Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Tayub, Langkah Tradisi dalam Mbangun Desa Kanthi Rasa di Gantiwarno, Klaten

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 9 September 2025 | 01:03 WIB
Pertunjukan Tayub.
Pertunjukan Tayub.

RADAR MALIOBORO - Megah dan meriahnya pagelaran Tayub yang dilaksanakan di Lapangan Sentono, Desa Ngandong, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, (19/6/2025). Tayub diadakan rutin setiap tahunnya, sebagai bukti pelestarian budaya Jawa yang sekarang mulai hampir punah di tengah kalangan masyarakat. Tayub ini merupakan puncak dari serangkaian acara yang telah terlaksana. Dengan mengusung tema “Mbangun Desa Kanthi Rasa”, masyarakat Desa Ngandong menghadirkan berbagai pertunjukan budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sebagai pelestarian budaya warisan para leluhur.

Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, S.I.Kom., juga turut hadir dalam menyaksikan pagelaran Tayub tersebut. Panitia kegiatan, Elfan, mengungkapkan bahwa dalam pagelaran Tayub tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pagelaran Tayub tahun ini digelar dengan megah dan menarik perhatian masyarakat Desa Ngandong bahkan juga berbagai Desa di sekitarnya, sehingga masyarakat yang datang sangatlah membludak karena mereka sangatlah antusias akan pagelaran tersebut.

“Tujuannya adalah untuk merayakan pasca panen dan Bersih Desa Ngandong,” jelas Elfan, panitia kegiatan. Sebelum puncak kegiatan, sejak pagi hari sudah terlaksana berbagai serangkaian kegiatan seperti Penampilan Musik oleh Yuliono Singsot, Karawitan Ibu-ibu PKK Desa Ngandong, Penampilan Musik Dangdut, Pertunjukkan Seni Jathilan Lokananta, Iringiringan Penari, dan ditutup dengan Pagelaran Tayub sebagai puncak acara tersebut.

Iring-iringan yang dilakukan untuk mengiringi para penari dalam acara Tayub tersebut diberi nama Bergodo Mukti Manunggal. “Para anggota pengiring berjumlah 40an orang dengan berjalan memainkan alat musik seperti kencreng, kendang, kempul, suling, dan drum. Para pengiring juga menggunakan beberapa properti misalnya tombak, panah, keris, dan pedang.” Ungkap Tumiyem, salah satu anggota pengiring. Rangkaian dari acara iringan tersebut juga meliputi sedekah bumi dan sesuci rogo, yang dilakukan tepat sebelum puncak acara yaitu pagelaran Tayub dilaksanakan.

Seni Tayub memang sudah menjadi ciri khas Desa Ngandong, pasti dilaksanakan rutin setiap tahunnya. Masyarakat pun selalu antusias dalam menyambut serangkaian kegiatan tersebut. Ristanto, salah seorang penonton Tayub mengatakan, “Saya sangat tertarik menonton karena orang jawa suka dengan tari-tarian termasuk juga pagelaran Tayub sebagai tradisi jawa yang hampir punah, sehingga saya sangat antusias untuk menonton dan melestarikan kebudayaan yang sudah diwarisakan oleh para leluhur kita”.

Dengan pagelaran yang makin megah dan meriah dari tahun ke tahun, membuat masyarakat berharap tradisi Tayub di Desa Ngandong tetap berlanjut. “Harapan saya, seni pagelaran Tayub bisa dilaksanakan seperti tahun ini, bahkan lebih megah dan meriah lagi ditahun berikutnya,” Tegas Elfan, panitia kegiatan. Semoga seni Tayub tetap bertumbuh dan memiliki ruang dihati para masyarakat Jawa bukan hanya dari masa lalu, tetapi juga sebuah kebudayaan warisan leluhur yang membentuk identitas masyarakat Jawa hari ini dan di masa depan.

(Hanifah Okta Romadhoni)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#klaten #pelestarian budaya #Tayub