Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Rahasia Ketahanan Pangan Lokal! Desa Adat di Sukabumi ini Punya Cadangan Makanan 95 Tahun ke Depan

Iwa Ikhwanudin • Senin, 19 Mei 2025 | 20:55 WIB
Upacara ngadiukeun penduduk Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar dengan memasukkan ikatan padi secara simbolis ke lumbung keramat atau yang disebut leuit si jimat (Foto: Instagram @tourvill_ciptagelar)
Upacara ngadiukeun penduduk Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar dengan memasukkan ikatan padi secara simbolis ke lumbung keramat atau yang disebut leuit si jimat (Foto: Instagram @tourvill_ciptagelar)

RADAR MALIOBORO - Sebuah Desa Adat bernama Kasepuhan Ciptagelar yang terletak di Sukabumi Jawa Barat memiliki cadangan makanan untuk 95 tahun yang akan datang.

Belakangan, popularitas desa adat ini melambung lantaran beredarnya informasi terkait cadangan makanan yang dikelolanya tersebut.

Hal ini juga menunjukan potensi kuatnya ketahanan pangan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh penduduk Desa Adat Ciptagelar.

Lokasi tepatnya secara administratif terletak di daerah kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Warisan turun temurun ini memuat budaya pertanian tradisional, kearifan lokal, serta sistem sosial tertentu yang mampu membuat penduduknya mempertahankan simpanan bahan dalam kurun waktu yang lama.

Pun pengelolaan ini tak melulu harus dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok melainkan dapat dilakukan secara mandiri dan tentunya berkelanjutan.

Adapun pepatah yang lahir di desa adat ini ialah berupa penghormatan terhadap padi, alih-alih sekadar komoditas dagang melainkan sebagai sumber kehidupan manusia.

Penduduk setempat menyebutnya dengan “Mupusi pare, lain migusti” yang terdapat dalam Jurnal Kasepuhan Ciptagelar: Pertanian sebagai Simbol Budaya dan Keselarasan Alam yang dilansir dari ejournal.undiksha.ac.id.

Diketahui bahwa peninggalan leluhur desa adat ini sudah diwariskan sejak 644-an tahun yang lalu.

Sedangkan keberadaan penduduk yang mendiami wilayah desa sudah sejak tahun 1368 M.

Pusat pengelolaan pangan penduduk desa ialah padi.

Adapun ritual utama yang dilakukan selama satu siklus tanam padi.

Pertama, diawali dengan ngaseuk yaitu proses penanaman padi.

Durasi lamanya proses ini ditentukan batas waktunya oleh Kasepuhan dengan prosesi yang disebut Tutup Nyambut.

Kedua, mipit yang berarti menuai.

Proses ini dilakukan secara manual dan tergolong masih tradisional menggunakan pisau kecil yang disebut etem atau ani-ani.

Adapun alat pertanian penunjang ritual lainnya seperti bambu, tali, dan kayu.

Setelah padi dipanen secara utuh hingga batangnya maka akan diikat lalu dijemur berminggu-minggu lamanya sebelum dimasukkan ke dalam leuit atau lumbung padi.

Ketiga, nganyaran yang berarti menikmati hasil panen raya atau ngabukti.

Sebelum melaksanakannya, diawali dengan menumbuk padi atau yang disebut nutu terlebih dahulu menggunakan lesung.

Proses nganyaran ini memakan waktu berkisar dua jam hingga beras siap dicuci kemudian dimasak dengan hidangan pelengkap lainnya.

Keempat, ponggokan yang bermakna menghimpun data penduduk untuk menyerahkan hasil bumi dan ternak.

Kelima, prosesi seren taun yang berarti puncak penyerahan atau serah terima tahunan.

Hal ini juga merupakan wujud rasa syukur penduduk desa Ciptagelar atas hasil pertanian mereka selama bertahun-tahun.

Masing-masing keluarga di Kasepuhan Ciptagelar memiliki satu lumbung padi yang dapat menampung sebanyak 1000-2000 ikat padi guna mencukupi kebutuhan konsumsi pangan satu keluarga selama setahun.

Setiap keluarga adat Kasepuhan diwajibkan menyimpan hasil panen padi di dalam leuit atau yang disebut tatali.

Apabila hasil panen dalam satu keluarga sebanyak lima puluh ikat padi, maka satu ikat diantaranya harus diserahkan.

Berlaku pula kelipatannya, jika panen sejumlah seratus ikat, maka dua diantaranya harus disimpan dalam lumbung padi.

Pun padi yang dihasilkan saat panen raya tidak diperjualbelikan oleh penduduk desa melainkan disimpan sebagian untuk kebutuhan sehari-hari dan perayaan adat.

Melalui sistem inilah lambat laun Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar dapat menyimpan cadangan makanan hingga puluhan tahun ke depan.

(Umi Jari Widayah)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Desa adat #sukabumi #jawa barat #cadangan pangan