RADAR MALIOBORO - Penjarahan rumah anggota DPR RI, Ahmad Sahroni, di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada 30 Agustus 2025, ternyata memicu gelombang reaksi yang beragam di kalangan netizen di media sosial. Peristiwa yang menjadi viral dan trending topic ini menyedot ribuan komentar pengguna berbagai platform, khususnya X dan TikTok. Banyak netizen yang mendukung aksi massa karena melihat penjarahan sebagai bentuk protes atas pernyataan kontroversial Sahroni serta isu kenaikan tunjangan anggota DPR yang dianggap membebani rakyat.
Beberapa netizen menyampaikan simpati kepada para pendemo sekaligus mengingatkan agar aksi tidak berujung pada pembakaran rumah atau menyerang warga tak bersalah di sekitar lokasi. Mereka mengimbau agar barang-barang yang dijarah diambil dengan tertib tanpa menimbulkan kekacauan lebih besar. Ada pula yang berharap massa menahan diri dan memilih cara damai mengemukakan aspirasi supaya tidak menimbulkan kerugian besar pada lingkungan yang padat penduduk.
Dsisi lain, banyak netizen yang merasa prihatin dengan tindakan anarkis yang dilakukan massa tersebut. Mereka mengkritik keras perilaku penjarahan dan perusakan yang melewati batas kewajaran. Sebagian berpendapat bahwa kekerasan bukan solusi dalam mengekspresikan kekecewaan dan justru memperburuk citra demo damai yang sedang berlangsung.
Selain itu, muncul teori dan spekulasi dari netizen bahwa Sahroni sudah mengetahui kemungkinan rumahnya akan dijarah sehingga banyak barang berharganya sudah dipindahkan ke tempat lain yang lebih aman. Ada pula komentar yang menganggap rumah yang dijarah hanyalah ‘santapan’ kecil karena aset Sahroni yang sebenarnya tersimpan di lokasi lain. Teori ini memicu perdebatan antara yang mendukung dan yang skeptis terhadap sang legislator.
Reaksi netizen juga memperlihatkan pembahasan tersendiri soal barang-barang yang dijarah, seperti foto keluarga yang bernilai sentimental, koleksi anggur Betap, jam tangan mewah, serta mobil mewah yang rusak akibat perusakan. Netizen membandingkan antara kemarahan rakyat dengan besarnya kerugian materi yang diderita Sahroni, sehingga muncul pertanyaan tentang prioritas dan proporsionalitas aksi massa tersebut.
(Adessia Miftahullatifah)
(sumber : Berbagai sumber)