Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Krisis Obesitas di Indonesia Apa yang Salah dengan Pola Makan Kita?

Iwa Ikhwanudin • Senin, 24 Februari 2025 | 22:59 WIB
ilustrasi obesitas
ilustrasi obesitas

RADAR MALIOBORO - Kasus obesitas di Indonesia terus meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa pada tahun 2025, lebih dari 35% populasi orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas, naik dari 28% pada tahun 2020. Tren ini juga mengkhawatirkan di kalangan anak-anak, dengan angka obesitas pada anak mencapai 18%, meningkat hampir dua kali lipat dalam satu dekade terakhir.

Fenomena ini menimbulkan banyak pertanyaan: Apa yang sebenarnya salah dengan pola makan masyarakat Indonesia?

Gaya Hidup Tidak Sehat dan Konsumsi Makanan Instan

Pakar gizi menyoroti perubahan gaya hidup masyarakat sebagai salah satu faktor utama lonjakan obesitas. Konsumsi makanan cepat saji dan minuman manis semakin meningkat, terutama di kalangan anak muda. Banyak masyarakat yang lebih memilih makanan siap saji yang tinggi kalori, lemak, dan gula, tetapi rendah serat dan nutrisi.

"Kesibukan dan kemudahan akses terhadap makanan instan membuat banyak orang mengabaikan pola makan sehat. Padahal, konsumsi makanan tinggi gula dan lemak jenuh dalam jangka panjang bisa memicu obesitas dan berbagai penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi," ujar Dr. Rina Wijayanti, ahli gizi dari Universitas Indonesia.

Kurangnya Edukasi Gizi Sejak Dini

Selain pola makan yang tidak seimbang, kurangnya edukasi tentang gizi juga menjadi faktor utama. Banyak orang tua yang masih belum memahami pentingnya asupan nutrisi yang tepat bagi anak-anak mereka. Akibatnya, kebiasaan makan tidak sehat terbentuk sejak usia dini.

"Anak-anak yang terbiasa mengonsumsi makanan cepat saji dan minuman manis sejak kecil cenderung membawa kebiasaan ini hingga dewasa. Jika tidak ada intervensi dini, risiko obesitas di masa depan semakin besar," tambah Dr. Rina.

Kurangnya Aktivitas Fisik

Di era digital, banyak orang menghabiskan waktu lebih lama di depan layar, baik untuk bekerja, bermain game, maupun bersosialisasi di media sosial. Aktivitas fisik menjadi berkurang, sehingga kalori yang masuk ke tubuh tidak terbakar dengan optimal.

"Saat ini, anak-anak lebih sering bermain gadget dibandingkan bermain di luar rumah. Ditambah dengan pola makan yang buruk, ini menjadi kombinasi berbahaya yang mempercepat peningkatan angka obesitas," kata Didi Kurniawan, seorang pelatih kebugaran di Jakarta.

Baca Juga: Sudah Sterilkah Kucingmu? Pentingnya Sterilisasi Pada Kucing

Apa Solusinya?

Untuk mengatasi krisis obesitas di Indonesia, diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat. Beberapa solusi yang bisa diterapkan adalah:

1. Edukasi gizi sejak dini – Sekolah dan orang tua harus lebih aktif mengajarkan pola makan sehat kepada anak-anak.

2. Regulasi makanan tinggi gula dan lemak – Pemerintah perlu memperketat aturan mengenai kandungan gula, garam, dan lemak dalam produk makanan kemasan.

3. Promosi gaya hidup aktif – Kampanye nasional untuk meningkatkan aktivitas fisik harus digalakkan, baik di sekolah maupun di lingkungan kerja.

4. Akses makanan sehat yang lebih luas – Perlu adanya kebijakan untuk memastikan makanan sehat lebih terjangkau dibandingkan makanan cepat saji.

5. Nur rahmawati

(Nur rahmawati)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#obesitas #kementerian kesehatan #kasus