RADAR MALIOBORO – Tradisi “Rasulan” yang kaya nilai kebudayaan masih terus berkembang di Gunungkidul, menjadi simbol syukur masyarakat terhadap hasil pertanian. Tradisi rasulan ini merupakan salah satu bentuk budaya lokal yang sudah berlangsung secara turun-temurun. Rasulan sendiri merupakan sebuah bentuk ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang melimpah, tradisi ini diadakan satu kali dalam setahun setelah musim panen dengan waktu yang tak tentu.
Sebelum tradisi rasulan dilakukan, biasanya masyarakat akan bergotong royong untuk membersihkan lingkungan sekitar tempat tradisi dilaksanakana. Kegiatan gotong royong ini bertujuan untuk membersihkan tempat pelaksanaan Rasulan. “Kami ingin menciptakan suasana yang lebih khidmat,” jelas Joko, salah seorang tokoh masyarakat.
Setelah gotong royong selesai, seminggu kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan kirab atau karnaval dalam bentuk arak-arakan. “Masyarakat mengelilingi desa dengan membawa tumpeng dan hasil panen mereka, seperti padi, sayuran, dan lainnya,” ungkap Surani, seorang masyarakat yang juga ikut andil dalam acara kirab tersebut.
Setelah pelaksanaan kirab selesai, masyarakat menuju ke tempat tradisi Rasulan berlangsung dengan membawa nasi dan ingkung (ayam utuh) untuk melakukan doa bersama dengan mendoakan para leluhur, kegiatan ini disebut tradisi nyadran. Setelah selesainya berdoa, masyarakat sekitar mulai membagikan bungkusan yang berisi nasi ingkung dan menyantapnya bersama-sama dengan menggunakan daun pisang sebagai alas pengganti piring.
Pada hari yang sama, acara ini dimeriahkan juga dengan adanya seni pertunjukkan, salah satunya yaitu pertunjukan Jathilan, masyarakat sangatlah antusias dalam melihat pertunjukan ini.
“Dengan mengikuti tradisi Rasulan, merupakan salah satu cara warga dusun kami dalam menghormati dan mengenang tradisi yang sudah diturunkan oleh nenek moyang,” kata Joko, salah seorang tokoh masyakarat.
Malam harinya acara ditutup dengan menampilkan kesenian wayang kulit semalam suntuk. Pertunjukan ini disaksikan oleh seluruh warga masyarakat setempat dan juga penonton dari luar daerah. Biasanya masyarakat akan memberikan sumbangan sukarela untuk menangggung biaya pertunjukan wayang kulit ini, selain dibantu oleh pemerintah.
“Semua bentuk sumbangan ini kami lakukan dengan sukarela dan dengan senang hati, kami yakin bahwa apapun yang dikeluarkan dengan ikhlas akan mendapatkan ganti dan keberkahan yang lebih banyak dari Allah Swt,” ungkap Rahmat , salah seorang tokoh masyarakat.
Baca Juga: Adolescence Sapu Emmy Awards 2025, Owen Cooper Cetak Rekor Aktor Termuda Peraih Emmy
Dengan dukungan atas rasa kepedulian masyarakat terhadap tradisi Rasulan ini, tradisi Rasulan akan tetap ada dan menjadi pengingat akan pentingnya rasa syukur dan rasa kebersamaan. Dengan acara ini, masyarakat Gunungkidul ingin menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi sumber kekuatan dan identitas yang tak ternilai.
(Hanifah Okta Romadhoni)
Editor : Iwa Ikhwanudin