Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Alasan Kang Dedi Mulyadi (KDM) Selalu Mengenakan Iket di Setiap Penampilannya hingga Tuai Kontroversi

Iwa Ikhwanudin • Senin, 28 April 2025 | 20:53 WIB
Ilustrasi Dedy Mulyadi mengenakan iket di tengah kehangatan warga.
Ilustrasi Dedy Mulyadi mengenakan iket di tengah kehangatan warga.

RADAR MALIOBORO — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dikenal luas dengan penampilannya yang khas, mengenakan iket kepala putih dan pakaian pangsi.

Iket tersebut bukan sekadar aksesori, melainkan simbol budaya Sunda yang sarat makna.​

Iket yang dikenakan Dedi Mulyadi dikenal sebagai "Makuta Wangsa", yang secara harfiah berarti "mahkota bangsa".

Dalam tradisi Sunda, iket ini melambangkan kepemimpinan dan mengharuskan pemakainya mengamalkan Panca Dharma, yaitu:​

1. Menghormati asal-usul diri (Purwa Daksi)
2. Tunduk pada hukum dan peraturan
3. Memiliki pengetahuan dan tidak bodoh
4. Jujur dan akurat
5. Berani dan gagah​

Baca Juga: Aura Cinta Diduga Pernah Jadi Model Pinjaman Online (Pinjol), Polemik Wisuda dengan Kang Dedi Mulyadi (KDM) Makin Memanas

"Iket mengandung makna mengikat kepala. Objek yang diikat adalah kepala (pria). Kepala memiliki makna sebagai pemimpin tubuh dengan isinya yaitu otak," tulis buku Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sejak menjabat sebagai Wakil Bupati Purwakarta pada 2003, Dedi Mulyadi konsisten mengenakan iket sebagai bagian dari identitasnya.

"Ya memilih ikat kepala memang ikat sudah bagian dari kehidupan saya," ungkap Dedi Mulyadi.

Bagi Dedi, iket merupakan simbol keterikatan pikiran oleh hati, sementara pakaian pangsi mencerminkan keterbukaan dan gerakan luas.​

Baca Juga: Serahkan Sertipikat Elektronik Door to Door di Semarang, Wamen Ossy Tekankan Soal Keamanan dan Kemudahan Akses

Meskipun iket tersebut merupakan simbol budaya, Dedi Mulyadi tidak luput dari kontroversi.

Beberapa pihak menuduhnya tidak Islami karena mengenakan iket yang dianggap mirip dengan udeng Bali, serta kebijakannya yang dianggap mendukung budaya lokal secara berlebihan.

Dedi menanggapi tuduhan tersebut dengan santai.

"Saya orang Sunda, tradisinya memang pakai ikat kepala. Eh, saya dituduh macam-macam. Jadi Hindu lah, murtad lah, kafir lah, bahkan ada yang menuduh Syiah," ​ujarnya.

Baca Juga: Bina Jajaran Kanwil BPN Provinsi Riau, Menteri Nusron Tegaskan agar Penyelesaian HGU dan Pemetaan Tanah Jadi Prioritas

Iket kepala Dedi Mulyadi telah menjadi ikon yang melekat pada dirinya.

Bahkan, produk iket dengan motif serupa dijual di berbagai platform e-commerce, menunjukkan bahwa gaya ini telah menjadi bagian dari budaya populer.​

Meskipun menghadapi berbagai kritik dan kontroversi, Dedi Mulyadi tetap teguh pada pendiriannya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Sunda melalui simbol iket Makuta Wangsa yang ia kenakan.

(Affan Yunas Hakim)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kang dedi mulyadi #kontroversi #ikat kepala #gubernur jawa barat dedi mulyadi #Kang Dedi