RADAR MALIOBORO – Pencopotan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan pada perombakan kabinet yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan publik, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Keputusan ini memicu berbagai reaksi, mulai dari kegelisahan di pasar saham hingga spekulasi tentang masa depan ekonomi Indonesia. Dikenal sebagai sosok yang kompeten dan dihormati secara global, peran Sri Mulyani sebagai bendahara negara selama hampir satu dekade telah membentuk stabilitas ekonomi dan kebijakan fiskal yang prudent. Oleh karena itu, kabar perombakan ini bukan hanya sekadar pergantian pejabat, melainkan sebuah babak baru yang menimbulkan banyak pertanyaan.
Reaksi pasar terhadap kabar ini sangat cepat dan dramatis. Begitu kabar pencopotan Sri Mulyani tersebar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung anjlok. Para analis ekonomi menilai ini sebagai respons wajar. Selama menjabat, Sri Mulyani adalah figur yang dipercaya pasar, baik domestik maupun asing, karena kebijakan fiskalnya yang hati hati. Kepergiannya menimbulkan ketidakpastian, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Investor khawatir tentang bagaimana tim ekonomi baru akan mengelola anggaran dan utang negara tanpa kehadiran figur sekuat Sri Mulyani.
Pencopotan Sri Mulyani juga menjadi perhatian media internasional. Publikasi terkemuka seperti Bloomberg dan The Straits Times melaporkan kabar ini, menyoroti pentingnya peran Sri Mulyani di mata dunia. Ia bukan hanya seorang menteri, melainkan simbol kredibilitas dan kehati-hatian fiskal bagi banyak negara. Kepergiannya pun menjadi trending topic di media sosial, memicu spekulasi tentang alasan di baliknya. Meskipun Istana menyatakan ini adalah hak prerogatif presiden, publik tetap bertanya tanya apakah ia dicopot atau mengundurkan diri.
Sebagai pengganti, Presiden menunjuk Purbya Yudhi Sadewa, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS). Purbya Yudhi Sadewa, dikenal berpengalaman di sektor pasar modal, kini mengemban tugas berat. Ia tidak hanya harus melanjutkan kebijakan yang sudah ada, tetapi juga membangun kembali kepercayaan pasar yang sempat goyah. Prioritas utamanya adalah menunjukkan kepemimpinan yang kuat, mengelola ruang fiskal secara optimal, dan memastikan transisi berjalan mulus tanpa mengganggu stabilitas ekonomi yang sudah dibangun. Pergantian ini menandai babak baru, dimana kestabilan yang telah dijaga kini diuji, dan arah perekonomian akan sangat bergantung pada langkah langkah yang diambil oleh kepemimpinan baru.
(Adessia Miftahullatifah)
Editor : Iwa Ikhwanudin