RADAR JOGJA - Aktor Fedi Nuril mengkritik keputusan Presiden Prabowo Subianto yang mengangkat Riefian Fajarsyah, atau Ifan Seventeen, sebagai Direktur Utama PT Produksi Film Negara (PFN).
Melalui akun X pribadinya, Fedi mempertanyakan kompetensi dan pengalaman Ifan di industri perfilman Indonesia.
Kata @prabowo “kita harus menuju ke arah merit (kemampuan) system. Prestasi!”
"Tapi, yang diangkat menjadi Direktur Utama PT Produksi Film Negara (PFN) malah Ifan Seventeen yang kemampuan, pengalaman dan prestasinya dalam film Indonesia gak jelas ????," ujar Fedi Nuril melalui akun X-nya @realfedinuril.
Ia menyoroti ketidaksesuaian antara pernyataan Prabowo tentang pentingnya sistem merit dengan pengangkatan Ifan yang dianggap tidak memiliki rekam jejak jelas di dunia film.
Menurut Fedi, industri perfilman Indonesia memiliki banyak talenta hebat dengan pengalaman dan prestasi yang lebih relevan untuk mengisi posisi strategis tersebut.
Pengangkatan Ifan dianggap justru mencederai semangat profesionalisme dan transparansi yang selama ini digaungkan.
Fedi juga mengunggah video pidato Prabowo yang menekankan pentingnya sistem merit berbasis prestasi dan pengabdian, serta menolak praktik koneksi atau 'koncoisme'.
Namun, Fedi menilai pengangkatan Ifan sebagai Dirut PFN tidak mencerminkan prinsip tersebut, mengingat latar belakang Ifan lebih dominan di industri musik sebagai vokalis band Seventeen.
Selain itu, Fedi juga menyatakan bahwa PFN sebagai lembaga negara yang bertugas memproduksi film nasional seharusnya dipimpin oleh seseorang yang memiliki pemahaman mendalam tentang dunia perfilman, baik dari sisi produksi, distribusi, hingga tantangan industri kedepannya.
Fedi menegaskan bahwa pemimpin PFN harus mampu membawa perubahan nyata dalam industri perfilman nasional, bukan sekadar figur publik yang dikenal di ranah hiburan.
Kritik serupa juga datang dari berbagai kalangan, termasuk aktor dan komedian Pandji Pragiwaksono, yang memberikan tanggapan sarkas terhadap keputusan tersebut.
Di sisi lain, ada juga warganet yang membela Ifan, dengan menyebut bahwa jabatan direktur utama tak selalu harus diisi oleh praktisi film, melainkan bisa juga dipegang oleh sosok dengan jiwa kepemimpinan dan kemampuan manajerial yang baik.
Namun, argumen ini tetap mendapat tanggapan balik dari banyak pihak yang menegaskan pentingnya pemahaman teknis dan pengalaman khusus di dunia perfilman.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak istana maupun dari Ifan Seventeen sendiri terkait kontroversi pengangkatan ini.
Publik pun menanti klarifikasi dari pemerintah mengenai alasan di balik pemilihan Ifan sebagai pemimpin baru PFN. (Adinda Tyas Ramadhani)
Editor : Meitika Candra Lantiva