum, dan wisatawan atau reporter dilarang untuk menontonnya.

Bahkan kegiatan ini tidak diizinkan untuk direkam.

Festival Klaasohm merupakan tradisi mengerikan, dilakukan dari siang hingga malam hari.

Terdapat kelompok pemuda yang disebut sebagai “penangkap” yang bertugas mengejar perempuan dan menahan mereka untuk diserahkan kepada para Klaasohm.

Para Klaasohm bertugas memukul pantat para perempuan yang tertangkap menggunakan tanduk sapi, diikuti dengan sorak-sorak dari orang-orang sekitar, termasuk anak-anak.

Perayaan ini tumbuh menjadi keyakinan masyarakat yang awal mula menggunakan narasi permainan petak umpet kepada anak-anak perempuan.

Akhirnya mereka ikut serta dalam perayaan tanpa mengetahui proses sebenarnya.

Tradisi ini menimbulkan luka tersendiri bagi kaum perempuan yang pernah tinggal di pulau Borkum, mereka mengalami kesakitan dan memar selama beberapa hari.

Aktivitas yang mengerikan ini tentunya menimbulkan trauma pada anak-anak tersebut dan para perempuan.

Klaasohm menjadi agenda tahunan yang tampaknya lebih mendukung kaum pria, mereka memiliki kebebasan untuk menggunakan kekuatan terhadap perempuan dalam bentuk kesenangan yang berbahaya.

Para pemuda di pulau Borkum dituntut untuk ikut dalam festival sebagai bentuk menghormati tradisi dan kehidupan di dalam pulau.

Melalui intensitas kekerasan yang terjadi selama festival menyambut natal, saat ini tradisi tersebut dapat dianggap kontroversial dalam beberapa tahun terakhir.

Dan pemerintah memutuskan untuk menjauhkan segala tindakan kekerasan terhadap perempuan di dalam perayaan.

Serta mereka mengungkapkan permintaan maaf atas tindakan yang menjadi sejarah selama bertahun-tahun.

(Marina Juliana; Berbagai Sumber)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Perayaan 10 Tahun Terlatih Patah Hati #natal #klaas-jan huntelaar #jerman #perayaan