RADAR MALIOBORO – Rangkaian Garebeg Sawal di Keraton Yogyakarta telah berakhir dengan digelarnya tradisi leluhur berupa Bedhol Songsong pada Senin malam (31/03/2025).
Pagelaran ini bertepatan dengan 1 Sawal 1958 menurut penanggalan Jawa.
Tradisi yang berlangsung khidmat di Kagungan Dalem Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad, Alun-Alun Kidul Keraton Yogyakarta ini menjadi simbolisasi resmi berakhirnya agung Garebeg Sawal.
Prosesi Bedhol Songsong diusung dengan pementasan wayang kulit semalaman penuh, dengan membawakan lakon "Sumantri Ngenger".
Pementasan kali ini didalangi oleh ML. Cermo Kartiko. Antusiasme yang dihasilkan terbilang cukup tinggi lantaran terdapat ratusan masyarakat turut hadir menikmati sajian budaya ini.
Makna di Balik Bedhol Songsong
Adapun pengertian "Bedhol Songsong" secara harfiah yaitu "mencabut payung".
Songsong ageng atau payung yang agung di mana sebelumnya ditancapkan selama Garebeg Sawal berlangsung.
Hal ini secara simbolis dicabut untuk tanda bahwa seluruh rangkaian upacara telah usai dilaksanakan.
Prosesi ini juga menjadi isyarat bagi para pejabat administratif di masa lalu sebagai tanda mereka telah selesai menjalankan tugas upacara kemudian dipersilakan kembali ke wilayahnya masing-masing.
Pun payung agung yang dimaksud, alih-alih sekadar pelengkap visual, melainkan simbolisasi status dan kehormatan.
Payung agung ini merepresentasikan hadirnya para pejabat dalam pisowanan agung.
Meskipun saat ini kehadiran secara fisik para pejabat dalam Garebeg tak lagi seintens dulu, esensi dari Bedhol Songsong tetap dipertahankan lantaran bentuk penghormatan terhadap adat dan nilai simbolisnya.
Mengapa Wayang Kulit?
Persembahan wayang kulit ialah bagian dari spiritualitas dan edukasi budaya. Terlebih lakon "Sumantri Ngenger" yang dipilih memikul kisah penuh kesetiaan, pengabdian, dan dinamika kekuasaan, yang dirasa relevan dengan makna filosofis Bedhol Songsong.
Penonton, irama gamelan, suara dalang, dan cerita pewayangan yang penuh makna semalaman suntuk, menjadi pemantik bahwa budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi dirawat dan dihidupi bersama.
(Umi Jari Widayah)
Editor : Iwa Ikhwanudin