RADAR MALIOBORO – Iran akhirnya membuka kembali peluang negosiasi dengan Amerika Serikat terkait program nuklirnya, namun dengan satu syarat mutlak: semua agresi terhadap Teheran harus dihentikan.
Situasi antara Iran, AS, dan Israel saat ini digambarkan sangat rapuh, dengan gencatan senjata tak resmi yang bisa berakhir kapan saja tanpa solusi diplomatik yang konkret.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan dengan tegas bahwa pemerintahnya bersedia kembali ke meja perundingan, asalkan ada jaminan kuat bahwa tidak akan ada lagi tindakan militer seperti yang terjadi bulan lalu.
"Pertama-tama, harus ada jaminan tegas bahwa tindakan seperti ini tidak akan terulang," kata Araghchi dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran pada Sabtu (12/7/2025).
Ia menambahkan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran telah mempersulit dan memperumit penyelesaian melalui negosiasi.
Pernyataan Araghchi ini merupakan peringatan jelas bagi Washington untuk menunjukkan niat baik jika ingin krisis ini berakhir secara damai.
Jika tidak, Teheran mengisyaratkan bahwa konflik dapat beralih dari meja perundingan ke medan perang.
Tuntutan Iran ini muncul setelah serangkaian insiden dramatis.
Pada 13 Juni lalu, Israel melancarkan serangan mendadak ke situs nuklir Iran, termasuk fasilitas strategis di Natanz dan beberapa lokasi peluncur rudal balistik.
Belum pulih dari serangan itu, giliran AS yang melakukan serangan udara pada 22 Juni.
Meskipun Pemerintah Trump mengklaim serangan tersebut berhasil "menghancurkan" program nuklir Iran dan kembali menyerukan agar Iran tidak diizinkan memiliki senjata nuklir, serangan tersebut gagal melumpuhkan program nuklir Iran sepenuhnya.
Di sisi lain, Iran terus menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai, dan pengayaan uranium mereka ditujukan untuk kebutuhan energi serta medis, bukan senjata.
Sebagai respons terhadap serangan AS, Iran segera membekukan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), badan pengawas nuklir PBB.
Konsekuensinya, para inspektur yang selama ini memantau aktivitas nuklir Iran terpaksa angkat kaki dari negara itu. (Oktavian Marionoven L)
Editor : Meitika Candra Lantiva