RADAR MALIOBORO – PT Gudang Garam kini menjadi sorotan publik setelah kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap sejumlah karyawannya mencuat. Isu ini viral di media sosial, melaporkan bahwa ribuan pekerja di pabrik rokok di Tuban, Jawa Timur, terkena dampaknya. Sebuah video yang memperlihatkan momen emosional para karyawan berseragam putih dan merah marun berlogo Gudang Garam telah beredar luas, menunjukkan suasana haru saat mereka saling berpelukan.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, memberikan tanggapan terhadap situasi ini. Ia menyatakan bahwa pihaknya sedang menyelidiki kebenaran informasi tersebut. "Kami baru mendapat kabar tentang PHK di PT Gudang Garam. Kami akan cek lebih lanjut," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 6 September 2025.
PT Gudang Garam, yang didirikan pada tahun 1958 oleh Surya Wonowidjojo, merupakan salah satu produsen rokok terkemuka di Indonesia, dikenal dengan produk rokok kretek seperti Gudang Garam International dan Surya. Namun, perusahaan ini menghadapi penurunan kinerja yang serius dalam beberapa tahun terakhir, yang memicu keputusan untuk melakukan PHK. Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk regulasi pemerintah yang semakin ketat terkait produk tembakau, perubahan perilaku konsumen yang lebih memperhatikan kesehatan, serta persaingan ketat dari industri rokok lainnya. Dalam konteks ekonomi yang lebih luas, inflasi dan penurunan daya beli masyarakat juga turut berkontribusi pada penurunan penjualan.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Juni 2025, laba bersih perusahaan yang terdaftar dengan kode saham GGRM ini mencatatkan angka Rp 980,8 miliar sepanjang 2024, merosot 81,57 persen dibandingkan Rp 5,32 triliun pada 2023. Selain itu, perusahaan juga mengurangi pembelian tembakau, termasuk menghentikan pembelian dari Temanggung sejak 2024, yang berlanjut di tahun 2025. Penurunan serap tembakau ini terkait erat dengan menurunnya penjualan rokok, di mana kenaikan tarif cukai menyebabkan harga rokok melonjak, sementara konsumen beralih ke produk yang lebih murah, termasuk rokok ilegal. Meski menghadapi berbagai tantangan, PT Gudang Garam tetap berkomitmen untuk mempertahankan posisinya di pasar yang kompetitif.
(Laeli Musfiroh)
Editor : Iwa Ikhwanudin