Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Muncul Tren "Kabur Aja Dulu“ Anak Muda Indonesia Pilih Pergi karena Sulitnya Mencari Lapangan Kerja di Tanah Air

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 26 Februari 2025 | 04:17 WIB
Ilustrasi paspor (pinterest)
Ilustrasi paspor (pinterest)

RADAR MALIOBORO - Fenomena "Kabur Aja Dulu" tengah menjadi tren di kalangan anak muda Indonesia. Istilah ini menggambarkan keputusan mereka untuk meninggalkan kampung halaman atau bahkan negeri sendiri demi mencari peluang yang lebih baik. Salah satu faktor utama yang mendorong tren ini adalah sulitnya mendapatkan pekerjaan di dalam negeri, ditambah dengan rendahnya daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia di pasar kerja global.

SDM Indonesia Dinilai Kurang Kompetitif

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada 2024 masih berada di angka 5,32%. Meskipun angka ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya, banyak lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah masih kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kompetensi mereka.

Menurut laporan World Economic Forum (WEF), daya saing tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kurangnya keterampilan digital, minimnya pengalaman kerja, dan masih lemahnya budaya inovasi di kalangan pekerja muda.

"Kabur Aja Dulu" Jadi Pilihan

Ketidakpastian ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan membuat banyak anak muda memilih untuk "kabur" ke luar negeri atau berpindah ke kota-kota besar yang lebih menjanjikan. Beberapa memilih bekerja sebagai pekerja migran di negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Arab Saudi, sementara yang lain mencoba peruntungan di industri kreatif dan startup di kota-kota metropolitan seperti Jakarta dan Bandung.

"Aku sudah kirim lebih dari 50 lamaran kerja di Indonesia, tapi belum ada yang nyantol. Akhirnya aku ambil peluang jadi tenaga kerja magang di Jepang. Gajinya lebih besar, dan aku bisa dapat pengalaman internasional," ujar Rina (24), lulusan universitas swasta di Jakarta.

Sementara itu, bagi mereka yang tetap bertahan di dalam negeri, banyak yang memilih pekerjaan lepas (freelance) atau menjadi content creator demi mencari penghasilan yang lebih fleksibel.

Peran Pemerintah dan Dunia Pendidikan

Pemerintah Indonesia telah berupaya meningkatkan kualitas SDM melalui program pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan, dan kerja sama dengan industri. Namun, tantangan terbesar adalah memastikan lulusan memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

Pengamat ketenagakerjaan, Rizky Fauzan, menilai bahwa tren "Kabur Aja Dulu" mencerminkan kegelisahan generasi muda terhadap ketidakpastian masa depan. "Bukan hanya masalah pengangguran, tetapi juga soal kualitas pekerjaan yang tersedia. Banyak lulusan yang merasa pekerjaan di dalam negeri tidak cukup menjanjikan dari segi gaji dan jenjang karier," ujarnya.

Masa Depan Generasi Muda Indonesia

Jika tren ini terus berlanjut tanpa adanya solusi konkret, Indonesia bisa kehilangan banyak talenta terbaiknya ke negara lain. Oleh karena itu, pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan harus bekerja sama untuk menciptakan ekosistem kerja yang lebih sehat, kompetitif, dan inovatif agar anak muda Indonesia tidak lagi merasa harus "kabur" demi masa depan yang lebih baik.

(Nur rahmawati) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#fenomena #Kabur aja dulu #lapangan kerja